Tuesday, 3 June 2014

Desa ‘Seribu Genteng’


=Desa Tlambah, Karang Penang, Sampang

            Di beberapa wilayah memiliki julukan masing-masing. Pacitan, misalnya, dengan sebutan Kota Seribu Gua, Banjarmasin dengan Kota Seribu Sungai dan beberapa lainnya. Nah, yang ini beda. Adalah Desa Tlambah, Kecamatan Karang Penang, Kabupaten Sampang, yang dijuluki ‘Desa Seribu Genteng’.

            Berjarak sekitar 25 km dari kota Sampang, Desa Tlambah yang terletak di area dataran tinggi berbukit berada di ujung timur Kabupaten Sampang dan berbatasan dengan Kabupaten Pamekasan. Memasuki wilayah tersebut, seketika pemandangan berubah merah bata. Hampir di setiap sudut desa dipenuhi jejeran genteng, baik yang sudah siap dipasarkan atau yang masih dalam proses produksi dan pematangan.
            Desa Tlambah merupakan desa produsen genteng terbesar di Madura. Berbeda dengan wilayah lainnya di Pulau Madura, Karang Penang, khususnya Desa Tlambah, memiliki struktur tanah yang istimewa. Umumnya tanah di daerah tersebut merupakan tanah liat berkualitas baik. Terutama bila dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan genteng, sehingga menghasilkan produk yang tidak mudah retak bila diproses dalam tungku pembakaran.
            Tak heran bila sebagian besar warga desa ini menggeluti usaha pembuatan genteng tanah liat. Bahan baku alami yang mereka miliki dijadikan satu kekayaan yang tak dapat ditukar dengan apa pun. Hanya berbekal keterampilan mengolah bahan baku tersebut, warga Tlambah mampu bertahan hidup. Bahkan tidak sedikit tergolong hidup berkecukupan.
            Ya, setiap orang yang melihat tumpukan tanah liat di samping rumah akan mengira sebagai tanah yang tak bernilai. Tapi tidak untuk masyarakat Desa Tlambah. Bagi mereka tanah liat adalah tanah emas. Zahir, misalnya, dengan bermodalkan tanah liat di pekarangannya, ia mampu memasarkan produk gentengnya ke seluruh Madura, Jawa bahkan luar Jawa.
            Biasanya sekali kirim pesanan, Zahir mampu memenuhi permintaan hingga 10 ribu hingga 20 ribu keping genteng. “Saya melanjutkan usaha bapak yang sudah wafat dua tahun lalu. Karena ini sudah menjadi sumber penghasilan keluarga, jadi mau tidak mau harus tetap jalan,” ujar Zahir.
            Lebih lanjut, Zahir bercerita, bapaknya, Abdul Sa’ie, malang melintang di dunia produksi genteng. Sebelum membangun usaha sendiri, bapaknya menjadi kuli di salah satu pabrik genteng milik tetangganya. Karena merasa sudah cukup memiliki modal, Sa’ie pun merintis usaha sendiri yang kemudian menjadi sumber penghasilan bagi keluarga besarnya.
            Tak hanya bapaknya, Zahir menuturkan, banyak keluarga yang lain terjun ke bisnis genteng. Salah satunya adalah Saladin, pamannya. Saladin memang tidak menjadi produsen genteng seperti kakaknya, tetapi ia menjadi pengepul yang mendistribusikan genteng hasil produksi saudara dan tetangganya ke berbagai tempat di Madura dan Pulau Jawa.
            Zahir dan Saladin adalah salah satu contoh. Bahkan hampir seluruh masyarakat Desa Tlambah menggantungkan kehidupan pada usaha genteng. Tercatat dari sekitar 9.000 jumlah penduduk, lebih dari 60 persen menggeluti bisnis jual beli genteng. Tidak melulu menjadi produsen, ada juga yang jadi pengepul, kuli, atau bahkan supir truk yang notabene menjadi satu-satunya pengangkut genteng.
            Berbeda dengan produk lokal lainnya, genteng Karang Penang tak lagi dipusingkan pemasaran. Sebab sejumlah pemilik industri genteng mengakui sudah mampu menembus areal pemasaran sampai luar kota. “Seperti ke Banyuwangi, Solo dan Probolinggo,” kata H Syamsul, warga Karang Penang, yang juga mengandalkan industri pembuatan genteng sebagai penopang hidup keluarganya. 
            Namun begitu, mereka juga masih perlu mempelajari trik dan teknik pemasaran yang lain. Terbukti kini mereka tidak hanya memikirkan bagaimana cara menghasilkan, tapi juga mulai memikirkan tentang teknik perbaikan kualitas. “Saya senang bila ada pihak yang bersedia memberi tambahan pengetahuan. Utamanya tentang teknik kemajuan kualitas,” harap H Syamsul, mewakili warga lainnya.

