Showing posts with label My Story. Show all posts
Showing posts with label My Story. Show all posts

Wednesday, 8 May 2013

CATATAN SEHABIS PUASA MENULIS YANG PANJANG

Entah kenapa beberapa hari terakhir aku tiba-tiba merindukan masa-masa saat aku berada di Annuqayah dulu. Mungkin karena dalam beberapa minggu terakhir aku menjalin hubungan yang cukup intens dengan beberapa teman di Annuqayah dan juga putra Annuqayah. Ah, entahlah, yang jelas kondisi ini membuatku ingin menulis catatan ini.

Seingatku terakhir aku nulis karena keinginan sendiri itu sekitar setahun yang lalu. Dan sejak saat itu aku tak lagi menulis untukku sendiri, meski menulis mungkin karena tuntutan tugas dari beberapa oraganisasi yang aku geluti dan juga tugas kuliah. Tapi sore ini aku benar-benar ingin nulis catatan ini. Catatan yang entah jadi apa akhirnya nanti. Yang jelas aku hanya ingin nulis karena aku sudah lama tak menuruti nafsu menulisku untuk diri sendiri meski skripsi yang sebenarnya jauh lebih penting sedang jongkok di pojok kamar kosku.

Keinginan ini muncul secara tiba-tiba saat aku iseng-iseng googling namaku sendiri lalu muncul namaku dan salah satu puisiku yang berjudul “Pejabat Matahari” diposting di sebuah blog. Puisi itu sebenarnya puisi yang aku tulis tahun 2007 silam (enam tahun lalu, lama juga ya.. hehehehe) yang kemudian puisi itu aku ikutkan di sebuah lomba tingkat nasional yang diadakan oleh Perhimpunan INTI (Indonesia Tionghoa) di tahun yang sama dan kebetulan puisi itu lolos jadi finalis dan masuk dalam antologi INTI. Sekedar informasi, juri pada lomba tersebut adalah artis indonesia Rieke Diah Pitaloka yang sekarang jadi polikus itu. Tak tau dia Rieke Diah Pitaloka? Googling dulu deh.

Saat baca puisiku di blog itu aku sejenak berpikir, kok bisa ya si pemilik blog tau puisiku ini. Apa mungkin dia ikut lomba itu juga, atau hanya kebetulan dia suka sama puisinya saat dia baca puisi itu di sebuah antologi. Ah, entahlah.

Habis baca blog itu isengku masih ada ternyata. Aku googling lagi namaku, ternyata ada sebuah tulisan yang di blog milik Edu, salah satu temanku dulu di pondok. Tulisan itu isinya tentang kehidupan Edu selama berada di Annuqayah termasuk saat dia jadi finalis lomba tingkat Jawa Timur dan Nasional bersamaku dulu. Entah kenapa saat aku baca tulisan itu rasa rindu dengan Annuqayah makin menjadi saja. Bahkan aku lebih rindu lagi saat-saat aku masih suka nulis puisi (sekarang bukan ga suka, tapi males.. hehehe..). dan saat itu pula aku merasa terharu karena secara tidak langsung aku menjadi salah satu bagian sejarah kehidupan orang hebat seperti Edu, dan dia masih mengingatku meski aku sudah sangat jarang komunikasi dengannya.

Membaca tulisan Edu tersebut membuatku ingat saat aku sama dia jadi finalis lomba cipta puisi tingkat Nasional yang diadakan oleh IPB, dan karena itu pula untuk pertama kalinya aku bisa menginjakkan kaki di Ibu Kota Indonesia, Jakarta, GRATIS pula. Sungguh tak terbayang kebahagiaanku saat itu.

Sekilas aku teringat kalo dulu sewaktu aku masih ada di Annuqayah aku cukup produktif nulis. Bahkan beberapa tulisanku pernah dimuat di beberapa media Nasional dan lokal seperti Majalah Sastra Horison, Majalah Kuntum Yogyakarta, Radar Madura, dan pernah jadi finalis lomba tingkat Nasional seperti lomba yang diadakan oleh IPB dan Teater Kedok SMAN 6 Surabaya. Sekarang aku kenapa aku tak seproduktif dulu ya.. padahal dulu aku di blog Annuqayah tulisanku bisa dibilang sering muncul. Mungkin karena akhir-akhir ini rasa malasku lebih besar dari nafsu menulisku.

Nah, akhirnya seperti yang aku bilang di awal tadi, tulisan ini benar-benar tidak jelas arah dan tujuannya. Yah, namanya juga catatan yang dibuat oleh seorang yang baru nulis (lagi). Tapi paling tidak tulisan mengingatkanku bahwa aku harus terus berproses, bahwa apa yang aku peroleh dulu belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan prestasi teman-temanku seperti Edu, Faruq, atau Guruku Ra Musthafa dan Ra Faizi. Dan sepertinya aku harus belajar lagi tentang menulis, ada yang mau mengajariku? Semoga ada..

Terakhir, terima kasih untuk yang sudah meluangkan waktu untuk membaca. Terima kasih juga buat teman-temanku seperti Faruq, Zuhir, Memed, Dayat, Akeng, Ilyas, dan lainnya yang tak bisa aku sebut di sini, yang sudah berbagi banyak hal kepadaku. Juga terima kasih buat guru-guruku, Ra Musthafa, Ra Faizi, Ra Zammiel, Edu, dan lainnya atas ilmu yang pernah diberikan kepadaku.


Wednesday, 2 November 2011

Perempuan-Perempuan Itu

“perempuan datang atas nama cinta
bunda pergi karna cinta
digenangi air racun jingga dalam wajahmu
seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan”

