Tuesday, 3 June 2014

Antara Pasar Senin, ‘Tanah Surga’ dan Cabe Jamu


=Desa Ketawang Karay, Kec. Ganding, Kab. Sumenep
            Letak geografis Desa Ketawang Karay, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, memberi anugerah bagi masyarakatnya. Ketinggian tanah yang hanya 90 m DPL (di atas permukaan laut) membuat 75 persen atau hampir seluruh lahan pertanian dari luas desa 657.73 Ha, memperoleh irigasi cukup. Dua sungai yang melintasi desa hampir tak pernah kering.
            Lima dusun yakni Dusun Naga, Dusun Korca, Dusun Sobuk, Dusun Angsana, dan Dusun Mandala, tidak pernah sekalipun mengalami kekeringan. Pertanian seakan tak ada putusnya, sehingga bercocok tanam menjadi sumber utama penghasilan para warga.
            Tanah yang tak pernah kering ini membuat tanaman tumbuh subur. Petani tidak melulu fokus pada tembakau yang menjadi favorit mayoritas petani di Madura. Mereka beralih ke tanaman lain yang tidak kalah mudah proses penanaman dan pemeliharannya tetapi juga harganya jauh lebih menguntungkan ketimbang tembakau.

            Di musim penghujan, padi menjadi tanaman yang paling banyak ditemui di desa ini. Karena lahan pertanian desa hampir seluruhnya terdiri dari persawahan yang sangat cocok ditanami padi. Bahkan, tiap tahunnya petani Ketawang Karay bisa memanen padi lebih dari sekali.
            “Tanahnya ‘kan tanah sawah dan dekat sungai, jadi irigasinya mudah. Sungai-sungainya tidak pernah kering. Apalagi Sungai Kotak yang ada di Dusun Mandala. Meski musim kemarau airnya tetap mengalir. Jadi sawah di sekitarnya tidak kering,” kata Hairuddin, Kades Ketawang Karay.
            Ia menambahkan, selain padi, petani Ketawang Karay juga menanam tanaman lain seperti kelapa kopyor, dan cabe jamu. Bahkan dulu, banyaknya hasil panen kelapa Ketawang Karay membuat salah satu penduduk desa membuat industri minyak kelapa. Namun karena banyaknya minyak kelapa yang datang dari luar desa dan kualitasnya lebih baik, industri rumahan itu gulung tikar.
            Selain itu, cabe jamu juga menjadi hasil tani kedua paling menguntungkan. Tanaman yang oleh masyarakat Madura disebut ‘cabbi alas’ ini terbukti sangat menghasilkan. Betapa tidak, harga jual cabe alas yang baru panen setidaknya Rp 100 ribu per-kilo.
            “Dusun Sobuk dan Mandala penghasil cabe jamu terbanyak di desa ini. Masyarakat banyak yang mengambil keuntungan dari jual beli cabe jamu. Apalagi proses menanamnya mudah,” ujar Hairuddin.

            Ia bersyukur karena lahan pertanian yang cukup luas di desanya dibarengi dengan irigasi yang cukup. Bahkan tak jarang di antara  warganya bisa kaya lantaran jadi petani. “Banyak warga saya yang membangun rumah bagus dari hasil tani. Alhamdulillah, ini hasil dari tanah kami yang subur,” kata dia.