            Apa yang dikatakan sebagain besar warga sangat beralasan. Terlebih bila mengingat kemasan dan tampilan produk daerah lain sudah mulai bercorak warna dibanding produk lokal. “Makanya kita juga ingin bersaing,” ujar mereka serentak. 
 Tanah Liat Bagus, Keramik Pun Oke
            Struktur tanah liat yang terkandung di daerah Karang Penang merupakan anugerah bagi warga, sebagai bahan baku pembuatan genteng. Bahkan, tanah lempung di daerah itu sebenarnya dapat dikembangkan menjadi kerajinan gerabah yang tak kalah dengan daerah Kasongan, Jogjakarta.
            Namun, seiring maraknya genteng pres yang lebih modern dan banyak diminati pembeli, permintaan genteng Karang Penang cenderung menurun. Projek pembangunan gedung yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Sampang pun tak berpengaruh terhadap meningkatnya permintaan genteng tradisional tersebut.
            Sedangkan upaya pemerintah kabupaten mengalihkan usaha kerajinan genteng menjadi kerajinan keramik sangat sulit dilakukan. Pola pikir warga yang masih enggan beralih menjadi perajin gerabah menjadi kendala bagi pemerintah untuk memberikan pembinaan.
            “Dari Dinas Perindustrian Sampang sebenarnya dulu pernah bilang, tanah liat di Kecamatan Karang Penang itu tidak hanya bisa dijadikan genteng, tapi bisa dikembangkan menjadi keramik yang sangat prospektif,” kata H Fauzi, salah seorang perajin genteng Karang Penang.
            Ia mengakui, dalam beberapa tahun terakhir permintaan pasar semakin sepi. Namun, untuk mengajak perajin genteng beralih sebagai perajin keramik tidaklah mudah, karena kerajinan genteng itu sudah turun temurun dari leluhurnya. Kerajinan genteng tidak sekadar sebagai sumber penghasilan, tapi sudah menjadi tradisi keluarga.
            “Harga genteng Karang Penang sebenarnya jauh lebih murah dibandingkan genteng pabrikan. Namun, pembeli lebih suka genteng pabrikan sehingga dikhawatirkan banyak perajin genteng tradisional gulung tikar karena usahanya sepi,” kata Fauzi.
            Biaya produksi yang sangat tinggi, menurut dia, membuat nasib para perajin genteng semakin terpuruk. Ongkos mengangkut tanah liat, untuk satu kali proses pembakaran genteng, bisa mencapai lebih dari Rp 3 juta. Bahkan sampai Rp 6 juta. Sedangkan kayu bakar yang digunakan memanasi tungku membutuhkan biaya sedikitnya Rp 4,5 juta.

Tulisan ini dimuat di Majalah DERAP DESA Edisi 80 Juni 2014


Sambel Wader, ­­­Pedas Menggoda


            Sambel ikan wader, nasi putih hangat, plus lalapan. Wow, pasti menggoda selera! Ingin mencicipi? Cobalah bergeser ke sebuah kawasan Trowulan, tepatnya di sekitar Kolam Segaran Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Di sanalah kenikmatan itu didapat.
            Kolam Segaran adalah salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit. Keberadaan masih utuh, meski mungkin tidak selengkap dulu. Kini di seputar kolam muncul beberapa warung sambel wader yang dijajakan warga setempat. Penikmat dan pengunjungnya datang dari berbagai daerah.

            Bahkan ada yang menyebut, samber wader merupakan salah satu peninggalan kuliner era Kerajaan Majapahit. Ada sensasi tersendiri saat mencicipi kuliner khas, yang konon bernilai historis itu. “Mau yang pedas, atau yang biasa saja?” tanya Bu Tin, pemilik salah satu warung yang ada di sekitar kolam.
            Ya, Warung Ibu Tin merupakan salah satu warung terkenal dengan sajian menu khas sambel wader. Warung ini sangat populer di kalangan masyarakat sekitar. Letaknya berdampingan dengan Museum Trowulan dan Kantor Kepala Desa Trowulan. Jadi, warung tersebut mudah ditemukan.
            Bahkan, beberapa pejabat dan artis disebut-sebut pernah singgah di warung yang berada di pinggir situs Kolam Segaran itu. Menu utama masakan yang disajikan di warung ini adalah ikan wader goreng yang diletakkan di atas sambal segar yang baru diulek.
            Nasi hangat disediakan sebagai pendamping kelezatan menu tersebut. Nasi sambel wader khas Segaran, Trowulan, memiliki citarasa yang kuat, sedap dan resep bumbu yang berbeda. Rasa pedas dan segar terpancar kuat dalam aroma dan rasa sambel.
            Kekhasan kuliner ini adalah sambalnya yang dihidangkan dalam keadaan mentah tanpa digoreng. Tidak seperti kebanyakan sambel atau bahan sambel seperti cabai, tomat, bawang merah, bawang putih, dan terasi, terlebih dahulu digoreng. Tetapi tidak untuk sambel nasi wader.
            “Bahan-bahan sambel langsung diulek begitu saja pada saat masih segar atau tanpa digoreng. Sehingga kesegaran dari rempah-rempahnya pun lebih terasa. Wis pokoke uenaklah,” ujar Ny Rukiatin—sapaan Ibu Tin—setengah berpromosi.
            Bumbu sambal mentah itu membuat rasa pedas makin terasa. Seolah-olah aroma dan rasa sambal itu menyatu. Siapa pun yang menikmati sajian nasi sambel wader Segaran, pasti dibikin ketagihan. Paduan kerenyahan ikan wader goreng plus sambal segar, makin membuat penikmatnya seakan dibuai kenikmatan sejati.
            Ikan wader, ikan-ikan kecil seukuran jari kelingking itu ditaburkan di atas cobek atau piring tanah kecil bersama sambal segar. Sebagai pendampingnya adalah lalapan, seperti irisan mentimun, daun kemangi, kubis atau lainnya.
            Yang membikin suasananya beda adalah belaian lembut angin di seputar Kolam Segaran, kian menghanyutkan suasana. Hidangan sambel wader akan lebih terasa nikmat jika ditemani segelas teh hangat, es teh atau minuman segar lainnya.
            Untuk harga, relatif masih terjangkau kantong. Bu Rukiatin mematok satu porsi sambel wader lengkap dengan nasi putih seharga Rp 14 ribu. Selain berjualan sambel wader, warung Bu Tin juga menyediakan botok lele, botok sembukan, botok tahu-tempe, botok jerohan, pepes patin, dan pepes belut. Warung milik Bu Tin buka dari pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB.


