Wednesday, 15 April 2009

TRILOGI RINDU

TRILOGI RINDU

I
Semisal ampas kopi
Yang mengental di dasar gelas
Bayangmu melekat tak terhapus

Baru kemarin sore kau kirimkan untukku
Kartu selamat ulang tahun
Yang di pojok atasnya setempel bibirmu
Tapi dahaga pada air mukamu
Kembali menusuk kerongkongan

II
Di sini badai masih belum beranjak
Melucuti kulit, hanya tulang tersisa
Ku berharap kau bersamaku
Menyelimuti luka dengan sayap malaikatmu

III
Andai malam ini kau bisa melihat diriku
Aku yakin kau akan kirimkan cahaya purnama
Hapus sedih, bunuh sunyi
Lalu aku akan bersemedi
Dan memeluk prasasti bayangmu
Meski api, tanah, air dan petir bisu padaku

April 2009


Friday, 10 April 2009

KOTA KETUJUH BELAS

Waktu telah terlampau jauh berlari
Tak terkejar
Sedang diriku tertatih, menyusun kembali serpihan rindu
Yang pecah disambar petir

Hari ini aku tiba di kota ketujuh belas
Tak ada yang beda di sini
Hanya sepi mencoba tuk setubuhi
Membuatku tak bisa bernapas

Sejenak kulepaskan lelah, membuang asap bosan
Yang menyelimuti

Di kota ini, ingin sekali kuakhiri perjalanan ini
Sebab kabut mulai menutup pandangku
Tapi lamunku membawaku ke ucapmu tentang malaikat
Membangkitkan seluruh hasratku
Tuk temukan seluruh mozaik hidupku
Yang ada pada hidupmu

Di kota ini akhirnya kuputuskan
Aku takkan kembali ke rumah Tuhan
Sebelum kutemukan kunci hatimu

April 2009


Saturday, 4 April 2009

HARI YANG DITUNGGU

akhirnya tibalah yang aku nantikan. hari ulang tahun. semua yang kuharapkan akhirnya tercapai. terutama surat dari angel. ternyat dia ingat ultahku. alhamdulillah.


Wednesday, 1 April 2009

MENDUNG DAN PELANGI

Aku tak mengerti apa maksud semua ini
Tiap kali mawar di taman kalbu
Berputik, mendung tutupi mata
Dan petir bernyanyi mengutukku

Mungkin Tuhan telah menulis berjuta
Huruf runcing di kitab hidupku
Hingga air mata terus bergelombang
Membanjiri, memporakporandakan bangunan nurani

Sudah satu abad matahari tak menemuiku
Purnama pun tak lagi terangi gelap imaji
Aku rindu senyum dan canda mereka
Tapi mengapa mereka tak lagi mengirim salam
Marahkah,
Bencikah?
Atau mereka telah tiada?
Aku tak tahu,
Sebab terlalu banyak sekenario yang harus aku jalani

Namun yang aku tahu dari semua itu
Setiap ada mendung hujan akan turun
Dan pelangi pasti mengikuti

Maret 2009


Monday, 30 March 2009

BALADA SANG PEMIMPI

Setelah mimpi yang kuletakkan di langit
Sewindu lalu jatuh
Sepi memukulku, meremukkan tulangku

Setelah semua itu terjadi tak ada yang bisa
Aku lakukan, menulis puisi pun aku tak mampu
Sedang dahaga akan segelas air wajahmu
Menekan leher

Andai saja aku tak menyelam
Di laut bayangmu
Mungikin Tuhan telah memberiku sayap
Dan aku terbang bersama burung

Tapi semua itu telah terjadi
Berkeluh kesah dan menangis pun tak ada guna
Kau tetap jadi bidadari yang tak menyapaku
Dan aku binatang bawah samudra

Lalu dengan segelas Vodka dari langit
Kuhilangkan seluruh insomnia
Agar aku bias tertidur bersama bumi
Untuk selamanya

Maret 2009


Monday, 23 March 2009

CATATAN HIDUP BULAN INI

Bulan ini dua pintu yang mestinya bisa aku masuki terxata tertutup dengan tiba-tiba. Aku tak tahu apa itu karena kebodohanku atau bukan yang jelas aku berharap salah satu pintu itu bisa terbuka untukku suatu saat nanti.
Dan ada beberapa tokoh yang aku suka yang namanya sama dengan orang yang aku benci, yang telah membuat salah satu pintu yang aku tuju itu tertutup. Salah tokoh itu adalah kiper utama AS ROMA.


Friday, 20 March 2009

NARSISME SEBELUM KEMATIAN

Andai aku bisa meminta waktu
Untuk tidak berlari
Aku yakin luka ini takkan kurasa
Dan dirimu takkan tergoda oleh iblis itu

Kulalui malam-malamku
Bersama angin bisu dan langit murung
Tak ada lagi cerita dan puisi
Tentang Adam Hawa atau Layla Majnun
Yang selalu kau bacakan untukku

Di kota ini, sepi menyelimutiku
Suara dedaunan pergi bersama senja
Sedang tubuhku beku tanpa segelas susu katamu

Mungkin terlalu banyak kulukis mimpi
Hingga aku tak bisa bangun dari tidur
Pagi tadi, dan tak satu pun langkah yang bisa kutempuh

Sekarang Azrail di dekatku
Tuhan mengutusnya tuk menjemputku
Aku berharap saat kau kembali nanti
Saat kau membaca surat yang kutitipkan
Pada bintang-bintang
Kau menangis untukku
Dan aku akan tenang di rumah abadiku

Maret 2009