Saturday, 31 October 2009

DI KOTA PAHLAWAN

Langit begitu cepat berubah
mentari yang riang menyambut pagi
kini telah tak sadarkan diri dengan muka pucat

Benar-benar tak pernah kubayangkan
kota yang kemaren sore masih kuanggap
kota pahlawan ternyata sebuah kota
berpenghuni makhluk-makhluk tak bermuka
yang tak pernah belajar melukis senyum

Di kota ini, tak sekejap pun embun memelukku
meski terkadang malam begitu senang menyambutnya
bintanpun tak pernah mengunjungiku
meski sudah berkali-kali kukirimkan surat padanya
hanya angin dengan muka masam dan berbau alkohol
terus menghampiriku

Di kota ini, dengan bertubuh keringat
kutapakkan kaki, kupejamkan mata
demi menunggu datangnya firman Tuhan
yang kan Jibril bawa untukku subuh nanti

Oktober 2009


Saturday, 10 October 2009

DIARY BIRU

I
Aku masih tetap di sini,
di sebuah jalan becek penuh cerita
menunggu datangnya seorang wanita berwajah matahari
sambil membaca kembali selembar kertas
yang kuselipkan di diary biruku

Meski senja telah memeluk langit
dan petir terus bernyanyi

II
Aku akan tetap di sini menunggunya
sambil terus bernyanyi dan menulis sejuta puisi
di diary kusam ini

Meski aku tahu wanita itu tak mungkin datang
karena dia telah bersanding
dengan seorang pangeran buruk rupa
dan mengucap janji suci bersamanya

Karena bagiku, tetap di sini
aku bisa merampungkan tujuh kitab puisi
yang akan kupersembahkan pada sang surya paras
lima ada lagi
di firdaus dunia
;aku akan memetik buah-buah mimpi di sana

September 2009


Monday, 31 August 2009

Diary Senin, 31 Agustus 2009

Hidup di sebuah kota besar memang tak semudah yang aku kira. lebih-lebih kota Surabaya, belum satu bulan aku hidup di Surabayatapi aku sudah tidak kerasan. apalagi kalau mengingat kuliah yang sudah mau masuk sejak besok. Sebenarnya, itu bukan masalah, yang menjadi masalah adalah besok adalah hari pertama dan aku masih belum kenal satupun teman satu kelasku, cuapeekk dech... terlebih lagi besok kalau menurut jadwal masuk sampai jam 14.30, duh jadi pusing...
Pokoknya hari ini aku merasa tidak kerasan, padahal ketika aku mau berangkat aku sudah bertekat untuk semangat kuliah di IAIN Sunan Ampel, tapi... ya Allah tolong berikan aku kekuatan untuk bisa melewati hari-hariku di Surabaya.


Wednesday, 17 June 2009

Lepas Pisah Siswa Kelas Akhir SLTA Annuqayah




Guluk-Guluk – Selasa pagi (16/6) pengurus PPA Annuqayah mengadakan acara Lepas Pisah Siswa-Siswi Kelas Akhir SLTA Annuqayah. Acara tersebut dilaksanakan di Aula As-Syaraqawi PP Annuqayah.
Menurut K. Alawi Thaha, Ketua IV Pengurus PP Annuqayah yang menjadi penanggung jawab acara tersebut menuturkan bahwa acara tersebut dilaksanakan untuk mempersatukan seluruh siswa-siswi SLTA se-Annuqayah segaligus untuk mempererat rasa persaudaraan. “Annuqayah itu satu. Jadi, tak ada perbedaan, persaudaraan pun harus dipererat,” tuturnya.
Acara yang dihelat sesederhana dan sesakral mungkin tersebut diisi dengan pembacaan ayat-ayat Al Quran, sambutan ketua pengurus PPA, tausiyah dari Pengasuh, istighasah yang kemudian diakhiri dengan salam sungkem siswa-siswi kepada seluruh jajaran pengasuh dan dewan guru.
Dalam sambutannya, ketua Pengurus PP Annuqayah, K. A. Hanif Hasan menyampaikan agar semua siswa-siswi yang telah lulus UN untuk tidak terlalu bergembira dan berbangga karena menurut beliau masih ada ujian yang lebih berat lagi. “Ujian tersebut adalah UAS, yaitu ujian amaliah sehari-hari. Dalam ujian inilah banyak yang tidak lulus karena ujian ini tidak hanya mengandalkan kepintaraan saja tapi juga mengandalkan aklaq, kesabaran dan ketabahan,” kata K. Hanif.
Tak jauh berbeda dengan pendapat K. Hanif, Ketua Dewan Pengasuh PP Annuqayah, K. Ahmad Basyir AS dalam tausiyah yang diberikan pada seluruh siswa-siswi. Beliau menjelaskan meskipun dalam UN para siswa berhasil lulus dengan nilai yang bagus, belum tentu saat terjun di dalam kehidupan masyarakat, saat menyebarkan ilmu-ilmu Allah juga akan berhasil tanpa didasari dengan aklaq yang baik dan kesabaran. “Karena aklaq merupakan hal yang paling penting dan kunci untuk meraih kesuksesan dalam menyebarkan ilmu-ilmu Allah,” papar beliah.
Acara yang bermoto “Sederhana dan Sakral” ini dihadir oleh 576 siswa dan siswi dari seluruh SLTA PP Annuqayah.
Melihat jumlah siswa yang hadir 90 % dari jumlah, Syamsul Arifin, selaku ketua paniti acara tersebut merasa gembira pasalnya dia merasa kerja keras selama satu bulan tidak sia-sia. “Jumlah ini (siswa-siswi yang hadir,Red) merupakan bayaran yang setimpal atas kerja keras panitia,” ungkapnya. Lulusan MA 1 Annuqayah tahun 2009 ini juga mengharap agar semua siswa-siswi untuk tidak melupakan Annuqayah. “Karena Annuqayah sudah sangat banyak jasanya bagi teman-teman. Jadi, saya harap jangan pernah lupakan Annuqayah,” lanjutnya.