Antara Pasar Senin, ‘Tanah Surga’ dan Cabe Jamu


=Desa Ketawang Karay, Kec. Ganding, Kab. Sumenep
            Letak geografis Desa Ketawang Karay, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, memberi anugerah bagi masyarakatnya. Ketinggian tanah yang hanya 90 m DPL (di atas permukaan laut) membuat 75 persen atau hampir seluruh lahan pertanian dari luas desa 657.73 Ha, memperoleh irigasi cukup. Dua sungai yang melintasi desa hampir tak pernah kering.
            Lima dusun yakni Dusun Naga, Dusun Korca, Dusun Sobuk, Dusun Angsana, dan Dusun Mandala, tidak pernah sekalipun mengalami kekeringan. Pertanian seakan tak ada putusnya, sehingga bercocok tanam menjadi sumber utama penghasilan para warga.
            Tanah yang tak pernah kering ini membuat tanaman tumbuh subur. Petani tidak melulu fokus pada tembakau yang menjadi favorit mayoritas petani di Madura. Mereka beralih ke tanaman lain yang tidak kalah mudah proses penanaman dan pemeliharannya tetapi juga harganya jauh lebih menguntungkan ketimbang tembakau.

            Di musim penghujan, padi menjadi tanaman yang paling banyak ditemui di desa ini. Karena lahan pertanian desa hampir seluruhnya terdiri dari persawahan yang sangat cocok ditanami padi. Bahkan, tiap tahunnya petani Ketawang Karay bisa memanen padi lebih dari sekali.
            “Tanahnya ‘kan tanah sawah dan dekat sungai, jadi irigasinya mudah. Sungai-sungainya tidak pernah kering. Apalagi Sungai Kotak yang ada di Dusun Mandala. Meski musim kemarau airnya tetap mengalir. Jadi sawah di sekitarnya tidak kering,” kata Hairuddin, Kades Ketawang Karay.
            Ia menambahkan, selain padi, petani Ketawang Karay juga menanam tanaman lain seperti kelapa kopyor, dan cabe jamu. Bahkan dulu, banyaknya hasil panen kelapa Ketawang Karay membuat salah satu penduduk desa membuat industri minyak kelapa. Namun karena banyaknya minyak kelapa yang datang dari luar desa dan kualitasnya lebih baik, industri rumahan itu gulung tikar.
            Selain itu, cabe jamu juga menjadi hasil tani kedua paling menguntungkan. Tanaman yang oleh masyarakat Madura disebut ‘cabbi alas’ ini terbukti sangat menghasilkan. Betapa tidak, harga jual cabe alas yang baru panen setidaknya Rp 100 ribu per-kilo.
            “Dusun Sobuk dan Mandala penghasil cabe jamu terbanyak di desa ini. Masyarakat banyak yang mengambil keuntungan dari jual beli cabe jamu. Apalagi proses menanamnya mudah,” ujar Hairuddin.

            Ia bersyukur karena lahan pertanian yang cukup luas di desanya dibarengi dengan irigasi yang cukup. Bahkan tak jarang di antara  warganya bisa kaya lantaran jadi petani. “Banyak warga saya yang membangun rumah bagus dari hasil tani. Alhamdulillah, ini hasil dari tanah kami yang subur,” kata dia.

Pasar Buka Tiap Hari
            Desa Ketawang Karay, juga memiliki Pasar Senin. Mirip Pasar Senin Jakarta. Bedanya, Pasar Senin Jakarta berada di antara gedung-gedung menjulang, sedangkan Pasar Senin Ketawang Karay, di antara perkampungan. Pedagang dan pembeli lalu-lalang di badan jalan, membuat lalu lintas di sekitarnya tersendat bahkan kadang tak bergerak.
            Pasar Ganding tak seperti biasanya pasar kebanyakan di desa-desa Sumenep, yang kadang hanya buka sehari dalam seminggu, bahkan terkadang setengah hari. Pasar Ganding selalu buka tiap hari dalam seminggu. Diberi nama Pasar Senin karena awalnya menurut warga sekitar, pasar ini hanya buka di hari Senin.
            Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat, Pasar Senin tidak hanya hadir di hari Senin, tapi setiap hari. Pasar Senin tidak hanya jadi tempat berbelanja warga Ketawang Karay dan Kecamatan Ganding, namun orang-orang dari luar, seperti desa-desa di Kecamatan Guluk-Guluk dan Kecamatan Pasongsongan, ikut nimbrung di sana.
            Apalagi letaknya juga strategis, berdekatan dengan desa-desa di Kecamatan Guluk-Guluk dan Pasongsongan. “Keberadaan Pasar Ganding membuat ekonomi masyarakat terkerek. Terutama yang ada di sekitar pasar,” ujar Hairuddin, Kades Ketawang Karay. 
Berkat Pasar Senin, Desa Makin Beken
            Kini, dari segi bangunan, kondisi Ketawang Karay, terutama Dusun Naga yang paling dekat dengan Pasar Ganding, sudah bagus dan tak ada satu pun rumah tidak layak huni. “Masyarakat sekitar pasar, ekonominya bisa dibilang menengah ke atas. Tak hanya rumah, kendaraan mereka pun bagus-bagus,” lanjut Hairuddin.
            Hairuddin menyatakan, meski Pasar Ganding, yang merupakan pasar kecamatan dan hasil keuangan dari karcis atau sewa kios tak sepeser pun masuk kas desa, ia tetap senang karena keberadaannya membantu Desa Ketawang Karay. “Ya paling tidak, warga desa saya ambil keuntungan dari pasar itu,” ujarnya.
            Malah ada sementara masyarakat menjuluki Ketawang Karay sebagai ‘ibukota’ Kecamatan Ganding. Betapa tidak, Ketawang Karay menjadi pusat kehidupan masyarakat di sana. Tidak hanya warga Kecamatan Ganding, namun juga masyarakat desa di Kecamatan Guluk-Guluk dan Pasongsongan, seperti Desa Prancak, Campaka, Bragung dan lainnya.
            Layaknya sebuah kota kecamatan, berbagai fasilitas dan pelayanan ada di sana, mulai pelayanan kesehatan atau Puskesmas, dengan fasilitas lengkap. Tak hanya Puskesmas, dokter yang buka praktik di rumahnya pun ada di sana. Malah, apotik sudah ada di Ketawang Karay.
            Jauhari, warga Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, yang berobat di salah satu dokter di Ketawang Karay, menyatakan, sebenarnya di sekitar rumahnya ada Puskesmas. Namun dia rela menempuh jarak sekitar 30 kilometer, sebab menurutnya di Ketawang Karay fasilitas kesehatannya lebih lengkap. “Ketawang Karay itu seperti kota tapi adanya di desa,” kata Jauhari dengan logat Madura yang kental.
            Tempat hiburan untuk anak-anak pun ada di Desa Ketawang Karay. Sebut saja odong-odong. Permainan favorit anak-anak ini bisa ditemui di Ketawang Karay. “Semakin hari, desa ini semakin ramai. Banyak orang yang membuka bisnisnya di sini. Memang mereka tak dipungut dana untuk desa, tapi paling tidak ini salah satu langkah perbaikan dan pembangunan ekonomi desa,” kata Hairuddin, Kades Ketawang Karaya.
            Ia mengatakan, sekitar 50 persen warganya, yang berjumlah 4.303 jiwa, menggantungkan kehidupan dan perekonomian di Pasar Ganding. Lahan bisnis mereka pun beragam, ada yang membuka toko kelontong dan kebutuhan sehari-hari, berjualan baju, kios handphone, hingga jual daging sapi. (mtn)