Sebait puisi ini cukup mewakili pengalaman dan pemahamanku tentang beberapa perempuan—yang tak memiliki ikatan denganku—yang pernah hadir dan memiliki keterkaitan erat denganku secara emosional.
Bagiku, perempuan merupakan sosok yang sangat penting. Jika diibaratkan dalam permainan sepak bola, perempuan seperti seorang play maker (pengatur permainan). Permainan bola yang bagus, mengalir dari kaki ke kaki dengan umpan-umpan cantik bergantung bagaimana si play maker itu mengatur ritmenya, tanpa seorang play maker maka sepak bola tak tampak kehindahannya. Begitu juga dengan perempuan, perempuan adalah salah satu bagian penting kehidupan kita, penentu keberhasilan, keindahan, keharmonisan, dan kekuatan kehidupan seorang laki-laki bergantung pada perempuannya. Karena bagi laki-laki termasuk diriku sendiri, perempuan adalah energi yang tak akan pernah hilang dan habis.
Tidak hanya itu, tanpa seorang perempuan tentunya kita semua tak akan bisa hidup di dunia ini karena kita lahir dari seorang perempuan atau lebih tepatnya seorang ibu. Di dalam Islam pun perempuan mempunyai tempat tersendiri, hal ini terbukti dengan beberapa hadits yang menerangkan tentang kemuliaan perempuan termasuk hadits tentang derajat seorang ibu tiga tingkat lebih tinggi dari seorang ayah. Bahkan ada hadits yang mengatakan “Surga ada pada telapak kaki seorang ibu”. Hal itu salah satu bukti kongkret bahwa seorang perempuan, termasuk juga ibu mempunyai peranan penting dalam kehidupan ini.
Nah, karena itu aku menulis tulisan ini. Yang aku ungkapkan sebenarnya bukan tentang ibuku melainkan beberapa orang perempuan yang pernah menghiasi hati dan hari-hariku (lebay dikit boleh lah. hehehe).
Seperti yang aku bilang di awal tulisan ini, perempuan bagiku energi. Hal ini yang aku rasakan saat aku dekat dengannya. Tapi ada satu hal yang mengganjal dalam benakku, aku sering menyebutnya ‘penyakit’. Penyakit itu datang saat aku semakin dengan seorang perempuan, sepertinya tak ada perempuan atau cewek yang benar-benar mau benar-benar memiliki hubungan yang lebih dekat denganku. Mereka seakan pergi lalu menghilang dariku.
Hal inilah yang sering membebani perasaanku. Apa mungkin aku tak pernah bisa untuk punya kedekatan yang benar-benar dekat dengan seorang wanita. Atau mungkin aku memang tak pernah pantas untuk mereka. Entahlah.
Di tulisan ini aku hanya ingin bercerita tentang seorang wanita, seorang perempuan, seorang cewek yang selama hampir dua tahun ini menempati sebuah ruang yang cukup besar di hatiku yang sepanjang tulisan ini aku akan menyebutnya dengan ‘dua’. Sebenarnya antara aku dengan Dua dari dulu tak pernah ada hubungan kedekatan yang seperti aku bilang di atas tadi, yang jelas selama beberapa bulan kita pernah dekat dan saling bercerita tentang banyak hal di kehidupan kita. Dia tau kalau ada sesuatu yang lebih dariku saat bersamanya, tapi dia mengatakan kalau dia tak bisa membalasnya. Cuma aku tetap menyimpan harapan meski sedikit bisa menjadikannya bagian penting dari hidupku. Sahabat-sahabatku sering mengatakan tidak seharusnya aku menaruh harapan padanya karena dia tak pernah menganggapku lebih dari sekedar teman satu organisasi saja.
Selama hampir dua tahun ini, setelah aku dekat dengannya aku pernah dekat dengan perempuan lain selain dirinya. Tapi tetap saja Dua tak bisa digeser dari ruang khusus di hatiku.
Seorang teman kecilku dan sahabatku, namanya Aye’ sering mengatakan bahwa aku sebenarnya aku bisa melupakan Dua jika aku mau. Tetapi selama ini menurutnya keinginanku untuk melupakan Dua hanya di mulut saja, hatiku tak pernah mau tuk mengahapus Dua.
Hal itu aku akui, ada sesuatu yang membuatku enggan tuk melupakannya. Bukan karena fisiknya yang memang banyak orang mengatakan bahwa Dua itu cantik, pinter atau yang lainnya. Tapi aku merasakan ada sebuah ketenangan saat aku berada di samping dia, saat aku memikirkannya, saat aku mengingat dan melihat wajah. Juga karena dia orang yang asyik tuk aku ajak cerita seputar komik Detektif Conan atau novel sastra yang bagus. Meski pun pada dasarnya Aye’ juga asyik tuk diajak cerita tentang komik Detektif Conan atau novel, tetapi sepertinya Dua mempunyai sesuatu yang lebih yang tak pernah aku temukan di orang lain.
Namun aku harus sadar bahwa keinginanku untuk menjadikan Dua sebagai energi dalam hidupku sulit untuk tercapai karena memang saat ini faktanya dia sudah jauh dariku. Aku tak mau memungkiri bahwa semuanya bergantung pada kehendak dan takdir yang Allah berikan padaku. Bisa saja Dua yang saat jauh dariku bisa tiba-tiba dekat dan lebih dekat denganku. Atau bahkan seorang yang aku anggap sahabat bisa menjadi pengganti Dua untuk selamanya, seperti kisah antara Riani dan Zafran dalam novel 5 cm. atau bahkan seseorang yang saat ini aku tak mengenalnya. Aku harus menerima semuanya kerena kita tak pernah tau apa yang Allah rencanakan untuk kita di masa depan.
Dan bagiku, seperti yang aku tulis di awal tulisan, perempuan mempunyai tempat tersendiri bagiku baik itu sebagai seorang yang sangat spesial, ibu, kakak, atau sahabat tetap aku berikan tempat spesial.
Nah, karena tulisan ini aku awali dengan bait pertama dari puisi dari film Ada Apa Dengan Cinta, maka aku akan menutupnya dengan bait terakhir dari puisi yang sama. ^_^
“ada apa dengan cinta
tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya.
bukan untuknya, bukan untuk siapa
tapi untukku
karena aku ingin kamu,itu saja.”


Monday, 25 July 2011

Sahabatku

Sahabat, sebuah istilah atau sebutan buat dua orang manusia yang sangat akrab dan saling mengerti, saling memahami, saling tolong-menolong, dan selalu ada saat dibutuhkan untuk sahabatnya. Sahabat, sebuah julukan atau predikat yang diberikan kepada seorang teman yang sudah dianggap dekat, akrab dan mengerti dengan dirinya.
Bagiku sendiri, sangat jarang aku berikan predikat seorang sahabat pada temanku kecuali ia sudah benar-benar dekat denganku, mengerti aku, selalu ada saat aku butuhkan, dan selalu nyambung saat dia ngobrol denganku. Seorang sahabat bagiku lebih berharga dan lebih penting dari seorang kekasih, aku tak pernah besedih begitu dalam saat aku kehilangan kekasihku, tapi jika aku kehilangan sahabatku sedihku tak akan terkira meski hal itu tak pernah diketahui orang lain. Karena bagiku, menurutku, tidak ada istilah ‘mantan sahabat’ dalam hidup, namun jika ‘mantan kekasih’ atau ‘mantan pacar’ atau bahkan pula ‘mantan istri’ pasti ada dan sangat banyak.
Sahabat, di dalam kehidupan kita tentunya sering ditemukan istilah itu, bahkan sering kita sebutkan. Cerita tentang persahabatan pun sering banyak kita temukan, di film, novel, komik, dan lainnya. Sekarang, saat aku menulis oretan ini, aku tengah diuji oleh Tuhan atas kesabaranku dan keteguhanku untuk mempertahankan persahabatanku dengan seorang cewek yang anggap saja namanya Yeza.
Awal aku mengenalnya sudah sangat lama sekali, pada bulan Ramadlan tahun 2006. Saat itu aku dengannya hanya sebatas tahu saja, sebatas tahu nama dan wajah saja. Saat itu kita dipertemukan di sebuah kegiatan kursus bahasa untuk mengisi liburan pondok. Sejak saat itu aku tahu dia, tapi hanya sebatas tahu, tak pernah kita ketemu lagi setelah kegiatan itu. Hanya sesekali aku melihatnya turun dari mobilnya saat dia diantarkan ke sekolahnya yang ada di pondokku. Saat itu, tak pernah terbayang sedikit pun dalam benakku dia dan aku bisa jadi sahabat.
Justru persahabatan kami berawal akhir tahun 2010 kemarin, saat itu aku tengah mengikuti kegiatan organisasi untuk alumni pondokku dan kebetulan dia hadir. Nah, karena aku sudah tahu dia, tentu saja tidak etis jika aku tak menegurnya atau menyapanya. Tanpa kami kira sebelumnya keakraban kami dimulai. Keakraban pun diawali di dunia maya di sebuah jejaring sosial yang kemudian berlanjut ke dunia seluler atau Handphone. Kita sering sekali mengerim pesan, berbagi cerita tentang banyak hal. Termasuk hobi, kesukaan, buku, film, lagu, dan lainnya.
Setelah itu persahabatan kami berjalan seperti layaknya persahabatan yang lainnya. Saling berbagi, saling membutuhkan, saling menolong, dan tentunya saling bertemu. Tapi tak lama setelah itu, saat aku kehilangan pujaan hatiku yang aku inisialkan IWF, aku temukan sesuatu yang beda darinya. Sesuatu yang membuatku berdesir, membuatku gugup saat bertemu dengannya. Yah, makhluk liar yang sulit dijinakkan bernama ‘cinta’ telah hidup antara aku dan dia.
Tapi aku tahu, saat itu tak mungkin aku mengatakan padanya tentang keberadaan ‘makhluk’ itu. Karena dia sudah ada yang mengisi hatinya. Tapi karena rahasia itu tak bisa terlalu lama disimpan, dia pun tahu tentang hal itu dan dia menanggapinya dengan biasa. Saat itu dia memintaku tuk segera membunuh makhluk itu agar tak mengganggu. Namun, dalam hatiku enggan tuk membunuhnya, yang aku niatkan saat itu hanya tuk menjinakkannya saja agar bisa dikendalikan sesuai dengan kehendakku.
Makhluk itu pun mulai tak bisa bergerak dengan bebas. Apalagi ada isyarat kalau IWF bisa kembali padaku, makhluk itu bisa dibilang hampir mati. Karena itu pun aku dan Yeza kembali dengan leluasa bersahabat tanpa ada gangguan dari makhluk itu.
Tapi, keadaan itu tak berlangsung lama karena secara tiba-tiba IWF menjalin hubungan dengan orang lain yang secara tidak langsung memupuskan aku tuk kembali padanya. Dan keadaan itu pun kemudian aku curhatkan ke Yeza, seperti biasa dia mendengarkannya dan memberi banyak masukan dan saran padaku.
Keadaan mulai berubah saat liburan panjang kampus tiba, saat itu ada rasa rindu yang mendalam di hatiku pada Yeza karena kita tak lagi sering bertemu, dan rindu itu bukan rindu layaknya seorang sahabat. Saat itu aku sadar, makhluk liar itu belum mati, dia masih hidup dan sekarang mulai bangkit dan mengganngu persahabatanku dengan Yeza.
Betul, makhluk itu telah mengganggu. Suatu malam saat aku sedang sendiri, aku memutuskan tuk ceritakan semuanya padanya, tentang makhluk yang tak bisa aku bunuh itu. Saat dia tahu bahwa makhluk itu masih hidup, dia diam seribu bahasa, diSMS dan ditelepon tak ada respon darinya. Dia kecewa dan kekecewaannya dia ungkapkan dengan diam. Aku pun tersadar kalau ini adalah murni kesalahanku yang membiarkan makhluk itu hidup, bukan aku bunuh malah dijinakkan. Ah, sekarang persahabatan aku dengan Yeza seperti tak ada kejelasan, dia diam.
Meski semalam aku sempat merasakan dia mulai kembali dengan kekakuan, tapi hari ini dia jauh lagi. Seperti bukan sahabatku, seperti tak pernah akrab denganku. Dia dingin lagi.
Aku tersadar, bahwa betapa berartinya seorang sahabat sepertinya bagiku, dia yang selalu mendengarkan semua curhatanku, dia yang selalu memberiku senyuman saat aku sedang tak bisa tersenyum, dia yang selalu menjadi sahabat terbaik saat bercerita tentang buku-buku dan novel menarik seakan jauh dariku, seakan tak lagi berada di dunia yang sama denganku. Lalu tersirat dalam benakku takut kehilangannya, tapi aku tak boleh takut kehilangan karena saat aku memiliki sesuatu maka aku harus rela kehilangan. Begitu juga saat aku memiliki sahabat sepertinya maka aku juga harus kehilangannya jika itu adalah keputusannya akibat dari kesalahanku.
Tapi satu hal yang perlu aku ingat selamanya, bahwa tak ada istilah ‘mantan sahabat’ di dunia. Jadi meski dia tak lagi dekat denganku, dia tetap sahabatku.