Wednesday, 20 May 2009

PUISI SEBELUM TIDUR

Waktu mendaki puncak malam begitu jauh
Meninggalkan udara beku
Dan sepi yang amat erat mendekap
Sendang unggun yang kunyalakan
Dengan reranting cemara pantaimu
Tak kunjung hangat

Bintang dan rembulan
Terlelap seja senja lalu
Mereka kelelahan temaniku yang tak bosan
Bercerita tentang kepakan sayapmu
Dan denting dawai biola birumu
Yang kau mainkan tiap subuh untukku

Segelas Vodka yang kudapat
Dari negeri matahari
Tak mampu tuk hangatkan darahku
Sedang mendung di kelopak mata
Kian menebal menutup pandangku

Mungkin inilah saatnya
Kurebahkan tubuh ini di pangkuan bumi
Melepas seluruh penat yang menumpuk di kepala
Menikmati tidur panjang tak burujung
Dan melukis pelangi wajahmu di langit mimpi

Namun, sebelum aku benar-benar tertidur
Ku mohon padamu, simpanlah seikat puisi
Yang kukirim kemarin pagi
Karena hanya dengan puisi itu
Aku bisa memanggil dan menyapamu

Mei 2009


Saturday, 9 May 2009

MENUJU RUMAH ABADI

Temaram senja telah pergi
Menyisakan sepi yang mengental
Di dasar kalbu

Angin sepoi berganti badai
Yang berduet dengan petir beribu votl
Mengguncang bumi renta
Mengusir rembulan dan bintang
Dari pangukuan langit

Malam ini, beribu tentara Azrail
Mengitari bumi dengan wajah suram
Membuat burung-burung tak bernyanyi
Dan pepohonan tak menari

Akhirnya, tibalah waktu aku harus pergi
Meninggalkan riak sungai yang menyejukkan
Dan pantai Slopeng dengan sejuta pasir

Nia, peliharlah awan merah muda
Yang kuikat di belakang gubukku
Dan biola dengan lukisan pelangi di dawainya
Agar bila nanti kau mengingatku kembali
Aku akan menyapamu lewat dawai biola itu
Dan akan kukirim hujan dengan awan itu
Dari rumah abadi

Mei 2009


Thursday, 23 April 2009

SEBUAH STASIUN DAN KERETA KEMATIAN

Sepi menyeret langkahku yang beku
Dan berselimut luka ke peron yang renta ini

Matahari terlelap di pangkuan langit
Ia kelelahan temaniku seharian
Menunggu kereta yang kau janjikan
Akan mengantarku ke kotamu

Di stasiun ini, sunyi tak pernah tidur
Tak ada lagi penumpang menunggu
Gemericit roda kereta
Sambil duduk di bangku berlumut
Hanya penikmat malam yang tak henti
Menjajahkan hidangan hangat tubuhnya
Yang tetap ramaikan peron ini

Di stasiun ini, ditemani secangkir kopi
Yang tinggal ampas, aku menunggu
Kereta yang kau katakan berwarna putih
Dan di dalamnya berjuta peri

Waktu mendaki puncak malam
Para satpam mengatupkan mata
Saat itu kereta dengan bunyi yang menusuk
Telinga datang, namun warnanya bukan putih
Melainkan hitam dengan bau dupa yang menyengat

“Inilah kereta yang akan menjumputmu
;kereta kematian” kata Azrail
Sambil menepuk pundakku

April 2009