Data Desa
Kepala Desa             : Hairuddin
Sekretaris Desa       : M Darus Salam
Ketua BPD                : Ach. Jufri
Jumlah Penduduk  : 4.303 Jiwa
Luas Desa                 : 657.63 Ha
Batas desa
            Utara             : Desa Campaka, Kec. Pasongsongan
            Timur             : Desa Gadu Barat, Kec. Ganding
            Selatan          : Desa Guluk-Guluk, Kec. Guluk-Guluk
            Barat              : Desa Bragung, Kec. Guluk-Guluk
                        
Tulisan ini dimuat di Majalah DERAP DESA Edisi 80 Juni 2014


Wednesday, 30 April 2014

Avalokitesvara, Rekam Jejak Agama Budha di Madura


Tak banyak yang tau jika di Madura terdapat sebuah Vihara yang umurnya lebih dari tiga abad. Vihara Avalokitesvara namanya. Tempat ibadah agama Budha terbesar yang ada di pulau garam tesebut.
Masyarakat mengenal Madura dengan pemeluk agama Islam yang fanatik. Tak jarang orang luar Madura datang ke pulau yang terkenal dengan karapan sapinya itu untuk belajar tentang ilmu agama Islam. Namun, tak semua orang tahu, jauh sebelum Islam masuk di Madura, agama Budha sudah terlebih dahulu menginjakkan kakinya di pulau itu.
Ya, Vihara Avalokitesvara menjadi saksi sejarah agama Budha di Madura. Vihara yang memiliki nama lain Klenteng Kwan Im Kiong ini terletak di Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan. Sekitar 14 kilometer di sebelah timur Kota Pamekasan.
Seperti yang diceritakan Kosala Mahinda, ketua pengurus Yayasan Candi Bodhi Dharma, Vihara yang dikelola Yayasannya ini telah dibangun sejak abad ke-14 masehi. Kala itu, kerajaan Jamburingin, kerajaan Buddhist di daerah Proppo Pamekasan, berniat mendirikan candi yang akan dibangun di pusat kerajaan.
Karena kerajaan Jamburingin merupakan kerajaan kecil di bawah kekuasaan Majapahit, Majapahit pun membantu pembangunan candi tersebut dengan mengirim arca-arca yang melalui pelabuhan Talang. Dari pelabuhan Talang, arca-arca tersebut diangkut dengan kereta kuda. Akan tetapi, pengiriman arca-arca tersebut gagal karena kereta kuda tidak mampu menahan bebannnya. Akhirnya, arca-arca itu terlantar di tepi pantai hingga tertimbun tanah.
Sekitar abad ke-17 Masehi, seorang petani bernama Pak Burung tanpa sengaja menemukan arca-arca tersebut saat mencangkul ladangnya di sekitar Pantai Talang. Kebetulan, tak jauh dari ladang itu bermukim beberapa keluarga keturunan China yang kemudian membeli ladang yang terdapat arca-arca tersebut. Setelah dibersihkan, ternyata arca-arca tersebut adalah arca-arca Buddha versi Majapahit aliran Mahayana yang banyak penganutnya di negeri China.
Salah satu arca yang ditemukan, adalah arca Avalokitesvara Bodhisatva atau Kwan Im Posat. Dewi Welas Asih yang selalu bersifat penolong dan pengayom. Arca tersebut berukuran tinggi 155 cm, tebal tengah 36 cm dan tebal bawah 59 cm. Arca lainnya, Amogasidha, Kencono Wungu, dan Ratna Sambhava (Sam Po Hud), semuanya terbuat dari batu hitam (andesit) yang saat ini telah diwarnai kuning keemasan.
Tempat ditemukannya arca-arca itu pun diberi nama Dusun Candi. Lalu, di dusun itu pula dibangunlah bangunan sederhana untuk menampung arca-arca tersebut. Bangunan sederhana inilah yang kemudian diberi nama Vihara Avalokitesvara (Kwan Im Kiong). Seiring perkembangan zaman, bangunan ini pun terus direnovasi dan diperbaharui hingga menjadi bangunan megah dengan arsitektur china yang menjadi corak utamanya.