Sunday, 17 April 2011

JOURNEY TO BE JOURNALIST



Perjalanan ini diawali dengan rencana terbitnya Tabloid Solidaritas IAIN Sunan Ampel Surabaya edisi Mei 2011. Kebetulan pada edisi tersebut redaksi sepakat untuk mengangkat tema tentang multikulturalisme di indonesia dan salah satu sub temanya tentang kerukunan beragama suku Tengger yang berada di lereng gunung Bromo, Pobolinggo, Jatim. 

Setelah itu, kami memutuskan siapa saja yang bertugas untuk liputan ke Bromo yang terdiri dari empat orang. Yaitu, Ubeid selaku Pimred, aku, Amir, dan Uul. Kami berempat sepakat untuk memulai liputan di Tengger tanggal 15 April 2011, hari jumat. Menurut rencana kami akan berada di sana selama dua hari sampai hari sabtu sore atau paling terakhir minggu pagi.

Sejujurnya, tak satu pun dari kami berempat yang tahu betul daerang suku Tengger di Bromo. Ubeid pun yang pernah ke Bromo hanya sebatas tahu rute jalannya dengan kendaraan pribadi, tidak dengan angkutan umum, apalagi seluk beluk suku tengger juga desa apa yang layak untuk diliput dan dimasukkan ke tabloid Solidaritas.

Meski begitu, kami tetap berangkat ke Bromo dengan bermodal kartu pers dan surat tugas peliputan. Kami berangkat dari LPM Solidaritas jam 08.00 WIB menuju terminal bungurasih Surabaya. 

Dari terminal Bungurasih tujuan kami saat itu hanya satu, yaitu terminal Probolinggo. Tak ada yang tau setelah itu kami harus cari angkutan di mana untuk mencapai suku tengger. Hanya keberanian bercampur kepasrahan yang ada di benak kami saat itu.

Sekitar jam 12.00 WIB kami tiba di terminal Probolinggo. Saat itu cuaca di sana lumayan sejuk tak seperti Surabaya yang selalu panas. Di terminal Probolinggo kami mencoba bertanya ke petugas terminal tentang angkutan menuju Bromo atau Tengger. Ada beberapa orang yang kami tanyakan dan kesimpulannya, untuk mencapai Bromo kami harus ikut bison atau mini bus yang ternyata merupakan travel jasa antar jemput.

Pada awalnya kami kira ongkos dari terminal Probolinggo ke Bromo tak kurang dari 15.000 rupiah saja. Tapi ternyata 30.000 rupiah setiap orang. Kami pun sedikit kaget. Tapi mau bagaimana lagi, kami harus ke sana untuk mendapatkan data keberagaman agama suku Tengger meski pun kami sendiri tau kondisi kantong kami saat itu sangat tipis sekali.

Saat itu, kami masih tetap belum menemukan tujuan yang pasti di mana kami bisa menemui suku tengger yang berdampingan kehidupan beragamanya. Namun saat kami berempat menunggu bison berangkat ada seorang ibu muda yang berbincang-bincang dengan kami. Dari ibu muda itu kami mendapatkan informasi bahwa desa yang kehidupan beragamanya berdampingan dan cukup banyak macam agamanya hanya desa Sapikerep. Jaraknya dari puncak Bromo masih sekitar 15 km. sedangkan desa lain yang ada di bawaha atau pun di atasnya mayoritas ditinggali kaum satu agama. Ada yang ditinggali umat islam saja, ada pula yang hanya ditinggali umat hindu.

Hampir satu jam perjalanan dari terminal Probolinggo menuju desa Sapikerep. Di desa itu kami turun tepat di depan balai desa. Tapi saat itu balai desa sudah tak ada orang. Kami pun bertanya pada orang yang tinggal di rumah sebelah balai desa. Ternyata balai desa sudah kosong dan kami harus menemui pak lurahnya atau pak tinggi (menurut istilah suku Tengger) di rumahnya yang jaraknya sekitar 500 m dari balai desa ke bawah.

Saat itu suasana di desa Sapikerep lumayan dingin dan kami melihat kabut di mana-mana. Sedangkan dibawah kami sisa-sisa abu fulkanik semburan dari puncak Bromo masih terasa sangat tebal. Tapi kami tetap berjalan mencari rumah pak Lurah desa itu. Akhirnya, kami pun tiba di rumah pak Lurah. Saya cukup terkesan saat tiba di sana, suku Tengger ternyata sangat ramah saat menerima tamu tak seperti yang kami bayangkan sebelumnya.

Sekitar setengah jam lamanya kami wawancara dengan pak Lurah. Setelah itu kami menanyakan siapa saja pemuka agama-agama di sana. Kami pun ditujukkan pada dua orang yaitu pak Dukun Ngatik selaku pembesar agama Hindu dan pak Kesra dari agama Islam.

Kemudian, pak Lurah mengantarkan kami ke kediaman Pak Dukun Ngatik. Di sana juga kami disambut dengan sangat ramah. Aku sendiri pun merasa tak ada perbedaan dengan rumah pak Lurah yang beragama islam tadi dengan rumah pak Dukun ini, serasa tak ada perbedaan agama yang ku rasakan dari sikap pak Dukun dan keluarganya pada kami.

Hampir satu jam kami mewawancarai pak Dukun. Beliau sangat bersemangat sekali saat ditanya seputar adat suku Tengger dan keberagaman agamanya. Beliau mengatakan bahwa agama bukanlah penghalang untuk mereka hidup rukun dan saling tolong menolong.