Pasar Buka Tiap Hari
            Desa Ketawang Karay, juga memiliki Pasar Senin. Mirip Pasar Senin Jakarta. Bedanya, Pasar Senin Jakarta berada di antara gedung-gedung menjulang, sedangkan Pasar Senin Ketawang Karay, di antara perkampungan. Pedagang dan pembeli lalu-lalang di badan jalan, membuat lalu lintas di sekitarnya tersendat bahkan kadang tak bergerak.
            Pasar Ganding tak seperti biasanya pasar kebanyakan di desa-desa Sumenep, yang kadang hanya buka sehari dalam seminggu, bahkan terkadang setengah hari. Pasar Ganding selalu buka tiap hari dalam seminggu. Diberi nama Pasar Senin karena awalnya menurut warga sekitar, pasar ini hanya buka di hari Senin.
            Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat, Pasar Senin tidak hanya hadir di hari Senin, tapi setiap hari. Pasar Senin tidak hanya jadi tempat berbelanja warga Ketawang Karay dan Kecamatan Ganding, namun orang-orang dari luar, seperti desa-desa di Kecamatan Guluk-Guluk dan Kecamatan Pasongsongan, ikut nimbrung di sana.
            Apalagi letaknya juga strategis, berdekatan dengan desa-desa di Kecamatan Guluk-Guluk dan Pasongsongan. “Keberadaan Pasar Ganding membuat ekonomi masyarakat terkerek. Terutama yang ada di sekitar pasar,” ujar Hairuddin, Kades Ketawang Karay. 
Berkat Pasar Senin, Desa Makin Beken
            Kini, dari segi bangunan, kondisi Ketawang Karay, terutama Dusun Naga yang paling dekat dengan Pasar Ganding, sudah bagus dan tak ada satu pun rumah tidak layak huni. “Masyarakat sekitar pasar, ekonominya bisa dibilang menengah ke atas. Tak hanya rumah, kendaraan mereka pun bagus-bagus,” lanjut Hairuddin.
            Hairuddin menyatakan, meski Pasar Ganding, yang merupakan pasar kecamatan dan hasil keuangan dari karcis atau sewa kios tak sepeser pun masuk kas desa, ia tetap senang karena keberadaannya membantu Desa Ketawang Karay. “Ya paling tidak, warga desa saya ambil keuntungan dari pasar itu,” ujarnya.
            Malah ada sementara masyarakat menjuluki Ketawang Karay sebagai ‘ibukota’ Kecamatan Ganding. Betapa tidak, Ketawang Karay menjadi pusat kehidupan masyarakat di sana. Tidak hanya warga Kecamatan Ganding, namun juga masyarakat desa di Kecamatan Guluk-Guluk dan Pasongsongan, seperti Desa Prancak, Campaka, Bragung dan lainnya.
            Layaknya sebuah kota kecamatan, berbagai fasilitas dan pelayanan ada di sana, mulai pelayanan kesehatan atau Puskesmas, dengan fasilitas lengkap. Tak hanya Puskesmas, dokter yang buka praktik di rumahnya pun ada di sana. Malah, apotik sudah ada di Ketawang Karay.
            Jauhari, warga Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, yang berobat di salah satu dokter di Ketawang Karay, menyatakan, sebenarnya di sekitar rumahnya ada Puskesmas. Namun dia rela menempuh jarak sekitar 30 kilometer, sebab menurutnya di Ketawang Karay fasilitas kesehatannya lebih lengkap. “Ketawang Karay itu seperti kota tapi adanya di desa,” kata Jauhari dengan logat Madura yang kental.
            Tempat hiburan untuk anak-anak pun ada di Desa Ketawang Karay. Sebut saja odong-odong. Permainan favorit anak-anak ini bisa ditemui di Ketawang Karay. “Semakin hari, desa ini semakin ramai. Banyak orang yang membuka bisnisnya di sini. Memang mereka tak dipungut dana untuk desa, tapi paling tidak ini salah satu langkah perbaikan dan pembangunan ekonomi desa,” kata Hairuddin, Kades Ketawang Karaya.
            Ia mengatakan, sekitar 50 persen warganya, yang berjumlah 4.303 jiwa, menggantungkan kehidupan dan perekonomian di Pasar Ganding. Lahan bisnis mereka pun beragam, ada yang membuka toko kelontong dan kebutuhan sehari-hari, berjualan baju, kios handphone, hingga jual daging sapi. (mtn)

Data Desa
Kepala Desa             : Hairuddin
Sekretaris Desa       : M Darus Salam
Ketua BPD                : Ach. Jufri
Jumlah Penduduk  : 4.303 Jiwa
Luas Desa                 : 657.63 Ha
Batas desa
            Utara             : Desa Campaka, Kec. Pasongsongan
            Timur             : Desa Gadu Barat, Kec. Ganding
            Selatan          : Desa Guluk-Guluk, Kec. Guluk-Guluk
            Barat              : Desa Bragung, Kec. Guluk-Guluk
                        
Tulisan ini dimuat di Majalah DERAP DESA Edisi 80 Juni 2014


1 comments:

yudi yudeng said...

Saya mencari cabe jamu qualitas eksport... jika ada barang hubungi saya di nomor Yudi +6285288956180