Tempat Ibadah dan Wisata
Sebagai vihara terbesar di Pulau Madura, Vihara Avalokitesvara memiliki fasilitas peribadatan agama Budha cukup lengkap. Antaranya, lain, altar Thian Kong berada di depan setelah pintu masuk halaman, lalu altar Kwan Im Thang yang berada di bangunan tengah, dan altar Avalokitesvara (Kwan Im Posat), altar utama yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit.
Selain altar-altar, dalam kompleks Vihara Avalokitesvara juga terdapat beberapa bangunan yang juga menjadi tempat beribadah para umat Budha. Antaranya, Li Thang dipakai untuk altar pemujaan terhadap Nabi Kong Hu Cu dan Nabi Lao Cu, Tian Cin (Gedung Agung) digunakan untuk altar pemujaan Kwan Kong Jai Shen Ya dan Hok Tek Cin Sin (Dewa), dan Dhamma Sala berbentuk bangunan mirip candi berwarna hitam yang digunakan sebagai altar Sakya Munni Buddha Gautama. Serta tempat tinggal para Bhikku yang dinamakan Kuti.
Arsitektur china yang mendominasi setiap sudut bangunan vihara ini dilengkapi dengan adanya dua pagoda yang menjulang tinggi mengapit pintu masuk ke altar. Kedua pagoda yang didominasi warna merah menambah kemegahan vihara ini dengan ketujuh susunan ruas (lantai) ke atasnya.
Lebih dari itu, Vihara Avalokitesvara tidak hanya memiliki keindahan dan kemegahan pada bangunannya saja. Pesona alam yang indah di sekitarnya menambah nilainya untuk menjadi tempat ibadah sekaligus wisata. Ya, letaknya yang berdekatan dengan pantai Talangsiring memberikan nilai plus. Terlebih lagi, sebelum memasuki kompleks Vihara, para pengunjung disuguhi hutan mangrove yang mampu meneduhkan pandangan.
Tak heran, banyak para pengunjung yang datang ke vihara ini yang juga menyempatkan diri berwisata ke pantai Talangsiring. Sebaliknya, tak sedikit pula para wisatawan yang datang ke pantai Talangsiring, berkunjung ke Vihara Avalokitesvara.
“Yang datang ke sini tidak hanya orang Budha saja. Tapi ada juga orang Islam. Biasanya kalau bukan orang Budha tujuannya wisata saja. Foto-foto atau sekedar ingin tahu sejarah vihara ini,” jelas Kosala Mahinda.
Biasanya, pengunjung akan ramai datang ke vihara ini pada hari libur. Seperti akhir pekan atau hari libur nasional. Bahkan, vihara Avlokitesvara akan lebih ramai saat liburan Idul Fitri yang merupakan hari raya bagi umat Islam. Tak jarang wisatawan yang tujuan utamanya ke pantai Talangsiring juga menyempatkan diri datang ke Vihara dalam rangka berwisata. 


Akomodir Dua Agama, Dapatkan Dua Rekor MURI
Pada umumnya, dalam kompleks bangunan vihara hanya ada tempat beribadah untuk umat Budha saja. Namun, vihara Avalokitesvara tidak begitu. Dalam kompleks vihara ini terdapat tempat ibadah agama lain selain budha, yaitu Musholla bagi umat Islam dan Pura bagi umat Hindu.
Menurut Kosala Mahinda, ketua pengurus Yayasan Candi Bodhi Dharma, pengelola Vihara Avalokitesvara, musholla ini memang sudah ada sejak zaman dulu. “Karena di madura di setiap rumah keluarga Madura pada zaman dahulu umumnya terdapat langgar (musholla),” terangnya.
Lebih lanjut, Kosala menambahkan, keberadaan dua tempat ibadah dari agama lain ini merupakan salah satu bentuk ekspresi pengelola vihara Avalokitesvara dalam menjalankan pesan Bhinneka Tunggal Ika yang tertuang dalam dasar Negara Indonesia, Pancasila. Karena bagi Kosala Mahinda, keberagaman dan kemajemukan masyarakat Indonesia merupakan sebuah keindahan yang perlu dijaga kerukunan dan kelestariannya.
Terlebih lagi, yang datang untuk mengunjungi vihara Avalokitesvara tidak melulu umat Budha saja. Melainkan banyak dari agama lain seperti Islam dan Hindu, yang tujuan kedatangannya untuk wisata dan mengetahui sejarah vihara Avlokitesvara.
Lantaran keunikan inilah Vihara Avalokitesvara mendapatkan penghargaan dari MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) pada 8 Agustus 2009 sebagai vihara terunik. Karena di dalamnya terdapat temat ibadah agama lain, yaitu musholla (Islam) dan pura (Hindu).
Tidak hanya satu rekor MURI saja yang dipecahkan Vihara Avalokitesvara. Pada waktu yang bersamaan vihara ini juga mendapatkan penghargaan rekor MURI yang lain sebagai pemrakarsa dan pelaksana pagelaran wayang kulit dengan pemain pendukung berasal dari 10 negara.