Baru aku tahu ternyata di daerah itu banyak keluarga yang dalam satu rumah berbeda agama. Pak Dukun sendiri yang pembesar agama hindu mempunyai anak yang beragama islam dan menikah dengan orang islam pula. Tapi tak sedikit pun di sana tercium aroma perselisihan seputar agama seperti di daerah lain. Mereka hidup sangat rukun. Anjing-anjing yang dipelihara orang hindu pun tak sembarang menggonggong ketika melihat orang asing. Juga umat islam di sana tak sedikit pun merasa risih dan terganggu dengan adanya anjing-anjing yang berkeliaran di sekitar rumah mereka. Sungguh betapa indahnya kehidupan yang mereka jalani. Saling mengerti dan toleransi satu sama lain. Subhanallah. Andai saja daerah lain mau meniru suku Tengger ini.

Selanjutnya orang terakhir yang perlu kami wawancarai adalah pak Kesra selaku pemuka agama islam. Tapi sayang saat kami mendatangi rumahnya beliau sedang ada urusan keluar kota. Akhirnya dengan petunjuk dari istri pak Kesra kami mengunjungi pak Noer Salim penjaga masjid Nurul Falah yang juga pemuka agama Islam di sana.

Saat menemui beliau kami seakan menemui guru kami sendiri. Terasa sangat dekat dan sangat akrab. Beliau pun langsung mengerti apa yang kami inginkan dan langsung menjelaskan panjang lebar tentang Islam di suku Tengger termasuk tentang keislaman Suku Tengger yang ternyata termasuk umat NU (Nahdlatul Ulama’). Kalau kata Amir, ‘golongan sendiri’.

Akhirnya wawancara kami selesai. Tapi saat itu cuaca masih hujan dan kami tak bisa bergerak dari masjid Nurul Falah. Kami kemudian berunding apa akan tetap melanjutkan niat kami untuk naik ke puncak Bromo atau turun dan kembali ke Surabaya.

Sebenarnya, kami sangat menginginkan untuk naik ke puncak Bromo dan menikmati Sun Rise esok hari. Tapi kami mempertimbangkan lagi kondisi kantong kami. Di atas sana kami harus mendapatkan penginapan yang menurut informasi penduduk sana harga minimal 200.000 rupiah. Harga yang sudah sangat tidak cocok dengan kondisi kantong saat itu. Apalagi kami juga mempertimbangkan harga makanan yang ternyata jauh lebih mahal dari Surabaya. Bayangkan, harga sepiring nasi dengan lauk mien dan telor juga segelas teh hangat untuk empat orang sebesar 27.000 rupiah. Padahal di Surabaya dengan hidangan seperti itu, kami hanya mengeluarkan uang tak lebih dari 15.000 rupiah.

Akhirnya kami memutuskan untuk turun dan balik ke Surabaya meski saat itu sudah soren dan gerimis masih menyelimuti lereng gunung Bromo. Karena kalau saja kami lebih sore lagi hingga hari gelap kita tak turun kita tak akan mendapatkan angkutan ke terminal Probolinggo yang sangat jarang juga di perjalanan kami akan bertemu dengan anjing-anjing dan hutan.

Dengan sedikit nekat dan pasrah pada Allah kami pun turun menuju Sukapura, desa yang cukup banyak angkutan menuju terminal Probolinggo. Jarak yang harus kami tempuh dari desa Sapikerep ke Sukapura ternyata tidak dekat, tapi kami harus menempuh jarak sekitar 10 km.

Kami pun melangkah dengan diiringi shalawat dan doa-doa yang kami bacakan setiap kali melangkah dengan harapan Allah bisa melindungi kami dari segala bahaya. Namun, sekitar 2 km dari tempat kami mengawali perjalanan turun, kami bertemu dengan seekor anjing berwarna coklat sebesar kambing. Awalnya kami melangkah santai, tapi tiba-tiba anjing itu menggonggong membuat kami terkejut. Dengan sedikit berlari kami mencoba untuk menjauh dari anjing itu tapi anjing itu malah mengikuti kami. Kami ketakutan hingga salah satu dari kami yaitu Ubeid dan Uul hampir terjatuh karena ketakutan. Dan alhamdulillah, saat itu tuan dari anjing itu tahu dan segera memanggil anjingnya untuk kembali ke rumah. Kami pun sedikit lega dan bersyukur pada Allah.

Namun, ringtangan menuju Sukapura ternyata tak hanya itu saja. Di depan kami terbentang hutan yang cukup luas. Tak satu rumah pun ada di sana. Jalan pun hampir tak terlihat andai saja purnama tak menemani perjalanan kami. Di hutan  ternyata aku merasakan hal sangat aneh, tiba-tiba aku merinding seperti ada sesuatu yang gaib menyentuh kulit. Tapi aku tetap tenang dan tak memberitahukannya ke teman-teman yang lain. Kami pun terus melangkah, ku lihat Amir masih tetap kuat karena memang dia cukup sering mengalami hal yang sama begitu juga aku dan Ubeid. Tapi yang menjadi perhatianku adalah Uul, dia mulai sedikit terseok-seok langkahnya dan sangat kelihatan sekali lelah telah masuk ke dalam tubuhnya. Tapi kami tetap bertahan karna kami tahu bukan saatnya untuk istirahat di tengah hutan yang gelap dan seram.

Akhirnya, setelah sangat lama kami berjalan desa Sukapura kami capai juga. Berkali-kali ku ucapkan kalimat syukur pada Allah karna kami terbebas dari bahaya hutan itu. Tapi di sana kami masih juga belum menemukan angkutan menuju terminal Probolinggo.

Sejenak kami istirahat sambil lalu membeli air mineral dan snack di depan sebuah toko yang cukup besar. Saat itulah kami melihat ada bison yang turun dari puncak. Tanpa pikir panjang kami menyetop bison itu dan menumpangnya. Akhirnya kami bisa sedikit lega karena kami telah bisa segera menuju terminal Probolinggo kemudian pulang ke Surabaya.

Sekitar 45 menit perjalanan dari Sukapura ke terminal Probolinggo. Di terminal kami tak berpikir panjang. Kami harus segera makan dan mencari bus ke Surabaya untuk pulang.

Saat kami makan, aku bercerita tentang apa yang ku rasakan saat ada di hutan tadi dan ternyata tak hanya aku saja yang merasakannya tapi yang lain juga merasakan ada hal mistis dan gaib yang menyentuh dan menemani perjalanan kami dari Sapikerep ke Sukapura. Namun Allah masih melindungi kami hingga kami tak terbawa ke alam yang bukan alam kami.


Akhirnya kami menaiki bus Akas Asri menuju Surabaya dan pada jam 1.00 WIB dini hari kami kembali tiba di kampus tercinta dengan selamat. Apa yang terjadi padaku dan teman-teman saat itu akan menjadi pengalaman yang berharga, tak kan terlupakan hingga kapan pun dan juga tak akan bisa dihargai dengan uang sebesar apa pun.

Untuk teman-teman dari LPM Solidaritas yang lain, kalian tak akan bisa merasakan enaknya jadi wartawan jika belum pernah merasakan hal yang aku, Amir, Ubeid dan Uul rasakan di Bromo.