Tulisan ini dimuat di Majalah DERAP DESA, Edisi 79 Mei 2014


Wednesday, 2 April 2014

Campor, Kuliner Khas Lenteng-Sumenep


Soto Madura mungkin memang sudah tidak asing di telinga. Kuliner khas Madura ini memang cukup masyhur di kalangan pecinta kuliner karena rasanya yang khas. Tapi pernah kah anda mendengar nama kuliner Campor? Kuliner khas Lenteng Kabupaten Sumenep.
Pagi itu, udara pagi di Kecamatan Lenteng cukup dingin. Namun hal itu tidak menghalangi masyarakat di sana untuk memulai aktifitas hari itu. Meski tidak matahari belum sepenuhnya berada di ketinggian langit, namun warung kecil nan sederhana yang terletak di sebelah timur Lapangan Sepakat Kecamatan Lenteng itu.
Ya, warung itu milik Ibu Siti. Warung yang menjual kuliner khas Sumenep, Campor. Masyarakat setempat menyebutnya demikian karena makanan ini terdiri dari berbagai macam bahan. Ada lontong, potongan kecil daging sapi, kecambah goreng, Korket (singkong goreng), dan mie soon. Kemudian disajikan menjadi satu dan disirami kuah santan dan sambal kacang. Yang dalam bahasa Maduranya acampor (bercampur) yang kemudian menjadi nama kuliner ini, Campor.

Yang menjadi ciri khas makanan ini adalah campuran kuah santan dengan bumbu kacang. Aroma dari campuran kuah santan dan kacang ini seketika akan menyeruak menggoda selera kala disajikan. Sesampainya di lidah, rasa manis dari kuah santan bercampur rasa gurih bumbu kacang pun menemani punelnya potongan lontong dan singkong goreng.
Sekilas, kuliner ini memang mirip dengan soto Madura. Memang, dari cara memaksanya, kuah campor sama dengan memasak kuah soto Madura yang sama-sama dicampuri potongan daging sapi. Tapi, yang menjadi pembeda adalah santannya. Soto Madura tidak dicampuri santan sedangkan campor ada sedikit santan yang jika dicicipi akan terasa manis.
Bumbu kacang memang menjadi campuran wajib hampir di setiap makanan khas Madura. Karena hampir setiap masyarakat Madura, umumnya di kabupaten Sumenep, sangat menyukai bumbu kacang. Sehingga rasanya tidak lengkap jika setiap makanan khas Kota keris itu tanpa adanya bumbu kacang.
Tidak ada yang tahu bagaimana awal munculnya campor ini. Tetapi menurut cerita masyarakat, kuliner ini asli buatan orang Lenteng. Sehingga untuk mencarinya kuliner ini tidak akan sulit. Cukup datang ke kecamatan Lenteng, anda akan menemukan banyak penjual kuliner ini. Seperti Warung ibu Siti di selatan Kantor Kecamatan lenteng, dan juga Warung Ibu Sukarni di desa Lenteng Barat.
Harga yang ditawarkan sangat terjangkau, dengan uang Rp 3.000 anda mendapatkan satu porsi campor. Namun meski harga sangat murah, satu porsi campor akan membuat perut cukup kenyang karena porsinya jumbo.

Tulisan ini dimuat di Majalah PUSPA, Edisi 39 April 2014


Sunday, 2 March 2014

Desa Batik Kondang Sejak Zaman Kerajaan


Dulu, batik dianggap sebagai pakaian kuno,  ketinggalan zaman dan identik dengan orang tua. Tapi, saat ini batik merupakan bagian dari fashion. Bahkan batik sudah tidak hanya berbentuk busana saja melainkan dalam beragam bentuk.
Bila ada kesempatan bertandang ke Madura, maka jangan lupa untuk melihat-lihat beragam batik tulis Madura. Ya, batik Madura memang memiliki daya pikat tersendiri, antara lain pada pewarnaannya yang tajam atau lebih dikenal dengan istilah ngejreng. Dalam selembar kain, misalnya, bisa muncul wama yang kontras, yang tidak mungkin ditemukan pada kain batik pedalaman ataupun pesisiran di Jawa
Di Madura, pengusaha dan perajin batik tulis sudah tersebar di berbagai penjuru di empat kabupaten. Salah satu pusat batik tulis yang perlu didatangi para pecinta batik adalah desa Pakandangan Barat, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep.
Rute untuk mencapai desa Pakandangan Barat tidaklah sulit. Karena desa yang terletak di pesisir selatan Kabupaten Sumenep ini dilalui angkutan bus antar kota. Selain itu, hampir di seluruh jalan raya akan banyak sekali ditemukan baliho dan papan nama usaha batik tulis dengan beragam bentuk.
Di desa yang terletak sekitar 16 km di selatan kota Sumenep ini, para pecinta batik akan menemukan banyak sekali macam-macam batik. Karena di desa Pakandangan Barat membatik sudah budaya yang mengakar dalam kehidupan masyarakatnya.

Menurut sejarah, desa Pakandangan Barat, Bluto, Sumenep, sudah terkenal sebagai sentra produksi batik tulis sejak zaman Belanda. Bahkan, sentra kerajinan batik tulis di desa ini sudah mulai kondang sejak Kerajaan Sumenep masih eksis hingga berakhir di bawah kekuasaan Ario Prabuwinoko pada tahun 1926-1929. Tak heran, bila motif batik buatan desa ini banyak dipengaruhi tradisi keraton. Misalnya, terlihat motif kipas yang sudah ada sejak tahun 1930-an.
Pemerintah Kabupaten sendiri sudah mempatenkan desa Pakandangan Barat sebagai sentra batik tulis di Sumenep. Tak heran jika kemudian di desa dengan penduduk sekitar 3.000 jiwa ini banyak sekali perajin batik. Bahkan yang unik, tidak jarang ada anak sekitar usia 15 tahun sudah bisa membatik cukup baik.

Beli dengan Online pun Bisa
Mungkin bagi masyarakat kota, jual beli online saat sudah sangat biasa. Tapi, bagi masyarakat pedesaan terutama masyarakat Pakandangan Barat, jual-beli online adalah sesuatu yang cukup baru.
Meski dengan pengetahuan IT yang masih seadanya, para pengusaha dan perajin batik Pakandangan Barat pun tak mau ketinggalan zaman. Mereka pun mencoba untuk memanfaatkan kecanggihan teknologi sebagai alat menambah konsumen batik.

“Sekarang sudah canggih. Tinggal kirim foto batiknya, berapa jumlahnya, harganya sekian. Kami terima pesanannya. Uangnya dikirim lewat bank,” papar Zaini, salah satu pengusaha batik tulis Pakandangan Barat.
Zaini Menuturkan, saat ini mayoritas pemasaran batik Pakandangan Barat secara online. Baik melalui media jejaring sosial, instan messenger atau e-mail. Meski si pemilik usaha tak bisa menggunakan internet, anak-anak merekalah yang meng-upload dan menjual batiknya di media online.

Dari Madura Untuk Nusantara
Tersohornya batik tulis desa Pakandangan Barat membuat pemerintah kabupaten Sumenep untuk memberikan berbagai penghargaan dan bantuan terhadap para perajin batik di desa itu. Salah satu pengusaha dan perajin batik yang akrab dengan pemerintah Kabupaten Sumenep adalah Ach. Zaini, pemilik usaha batik ‘Melati.’
Zaini, begitu sapaan akrabnya, sudah menjadi perajin batik sejak usia masih dini. Ia kemudian meneruskan usaha batik turun-temurun ayahnya sejak tahun 1977. Meski begitu, ia merintis usahanya itu dari nol.
Saat ini, berkat kegigihannya, ia menjadi salah satu pengusaha batik tersukses di desanya. Karena itu, ia kemudian sering menjadi delegasi Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sumenep dalam berbagai event dan pemeran seputar batik di luar Madura.
Pameran di kota-kota besar di Indonesia menjadi pinjakan awal Zaini memperkenalkan batiknya di luar Madura. Lantas kemudian, ia membangun relasi dengan berbagai lembaga pemerintah seperti Dinas Koperasi dan UKM Jatim, Dekranasda Jatim dan lainnya untuk mempromosikan batiknya.
Di Luar Jatim, Zaini juga memiliki langganan yang kerap kali membeli batiknya seperti Sulawesi dan Kalimantan. Hanya saja, hingga saat ini, transaksi dengan konsumen di luar Jatim masih menggunakan media elektronik seperti telepon atau online. Kecuali Jakarta, di Ibu Kota konsumen Zaini lebih banyak memesan batik melalui putra keduanya Anaz Khairunnaz yang juga menjadi designer di sana.
“Di seluruh Pulau Jawa saya punya (konsumen, red) kecuali Jawa Tengah karena di sana tempat batik,” cerita Zaini.
Yang unik, batik ‘Melatik’ milik Zaini ini tidak melulu bermotif bunga melati seperti nama usahanya. Melainkan, motif yang digunakan juga menggunakan berbagai macam identitas Sumenep seperti Pandai besi (Pandhi), Labheng Mesem (Gerbang di Karaton Sumenep), Empu Kelleng (Empu ternama kala masa kerajaan Sumenep), dan sapi sonok terlihat indah dalam bentuk lukisan batik.

Tulisan ini dimuat di Majalah DERAP DESA, Edisi 77 Maret 2014


Sunday, 2 February 2014

LENTENG BARAT, KAMPUNG PRODUSEN KERIS DAN CELURIT


Desa Lenteng Barat, Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep adalah sentra para pandai besi di Sumenep dan Madura. Terbukti keris, celurit, dan pisau buatan Lenteng Barat memiliki kualitas terbaik.

Kamis 31 Oktober 2013, Sumenep mendeklarasikan diri sebagai kota keris. Pendeklarisian ini didasari dua hal; Pertama, terdapat lebih dari 554 empu keris di Sumenep. Kedua, keris-keris yang dihasilkan telah diakui UNESCO. Pengakuan UNESCO (United Nation Education, Scientific and Cultural Organization) tentu tak lepas dari kegigihan dan konsistensi para empu keris dan pandai besi yang berada di Kota Sumenep. Tak dipungkiri hingga saat ini Sumenep menjadi ‘gudang’ para pandai besi di Jawa Timur, bahkan di Indonesia.
Para pandai besi di Sumenep tersebar di berbagai penjuru kabupaten. Salah satunya Desa Lenteng Barat Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep, desa yang terkenal sebagai kampung para pandai besi. Dari persentase jumlahnya, para pandai besi di Desa Lenteng Barat mencapai 30% dari jumlah penduduk 11.354 jiwa. Jumlah itu tersebar di tujuh Dusun, yaitu Jambu Monyet, Padanan, Tarebung, Gunung Malang Barat, Gunung Malang Timur, Bindung, dan Angsanah.