Friday, 4 March 2011

Menulis Tentang Kehidupan

Berbicara tentang kehidupan seperti melihat langit yang tak pernah kita ketahui di mana dan seperti apa ujungnya. Berbicara tentang kehidupan sebenarnya adalah membicarakan tentang diri kita sendiri, tentang kepribadian, tentang sifat, dan tentang tujuan kita di dunia ini.
Karena itu, saya ingin menceritakan sedikit tentang apa yang telah terjadi pada diri saya selama 19 tahun ini. Sejak saya masih baru keluar dari perut ibu saya hingga saat ini, detik ini. 
Selama itu pula sangat banyak sekali yang saya dapatkan dari kehidupan saya. Dan itu memang seharusnya. Mulai dari pengalaman, pengetahuan, pelajaran, hingga pencitraan baik-buruk dari orang-orang yang saya temui selama ini.
Dulu, sebelum saya menjadi mahasiswa, saya tak pernah mau berpikir ribet untuk apa yang saya alami dalam kehidupan saya. Saya hanya berpikir yang penting saya bisa mendapatkan yang saya inginkan. Tak peduli itu merugikan orang lain termasuk orang tua dan saudara. Bahkan, saya tak pernah berpikir bagaimana perasaan seseorang yang pernah saya sakiti agar saya puas dan mendapatkan yang saya mau. 
Mungkin kata ‘Egois’ sudah sepantasnya disandangkan dibelakang nama saya. Itu karena sifat saya yang semaunya dan tak pernah mau peduli dengan orang lain. 
Tapi akhir-akhir ini, setelah ada beberapa kejadian yang menimpa saya, termasuk tentang masalah keuangan dan asamara. Saya mulai berpikir untuk berubah. Untuk memperbaiki kepribadian saya. Saya seharusnya sudah berpikir dewasa tidak seperti ABG atau bahkan anak kecil karena saya saat ini sudah menginjak umur 19 tahun. Usia di mana seseorang harus memikirkan kehidupan dan masa depan yang lebih panjang. Tidak hanya untuk main-main dan bersenang-senang saja.
Selain dari pada itu, dalam kehidupan kita dituntut untuk memilih dan mengambil keputusan yang kemudian keberanian untuk menghadapi resiko yang diakibatkan oleh pilihan atau keputusan kita. Karena hidup adalah sebuah pilihan. Itu yang menjadi pelajaran pertama yang saya hadapi saat saya menjadi mahasiswa, saat saya menginjakkan kaki di kota Surabaya dan memulai kehidupan. Saya dituntut untuk berani menghadapi semuanya sendirian tanpa orang terdekat atau keluarga yang akan membantu. Karena mereka takkan bisa. Ini kehidupan saya. Ini resiko saya dan mereka takkan bisa mengambil alih untuk membantu saya.
Dan dari semua yang selama ini saya alami dalam kehidupan ini satu yang saya tau pasti, Allah takkan pernah meninggalkan saya sendrian menghadapi ini, Allah akan selalu membantu karena tidak mungkin Allah memberikan suatu apapun kepada hambaNya kecuali ia mampu.
Lalu, di akhir dari perjalanan ini kita akan menemui sebuah keadaan yang cukup banyak orang takutkan, yaitu kematian. Saya jadi berpikir, kenapa banyak orang takut mati? Bukannkah mati memang sudah jadi kodrat seorang manusia? Sudah hal pasti yang akan kita hadapi? Kalau boleh jujur saya pun terkadang juga merasa takut, tapi saat itu pula saya buang rasa takut itu. Karena saya sadar saya tidak mungkin bisa menghindar dari kematian. Tentang kematian, saya teringat kata-kata Soe Hok-gie, “Yang paling beruntung di dunia ini ada dua. Yang tak pernah dilahirkan dan yang mati muda. Berbagialah mereka yang mati muda”. Memang benar, orang yang mati muda tidak banyak melakukan dosa, menimbulkan masalah dan merusak alam. Apalagi yang tidak dilahirkan pasti tidak akan punya kesempatan untuk itu.
Dan seiring berakhirnya tulisan ini, mudah-mudahan Allah menuntun saya ke jalan yang lebih baik dan lebih benar dari sekarang ini. Amien.
Juga terima kasih banyak untuk keluarga dan teman-teman saya karena dengan melalui mereka saya mendapatkan banyak pelajaran tentang kehidupan. Terlebih untuk dua orang yang saat ini tengah menghiasi mimpi saya, IWF dan YZ, terima kasih karena kalian sudah meluangkan waktunya untuk menjadi orang terdekatku. 


Saturday, 31 July 2010

BERAWAL DARI MIMPI UNTUK MIMPI

Mimpi. Itulah hal pertama yang sering kita bicarakan saat kita mulai merasakan keakraban di antara kita. Berawal dari kisah-kisah yang sama-sama kita baca dan kita senangi aku dan dirimu mulai saling berbagi tentang cerita-cerita itu. Hingga akhirnya aku tahu bahwa juga mempunyai keinginan yang sama denganku. Keinginan untuk bisa menjejakkan kaki di daratan tertinggi di pulau jawa. Di puncak Mahameru.
Mungkin keinginan itu biasa untukmu. Tapi untukmu sebuah hal yang sangat kebetulan mempunyai seorang teman yang mempunyai suatu keinginan yang sama yang lumayan menantang jika kita menjalaninya. Dan aku pun merasakan ada yang beda darimu ketimbang temen-temen perempuanku yang laen.
Keakraban kita pun mulai berlanjut. Suatu ketika kau bercerita padaku bahwa kau suka tentang cerita orang-orang yang hobinya adalah memecahkan segala misteri. Cerita tentang seorang detektif yang suka memecahkan kasus-kasus yang menurutku tidak terlalu masuk akal yang kita dalam bentuk gambar. Dan secara kebetulan hal itu juga adalah salah satu hobiku sejak masih kecil. Suka membaca komik detektif.
Dan sejak saat itu aku mulai melihat semua tokoh dalam cerita yang pernah kita bicarakan datang di setiap malamku bersamamu. Dan hal itu terus berulang hingga suatu malam aku tak dapat sedikit pun merasakan nikmatnya terlelap dengan pulas. Mataku tak sedikitpun mampu tertutup walau hanya sedetik. Aku dapat merasakannnya. Aku merasakan sebuah virus dengan warna merah muda telah merusak semua sistem dalam tubuhku. Ah… andai kau tau itu.
Pada awalnya aku takut untuk mengatakan semuanya padamu. Rasa takut akan keakraban yang selama ini kita jalani akan hilang gara-gara hal yang mungkin tak penting untukmu. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Hanya lewat tulisan yang kutaruh di salah satu jejaring sosial kau tau semuanya. Dan kita pun mulai membahas hal itu.
Saat kita membicarakan hal ini, aku pun mengerti pada dasarnya kau tak pernah menginginkan hal ini terjadi. Kau mengatakan padaku bahwa kejadian yang lalu yang membuatmu menjauh dengan beberapa orang terdekatmu. Tapi entah kenapa aku merasa suatu saat nanti kau akan sangat dekat denganku walau entah kapan itu terjadi.
Karena semua orang mempunyai keinginan dan mimpi. Kau punya keinginan dan mimpi begitu juga aku. Maka kita tak bisa memaksakan kehendak kita pada orang lain. Jika aku menginginkan sesuatu darimu sedangkan kau tidak, maka akan tidak boleh memaksamu, ataupun sebaliknya. Karena jika itu terjadi maka ego yang besar akan tumbuh dalam hati ini. Ataupun akan terlahirlah sebuah obsesi yang sangat besar yang nantinya merugikan orang lain, seperti katamu.
Ada satu hal yang seharusnya kau ketahui dariku. Mimpiku yang paling utama saat ini—setelah mimpiku untuk menjadi wartawan dan penulis besar di Negara ini—adalah mimpi untuk bisa hidup bersamamu. Menjalani semuanya denganmu. Dan menunggu usia senja kita sambil tetap bercerita tentang mimpi, bintang ataupun detektif-detektif kecil yang sering kita perbincangkan itu.
Namun, yang namanya mimpi bisa terjadi dan juga bisa tidak. Semua tergantung kepada Allah. Dia yang menentukan semuanya. Kita di dunia ini hanya bisa berharap dan menunggu serta tetap berusaha. Berharap Allah memeluk mimpi ini, seperti kata Andrea Hirata “Bermimpilah karena Tuhan memeluk mimpi-mimpimu”. Meskipun kemungkinan dari semua itu masih di bahwah 50%.
Aku berharap kau mengerti. Karena semua hal yang terjadi pada setiap orang perlu adanya pengertian antara yang satu dengan yang lain. Dan yang terakhir, jangan pernah hilangkan keakraban di antara kita. Aku ingin itu tetap ada beserta senyummu yang selalu kau berikan padaku saat kita saling bertatap.


Tuesday, 20 July 2010

ANNUQAYAH DI DADAKU

Jika boleh memplesetkan sebuah lagu, maka saya akan memplesetkan lagunya Netral yang berjudul ‘Garuda di Dadaku’ menjadi ‘Annuqayah di Dadaku’. Karena bagi saya Annuqayah tidak hanya sebagai sebuah pesantren belaka, melainkan Annuqayah bagi saya adalah orang tua dan desa kedua saya. Ya, meskipun saat ini secara adiministratif saya bukan lagi santri Annuqayah, tapi bagi saya pribadi saya tetap dan akan selalu menjadi santri Annuqayah sampai kapan pun.
Banyak sekali yang saya alami dan saya dapatkan selama enam tahun tinggal di Annuqayah, baik berupa ilmu, pengalaman, guru, sahabat dan banyak hal lainnya yang telah mewarnai hidup saya dan selalu menginspirasi saya untuk selalu menjadi lebih baik. Semua itu tidak akan pernah terlupakan.
Ada beberapa hal yang paling sering saya ingat dan saya rindukan saat ini dari Annuqayah. Yang pertama adalah sosok kiai yang paling bersahaja yang selalu sabar mengayomi santinya meskipun santrinya terkadang sering berbuat tidak sesuai yang dinginkan beliau. Yaitu KH. Ahmad Basyir AS. Sosok beliaulah yang paling saya rindukan dari Annuqayah. Betapa tidak, dengan keadaan beliau yang saat ini sudah mencapai usia senja, beliau masih mempunyai semangat yang sangat besar untuk memberikan ilmu dan pendidikan yang terbaik pada santrinya. Beliau selalu menjadi imam shalat jama’ah di Mushalla Latee atau pun mengajar Madrasah Diniyah meskipun pada saat itu juga kondisi beliau tidak cukup kuat untuk itu.
Mengingat beliau membuat mata saya seketika penuh air mata. Rasa kagum dan rasa haru bercampur dalam hati saya saat saya mengingat semua tentang beliau. Mulai dari semangatnya hingga perkataan-perkataan beliau tetap saya rasakan hingga saat ini, saat saya berada di kota Surabaya ini. Dan saya akan senantiasa selalu mendoakan beliau semoga beliau tetap kuat memberikan yang terbaik untuk santrinya dan semoga beliau diberikan pahala dan surga kelak di akhirat nanti.
Yang kedua, yang sangat saya rindukan dari Annuqayah adalah suasana religius yang tak pernah hilang. Memang, sudah sepatutnya semua pesantren identik dengan suasana religius. Tapi bagi saya suasana religius yang ada di Annuqayah sangat berbeda dengan suasana religius yang ada di pesantren-pesantren lain yang pernah saya kunjungi. Seperti Al Amin Prenduan, Al Is’af Kalaba’an atau pun Pesantren Tebuireng Jombang yang baru-baru ini saya kunjungi. Perbedaan suasana seperti juga diakui beberapa teman saya di Annuqayah yang juga pernah mengenyam pendidikan di pesantren lain.
Saya tidak dapat menjelaskan secara detail letak perbedaan suasana religius tersebut. Namun saat saya berada di Annuqayah saya merasakan sebuah ketenangan, ketentaraman dan kesejukan yang tidak pernah saya rasakan di Surabaya. Selain dari pada itu, secara tidak langsung orang-orang yang ada di sana menantang saya untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah.
Yang ketiga adalah tradisi menulis yang menjadi salah satu ciri khas Annuqayah. Ya, Annuqayahlah yang mengantarkan saya pada dunia yang sangat menyenangkan ini, dunia menulis. Berawal dari ketidaksengajaan saya masuk dunia tulis-menulis. Namun ketidaksengajaan tersebut telah membawa saya ke beberapa tempat-tempat seperti Jakarta dan juga memperkenalkan saya kepada orang-orang penuh semangat dalam menulis seperti Gus Muhammad Musthafa, Gus M. Zammiel el Muttaqien dan Gus M. Faizi. Beliau-beliaulah yang selalu saya jadikan contoh dan guru-guru saya dalam menulis, yang terkadang saat saya melihat karya mereka saya terpacu untuk terus menulis dan berkarya.
Di Annuqayah ada sebuah kompetisi untuk menulis yang akan selalu mendorong sesorang untuk menulis, meskipun hal itu tidak tampak secara kasat mata. Dan kompetisi itu tidak pernah saya rasakan di sini, sehingga sejak saya tinggal di Surabaya sampai saat ini tulisan saya masih bisa dihitung dengan jari. Berbeda saat saya masih di Annuqayah yang setiap hari, setidaknya saya menghasilkan sebuah tulisan dalam bentuk apapun.
Yang keempat adalah suasana sosialis dan rasa persaudaraan yang diterapkan para santri Annuqayah. Hal itulah yang tidak pernah saya rasakan di Surabaya. Di sini, semua orang seakan hanya mementingkan diri sendiri saja. Semua bersifat individual. Bahkan meskipun Pesantren Mahasiswa IAIN yang saya tempati sekarang ini berbasis pesantren, tapi tidak sedikitpun saya merasakan adanya rasa persaudaraan mereka sama seperti rasa persaudaraan teman-teman di Annuqayah. Semua orang yang tinggal di sini sulit untuk berkumpul dan bercerita-cerita seperti teman-teman di Annuqayah. Mereka hanya berkumpul dengan orang-orang yang menurut mereka satu derajat atau satu ideologi saja. Sungguh sangat tidak menyenangkannya kehidupan sosial di sini.
Hal-hal inilah yang selalu membuat saya merasa rindu pada Annuqayah. Dan satu hal yang ingin saya sampaikan pada semua orang, pada semua teman-teman saya terutama teman-teman di Annuqayah. Saya akan mengatakan bahwa seberapa besarpun kita ingin keluar dari Annuqayah maka sebesar itu pula rasa rindu yang akan kita rasakan saat kita jauh dari Annuqayah.
Dan jika suatu saat nanti, saat saya telah menyelesaikan semua proses studi saya, ada yang meminta saya untuk kembali atau pun menjadi bagian dari Annuqayah. Maka saya akan senantiasa untuk menerimanya. Karena Annuqayah di dadaku.


Monday, 21 June 2010

Malam yang Tak Lelap

Pernahkah anda tidak bisa tidur semalaman karena terganggu beberapa hal. Yah, saya yakin anda pasti pernah merasakan hal itu. Dan hal itu saya alami semalam. Semalaman saya tidak bisa tidur. Sebenarnya, semalam saya sangat ngantuk sekali, ditambah rasa capek setelah mengerjakan tugas UAS seharian. Tapi, rasa capek tersebut seakan tidak ada apa-apanya. Rasa ngantuk itu hilang dalam sekejap saat saya ingin memejamkan mata saya. Saya terus mencoba untuk memenjamkan mata saya, tapi tak bisa. Saya tetap tidak bisa terlelap sedikitpun.
Saya tidak mengerti mengapa saya tidak bisa tidur semalam. Yang jelas saat saya mulai memejamkan mata, secara otomatis seorang wanita hadir dalam pikiran saya. Wanita itu teman dekat saya di LPM Solidaritas. Namun saya tidak bisa menyebutkan identitasnya di tulisan ini, karena saya rasa masih belum tepat saya mengungkapnya.
Bayangan wanita—yang selanjutnya saya inisialkan dengan IW—itu memenuhi otak saya. Saya mencoba untuk memejamkan mata lagi. Tapi bayangan IW terus saja mengganggu saya. Membuka kembali mata saya dan membuat rasa ngantuk dan capek yang tadinya saya rasakan hilang seketika.
Sebenarnya, di antara saya dan IW tidak ada apa-apa. Tidak ada yang spesial. Hanya saja beberapa hari terakhir ini saya sering memberikannya dengan beberapa teman saya. Juga dalam beberapa waktu terakhir ini saya sering saling berkomentar di Facebook. Saya semakin tidak mengerti saat saya mengingatnya saya merasakan sesuatu yang bergejolak di dada saya. Saya tidak mengerti.
Dan setelah saya shalat subuh tadi, saya merenung sejenak. Apa yang sebenarnya terjadi pada saya. Saya tidak bisa menyimpulkannya, yang jelas sesuatu yang tidak biasa telah terjadi pada diri saya dan hal itu berkaitan dengan IW. Sekarang saya hanya bisa berharap dan berdoa kepada Allah semoga saya mampu melaluinya dengan mudah. Amin.

Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel, 5:00 WIB. 21 Juni 2010


Thursday, 10 June 2010

Berkunjung ke TVRI, Menyaksikan Kesenian Madura



Hidup di Surabaya nan jauh dari rumah membuat saya selalu merasa kangen pada kampung halaman saya, yaitu Sumenep ataupun Madura. Rasa kangen dan rindu seperti ini membuat saya selalu ingin bertemu dengan hal-hal yang berbau Madura, apapun itu. Padahal sebelum saya kuliah dan tinggal di Surabaya saya merasa kurang percaya diri ketika disinggung tentang hal-hal yang berbau Madura, baik itu seni, budaya ataupun hal lainnya yang berbau Madura. Namun hal itu sudah berubah saratus persen. Sekerang saya selalu berasa bangga dengan apapun hal-hal yang berbau Madura yang saya temui, terutama di Surabaya.
Tadi sore saya bersama teman-teman LPM Solidaritas serta teman-teman UKM lain yang sama-sama berada dibawah naungan Rektorat IAIN, menemani bapak Rektor Prof. Dr. Nur Syam, M.SI menghadiri acara Talk Show SEMANGGI (Semangat Menggali Inspirasi) di TVRI Jawa Timur.
Sebenarnya saya tidak menyangka akan diajak oleh senior LPM Solidaritas untuk mengikuti acara itu. Tiba-tiba saja tadi siang sehabis saya pulang kuliah senior saya di LPM Solidaritas SMS saya dan menyuruh saya untuk ikut acara tersebut. Tanpa pertimbangan lagi saya langsung berkata siap. Karena menurut saya acara ini pasti bakal bermanfaat dan akan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan, serta ini adalah kesempatan yang mungkin saja tidak akan datang untuk kedua kalinya.
Saya menuju Studio TVRI jam 16.30 bersama teman-teman menggunakan bus milik IAIN. Sesampai di depan Studio TVRI, sungguh tak menyangka di parkiran tersebut saya melihat sebuah bison bernomor polisi Pamekasan, Madura. Saat itu tak terbersit sedikitpun di benak saya bahwa mobil bison itu berhubungan dengna acara yang akan saya hadiri ini.
Saat saya memasuki Studio 2, tempat acara Semanggi on Air, saya melihat alat-alat musik yang tidak asing bagi saya, alat-alat musik Ul-Daul khas Madura. Seketika itu pula saya menyimpulkan bahwa acara ini pasti berhubungan dengan Madura karena menghadirkan seni Madura. Dan benar, acara ini berhubungan sekali dengan Madura dan bahkan salah satu Nara Sumbernya adalah Bupati Pamekasan, Drs. KH. Khalilurrahman, SH., orang yang cukup sering saya jumpai di Madura. Dan acara yang berdurasi satu setengah jam bersebut dimulai dengan tema “Pendidikan, Kesehatan dan Kewirausahaan”. Sedankan nara sumbernya selain bapak Bupati Pamekasan adalah Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya, Prof Dr. Nur Syam M.SI dan Direktur Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya, DR. Slamet Riyadi Suwono.


Perbincangan dan dialog yang dilakukan dalam acara itu berputar tentang pendidikan, kesehatan dan kewirausahaan di Jawa Timur terlebih di Pamekasan. Nah, yang membuat saya merasa bahagia dan bangga menghadiri acara itu adalah acara tersebut diselingi oleh penampilan kelompok Musik Ul-Daul asal Pamekasan. Memang saya bukan orang Pamekasan ataupun berdarah Pamekasan, tetapi tidak salah mungkin jika saya bangga karena music Ul-Daul itu memang sangat Madura sekali dan adanya hanya di Madura. Apalagi dalam penampilan tersebut ada seorang penyanyi Remaja yang juga orang Madura yang menyanyikan lagu-lagu Madura. Sungguh saya merasa sangat senang sekali menghadiri acara itu.
Mungkin tidak berlebihan jika saat ini saya kegirangan karena salah satu seni budaya Madura mulia dihargai oleh publik luar Madura. Karena dari dulu Madura identik carok ataupun dengan hal-hal yang berbau kekerasan. Dan pada saa ini mungkin semua orang yang menyaksikan acara di TVRI tadi akan tau bahwa orang Madura mempunyai sebuah seni yang patut dihargai dan diapresiasi.
MADURA, AKULAH DARAHMU!

Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel, 9 Juni 2010, 21:30


Tuesday, 8 June 2010

Sebuah Cerita di Pagi Hari

Hari ini tanggal 8 Juni 2010, hari ini adalah hari tes seleksi masuk IAIN Sunan Ampel 2010. Saya pun teringat akan satu tahun yang lalu, pada saat saya baru pertama kali menginjakkan kaki di IAIN Sunan Ampel sehari sebelum pelaksanaan test seleksi 2009. Saat itu, menginjakkan kaki dan berada di lingkungan IAIN merupakan hal—yang pada saat itu—tidak pernah saya bayangkan. Betapa tidak, saat itu bagi saya yang masih berstatus santri Annuqayah kuliah di luar Annuqayah terlebih lagi di luar Madura merupakan hal yang sangat diimpikan saya. Sungguh masih teringat segar bayangan itu di ingatan saya.
Dan sekarang, satu tahun sudah berlalu. Saya sudah resmi menjadi mahasiswa IAIN Sunan Ampel. Dan tinggal di Surabaya pun mulai terasa biasa-biasa saja, tidak ada sesuatu yang lebih seperti saat saya baru saja masuk di IAIN Sunan Ampel.
Memang benar, dunia dan waktu terus berputar, kadang di atas kadang di bawah. Hal itu pun telah terjadi pada saya. Dulu yang sangat menginginkan hidup di kota, sekarang mulai terasa membosankan hidup di kota. Saat ini saya merasa hidup di desalah yang sepertinya lebih tenang dan tak terbebani apa-apa. Tapi karena setiap keputusan mempunyai resiko, maka saat ini saya harus menjalani resiko dari keputusan saya yang pada satu tahun lalu memilih untuk kuliah di IAIN Surabaya. Dan saya terus berharap bahwa apa yang telah terjadi dan akan terjadi merupakan sesuatu yang terbaik bagi saya. Amin….