Dari tujuh dusun tersebut terdapat satu dusun yang menjadi sentral para pandai besi, yaitu Dusun Jambu Monyet yang kemudian dikenal sebagai ‘Kampung Pandhian’. Kata ‘Pandhian’ diambil dari bahasa Madura pandhi dengan asal kata mandhi yang artinya menempa besi. Sedangkan pandhian sendiri berarti tempat menempa besi. Kampung Pandhian ini memiliki mayoritas penduduk yang menjadi pandai besi, baik menjadi bos, atau hanya sekedar jadi kuli pukul.
Menurut Kepala Desa Lenteng Barat, Dororul A’la, meski mayoritas penduduk Desa Lenteng Barat terutama di Kampung Pandhian tercatat sebagai masyarakat agraris dan peternak, pekerjaan utama mereka tetap pandai besi atau mandhi. Kegiatan bercocok tanam dan beternak lebih sering mereka lakukan secara musiman saja seperti pada musim tanam tembakau atau jagung.
“Bagi sebagian orang di sana (kampung pandhian, red), bertani hanya mereka lakukan musiman saja karena mereka lebih sering mandhi, dan kalau pun mereka bertani yang mengurus tani mereka itu istrinya,” jelas Dorol, sapaan akrab Dororul A’la.
“Orang-orang itu banyak bilang kalau mau mencari pisau, celurit, atau cangkul yang tajam dan bagus, maka cari di Lenteng Barat,” tambah Dorol dengan logat Madura yang kental.
Hal senada juga dikatakan Mudahra, salah satu pandai besi di Kampung Pandhian. Ia mengaku, hasil tani yang ia tanam lebih banyak untuk kebutuhan dapur saja atau dimakan sendiri tidak dijual.
Sedangkan dari hasil menempa besi Ia alokasikan untuk kebutuhan luar dapur seperti biaya sekolah anaknya, bayar listrik, dan lainnya. “Hasil tani itu kan musiman, baru kalau panen hasilnya bisa diketahui. Berbeda dengan mandhi yang tiap hari pasti ada,” selorohnya saat ditemui di sela-sela kesibukannya menempa besi yang akan dibuat celurit dan pisau.
Dalam sebulan, hasil dari usaha pandhi bisa mencapai dua juta rupiah. “Paling sedikit sih sekitar satu juta setengah, tapi belum dikurangi modal dan upah kuli pukulnya. Kalau bersihnya kadang-kadang saya dapat 800an,” jelas Mudahra pandai besi yang hanya membuat celurit dan alat-alat pertanian seperti cangkul, pisau, dan linggis.

Sedangkan menurut pengakuan Romli, pandai besi yang hanya menempa besi untuk membuat senjata pusaka seperti keris dan celurit pusaka, penghasilannya dari mandhi bulan juga sekitar dua juta lebih. “Ya jumlahnya segitu dalam satu bulan. Kalau bersihnya mungkin sekitar satu juta. Bisa lebih banyak kalau ada yang mesen celurit sekep (pusaka, red),” jelasnya.

Tanah Kelahiran Keris dan Celurit
Lenteng Barat merupakan salah satu tanah kelahiran para Empu keris di Sumenep. Tercatat, 40 orang empu keris di Lenteng Barat. Salah satu dari 40 orang tersebut adalah Fadali. Pria berusia 41 tahun ini adalah satu pembuat keris terbaik di Desa Lenteng Barat. Keris hasil buatannya sudah tersebar di berbagai belahan Indonesia seperti Jakarta, Bali, Kalimantan dan lainnya.
Setiap bulan ia bisa menghasilkan 5-10 keris, tergantung kualitasnya. “Tergantung barangnya. Kalau yang ‘pamor’ (motif, gambar pada keris, red) dan bahannya bagus ya lebih lama buatnya. Karena keris kan ndak sama dengan celurit atau pisau,” ungkap Fadali sambil mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya akibat hawa panas tungku pembakaran besi di sebelahnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Romli, pria berkulit sawo mateng ini menuturkan, selain keris ia juga membuat celurit sekep (pusaka) yang juga memiliki pamor. “Kalau celurit sekep kadang paling sedikit delapan buah. Tergantung banyaknya pesanan. Kalau orang ke saya lebih banyak yang mesen celurit ketimbang keris,” terang Romli.

Terkait ciri khas keris dan celurit buatan pandai besi Desa Lenteng Barat Romli menuturkan, keris buatan buatan Lenteng Barat memiliki tiga lima gelombang dan panjang dari 30-50 cm. “Yang sering dibuat sih yang 30 cm, soalnya itu lumrahnya ukuran keris. Kalau celurit sekep tak ada bedanya dengan buatan desa lain, cuma kalau buatan sini ada pamornya,” terangnya.
Sedangkan untuk pemasarannya, menurut Fadali, hampir keseluruhan keris buatan Lenteng Barat lebih banyak dibeli sebelum benar-benar selesai, atau masih mentah dengan pamor yang belum halus. Sehingga keris dari Lenteng Barat kurang dikenal lantaran yang memperhalus atau abharangin pamor kerisnya bukan orang Lenteng Barat atau si Empu kerisnya sendiri melainkan desa lain seperti desa Aeng Tongtong di Kecamatan Bluto. Berbeda dengan Celurit sekep yang memang pamornya dihaluskan dan dijual oleh pandhinya sendiri ke pasar atau pembeli datang ke rumah mereka.


DATA DESA
Kepala Desa                : Dororul A’la
Ketua BPD                 : Sunarwi
Sekretaris Desa           : Slamet Prayogi
Jumlah Penduduk       : 11.354 jiwa
Laki-Laki                    : 5.519 Jiwa
Perempuan                  : 5.835 Jiwa
Luas Desa                   : 1.100,41 Ha
Batas Utara Desa        : Desa Ellak Laok, Kec. Lenteng & Desa Gadu Timur, Kec. Ganding
Batas Timur Desa        : Desa Lembung Barat Kec. Lenteng
Batas Selatan Desa     : Desa Bilapora Rebba, Desa Bilapora Barat, Desa Bilapora Timur
Batas Barat Desa        : Desa Ganding & Desa Gadu Timur

Tulisan ini dimuat di Majalah DERAP DESA, Edisi 76 Februari 2014