Pesantren Mahasiswa IAIN, 8 Juni 2010


Tuesday, 25 May 2010

PENGALAMAN ADALAH GURU YANG TERBAIK

“Pengalaman adalah guru yang terbaik” kata-kata inilah yang seharusnya aku tanamkan dalam-dalam di hatiku. Karena hingga sampai saat ini aku mengulangi kesalahan yang sama yang kemudian membuatku terus gagal mendapatkan sesuatu yang aku impikan.
Mungkin dalam beberapa hal aku sudah bisa mengaplikasikan kata-kata ini, seperti dalam menulis dan hal-hal yang berbau akademik. Namun ada satu hal yang di situ saya tidak dapat saya aplikasikan kata-kata di atas. Yaitu dalam memahami dan mengerti seorang wanita, atau yang lebih pasnya tentang perasaan wanita padaku.
Sudah berulang kali aku melakukan kesalahan yang seharusnya tidak terulang itu. Sudah empat kali aku tidak bisa menaklukkan hati seorang wanita, atau singkatnya ditolak. Untuk yang pertama dan kedua aku akui aku terlalu terburu-terburu untuk mengambil keputusan. Hanya kenal sebentar saja aku langsung meminta sesuatu yang lebih padanya, pantaslah ditolak. Dari itu kemudian banyak teman-temanku mengatakan kepadaku untuk mengenal wanita itu lebih dalam dan mengakrabkannya terlebih dahulu sebelum aku mengejarnya.
Di kali ketiga, aku mempraktekkan apa yang temanku bilang tadi. Aku mulai mengenal dan mencari tahu tentang wanita yang ketiga ini lebih mendalam. Tak perlu waktu lama aku untuk akrab dan tahu dia lebih jauh karena dia cukup kenal denganku sebelumnya, jadi lumayanlah. Saat aku sudah mulai mengenalnya sebenarnya aku sudah mau mengatakan bahwa aku mengharapkan sesuatu yang lebih darinya, tapi aku masih mengulur waktu yang lebih tepat dan pas. Mencari waktu yang pas pun saya tidak sebentar, sangat lama, sehingga wanita yang aku suka itu ditembak oleh orang lain terlebih dahulu. Dan aku pun terlambat ketika aku mengutarakan rasaku padanya. Dia sudah dengan orang itu. Kegagalan ketigaku, sungguh ironis.
Seharusnya ketika kegagalan yang ketiga itu terjadi aku membenahi diri. Dan itulah yang aku lakukan. Aku kembali suka sama teman satu semester di PBA IAIN, aku mulai mencari tahu dan mengenalnya lebih mendalam. Mencari tahu lewat teman terdekatnya. Cukup lama aku untuk mendakatinya. Ketika menurutku aku sudah cukup dekat dengannya, aku mengutarakan apa yang ada dalam hatiku. Dan jawabannya sama seperti yang sebelumnya, tidak. Aku bertanya apalagi yang salah dari langkahku? Aku sharing dengan salah satu temanku yang ku anggap lebih pengalaman dariku tentang masalah itu. Ternyata aku belum mengenalnya lebih dekat, itulah salahku. Belum mengenalnya lebih dekat. Yah… salah lagi. Padahal aku pikir aku sudah cukup dekat dengannya. Kejadian ini baru terjadi, tepatnya kemarin, tanggal 24 Mei 2010. Lessoh lajunin.
Semenjak saat itu saya berpikir, kenapa aku belum bisa mengambil pelajaran dari yang telah lalu. Mengapa aku terlalu tergesa-gesa? Mengapa aku selalu melakukan kesalahan yang sama? Pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar di otakku. Dan tulisan ini aku tulis untuk menghilangkan semuanya atau menjawab semuanya. Aku ingin belajar dari pengalaman, bantu aku ya Allah.
Semoga pertanyaan-pertanyaan yang berputar di otak ini segera terjawab. Dan aku bisa belajar dari pengalaman. Malam ini aku ingin tidur lebih lama, lebih panjang, lebih pulas dari biasanya. Agar semuanya menghilang dan esok hari aku bangun dengan wajah yang segar.
AKU INGIN TIDUR LEBIH LAMA MALAM INI.

Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel, 25 Mei 2010, 23:30 WIB


Monday, 24 May 2010

Yang Terbaik untuk Kita

Masih tergiang di telinga saya saat salah satu Guru saya di MA Tahfidh Annuqayah dulu berkata, “Semua yang Allah berikan kepada kita adalah yang terbaik untuk kita tanpa terkecuali”. Dulu, saya tidak pernah percaya dengan kata-kata beliau karena menurut saya hal itu tidak masuk akal. Namun, sejak saya berada di Kota Surabaya, saya pun mulai merasakan dan mempercayai kata-kata itu. Semua yang telah terjadi dan Allah berikan kepada kita adalah yang terbaik untuk kita.
Dulu saat saya dihadapkan pada sebuah pilihan lanjutan studi atau kuliah, saya ngoto untuk kuliah di Yogyakarta. Karena menurut saya di sana adalah tempat yang tepat untuk meneruskan hobi saya dalam dunia tulis menulis. Waktu itu, saya tidak peduli pada pendapat orang tua saya yang melarang saya untuk kuliah ke Yogyakarta dengan alasan jarak yang sangat jauh. Karena saking ngototnya, saya pun mengatakan saya sanggup untuk cari biaya sendiri asalkan saya dizinkan untuk kuliah ke Yogyakarta.
Salah satu langkah yang saya ambil waktu itu adalah mengikuti seleksi beasiswa di UGM bagi siswa yang kurang mampu (saya lupa apa nama programnya). Saya pikir hal itu yang paling tepat untuk langkah awalnya. Namun, setelah mendaftar dan mengirimkan berkas-berkasnya, saya tidak lulus dalam seleksi berkas karena kurang memenuhi persyaratan.
Saya tidak menyerah sampai di situ, saya terus mencari informasi. Namun tidak ada yang pas dengan apa yang saya inginkan. Akhirnya, setelah beberapa waktu, melihat tidak satu pun beasiswa yang saya dapatkan, orang tua saya dan seluruh keluarga menyeruh saya untuk kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya saja. Tapi saat itu saya tidak langsung menjawab dengan alasan istikharah dulu, baik itu saya sendiri atau orang tua saya. Padahal waktu itu alasan istikharah tersebut hanya untuk mengelur waktu saja agar tidak menututi batas waktu pendaftaran di IAIN Sunan Ampel. Dan setelah beberapa waktu orang tua saya mengatakan kepada saya bahwa hasil istikharah orang tua saya adalah IAIN Sunan Ampel sekaligus mendesak saya untuk segera mendaftar. Dan akhirnya saya menyerah dan mendaftar di IAIN Sunan Ampel. Yang kemudian berakhir dengan diterimanya saya di IAIN Sunan Ampel Surabaya di Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Bahasa Arab.
Setelah sampai di Surabaya saya masih kurang sreg dengan IAIN Sunan Ampel. Saya menjalani semuanya setengah hati. Bahkan dari saking kurang sreg-nya saya dengan IAIN Sunan Ampel, tidak ada satu karya dan tulisan yang saya hasilkan pada waktu itu. Saya mulai frustasi. Dan tibalah pada suatu waktu, ketika itu saya baru datang kuliah, ketika sampai di Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel (PESMA), tempat saya bermukim, saya melihat sebuah foto copy dari salah satu Koran lokal Surabaya edisi hari itu dalam satu halaman yang berisi rubrik opini. Dan penulisnya adalah salah satu mahasiswa yang tinggal di Pesma, yaitu Abd Basid. Seketika itu pula saya merasa iri dan ‘panas’, saya pun merasa tertantang untuk juga untuk menulis. Dan denger-denger dari teman-teman yang lain bahwa jika ada mahasiswa Pesma yang tulisannya dimuat di media akan mendapatkan imbalan dari pihan Pesma.
Saya mulai menulis kembali. Namun saya masih kurang beruntung untuk dimuat. Saya tidak menyerah, terus mencoba. Dan dalam waktu yang bersamaan saya mulai dekat dengan Abd Basid dan juga saya bergabung dengan LPM Solidaritas, LPM IAIN. Dan mulai saat itu saya terus berpacu untuk menulis. Baik itu opini, resensi atau puisi yang sudah menjadi darah bagi saya. Dan tepat pada tanggal 15 April 2010 tepatnya pada hari Jum’at, resensi saya yang berjudul “Buku, Pesta dan Cinta di Alam Soe-hok Gie” dari buku “Soe-hok Gie, Sekali lagi…” dimuat di Harian Bhirawa. Dari situ kemudian beberapa orang yang saya anggap orang penting di Pesma kemudian mengenal saya karena tulisan itu.
Sejak saat itu saya mulai sering sharing dengan Abd Basid dan teman-teman di LPM Solidaritas tentang tulisan. Semangat saya terus meningkat untuk menulis. Dan untuk kedua kalinya tulisan saya yang berupa resensi dimuat di Radar Surabaya pada tanggal 9 Mei 2010. Dan yang memberi tahu saya tentang hal itu adalah Abd Basid. Sungguh bahagia saya waktu itu. Sejak saat itu saya semangat saya terus tumbuh. Di LPM Solidaritas pun saya mendapatkan tempat yang ‘cukup diperhitungkan’ dalam segi tulisan.
Nah, itulah yang membuat saya tersadar dan merasakan tentang pemberian Allah kepada kita adalah yang terbaik oleh kita. Saya pun berpikir, andai saja saya tetap ngotot untuk kuliah di Yogyakarta saya yakin saya tidak mungkin akan mengalami dan merasakan hal yang begitu indah dan berarti ini. Sebuah perjalanan yang tidak mungkin saya lupakan dalam hidup saya.
Dari itu saya salalu mengucapkan banyak syukur kepada Allah tercinta. Juga kepada orang tua saya, ternyata benar, orang tua tidak akan mungkin menjerumuskan anaknya ke dalam jurang. I love you full, my father and mother.

LPM Solidaritas, Surabaya, 23 Mei 2010, jam 11:20