Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Friday, 24 December 2010

Menjadi Pemenang Kehidupan, Siapa Takut?


Judul Buku                : Menjadi Pemenang Kehidupan

Penulis                       : Dhony Firmansyah dan Istikumayati

Penerbit                     : Leutika, Yogyakarta

Cetakan                     : Pertama, September 2010

Tebal                          : xviii + 204 halaman

Peresensi                    : Akhmad Matin

 

Pernahkah terbersit di pikiran kita untuk menjadi seorang pecundang? Saya yakin tidak. Setiap diri manusia tidak akan pernah mau jadi pecundang. Semuanya pasti ingin menjadi seorang pemenang. Baik menang dalam banyak hal atau pun dalam hal-hal tertentu yang dianggap penting.

Namun meskipun begitu, banyak di antara kita hanya sebatas berkeinginan atau bermimpi saja. Akan tetapi tak pernah berusaha untuk mengejarnya. Banyak di antara kita yang hanya mengatakan bahwa aku ingin menjadi insinyur, ingin menjadi seorang politikus, ingin menjadi seorang wartawan atau lain sebagainya. Tetapi, tak sedikitpun berusaha untuk mengejarnya, merealisasikan keinginan tersebut. Karena tidak ingin menghadapi kesulitan dan rintangan dalam proses untuk mendapatkannya. Hal itu sama saja dengan kita lapar, ingin makan tapi tidak mau masak atau membeli makanan.

Nah, dari sekian banyak keinginan tersebut, yang paling inti dari keinginan adalah menjadi pemenang kehidupan. Baik kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat yang kekal. Karena hal tersebut sudah mencakup secara keseluruhan keinginan kita. Tetapi, seperti halnya keinginan yang lain, keinginan yang satu ini harus kita kejar dengan sekuat tenaga, tanpa mempedulikan rintangan dan rasa lelah yang mengganggu.

Yang dimaksud dengan pemenang kehidupan di sini adalah bagaimana kita mencoba untuk tabah dan kuat dalam menghadapi segala rintangan yang kita hadapi. Konsep pemenang kehidupan ini untuk mempermudah kita memahami tentang kehidupan, apa saja rintangannya, di mana posisi kita saat ini, dan bagaimana melewatinya dan memenanginya. Juga, konsep pemenang kehidupan ini mengajarkan kepada kita bahwa kekurangan yang melekat pada diri kita bukanlah penghalang untuk meraih sukses, melainkan menggunakannya sebagai jalan menuju sukses.

Buku yang dikarang oleh sepasang suami-istri ini mengajak kita untuk lebih dalam lagi memahami tentang hidup, tentang semua yang kita hadapi dunia hingga kelak bisa menjadi pemenangnya. Pemenang dari semuanya. Baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.

Ada tiga poin pokok yang menjadi bahasan utama dari buku ini. Pertama, untuk menjadi pemenang kehidupan kita harus terlebih dahulu mengenal diri kita sendiri. Dengan mengenal siapa kita maka kita akan lebih objektif dalam menjalani kehidupan. Apabila kita mengalami kegagalan, kita akan cepat bangkit dan tidak mudah putus asa. Dengan konsep diri yang jelas, keberhasilan akan kita sambut dengan rasa syukur dan berbagi. Kita akan menghapus rasa sombong, ujub dan takabur dalam diri kita.

Kedua, arti dan peran keluarga dalam kemajuan diri kita. Kita dan keluarga adalah sebuah kesatuan yang tak terpisahkan. Keluarga di sini diartikan secara luas. Pertama, keluarga dalam arti ayah, ibu, dan anak. Kita ada karena kedua orang tua kita rela dnegan sekuat tenaga membersarkan dan mendidik kita. Yang kedua, keluarga dalam arti tatanan masyarakat. Kita bisa hidup hingga sekarang karena kita dan orang-orang di sekitar kita saling membutuhkan. Artinya, keluarga adalah orang-orang di sekeliling kita yang saling take and give.

Poin ketiga adalah langkah-langkah kongkret dan kunci untuk menjadi pemenang kehidupan. Dengan mulai menuliskan atau merencanakan apa impian kita yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu. Juga mengatur waktu kita sedemikian rupa agar kita bisa membaginya untuk bekerja, mencari ilmu, berkumpul dengan keluarga, dan beristirahat sehingga kita bisa melangkah menuju kemenangan dengan maksimal. Serta tidak lupa untuk selalu bersyukur dan bersabar dalam menghadapi semua yang ada di depan kita.

Namun, kunci yang paling utama untuk menjadi seorang pemenang kehidupan ada pada diri kita sendiri. Kita harus membuang bermacam pikiran negatif yang bisa saja menghampiri optimisme yang coba kita bangun. Pemikiran tentang kesulitan, kesibukan yang makin banyak, target yang merepotkan dan lain sebagainya, bisa muncul simultan. Untuk itu, buku ini mengajak kita untuk mengubah pemikiran tersebut (hal. 194).

Selain itu, didalam buku ini dijelaskan untuk bisa menjadi seorang pemenang, kita harus mampu menghadapi lingkungan yang mungki saja tidak mensupport kita untuk kemajuan diri kita. Misalnya komunitas, jika saat ini kita berada di komunitas yang tidak mendukung tujuan kita, maka setidaknya kita mencari komunitas lain yang sekiranya bisa mendukung kemajuan kita namun tidak serta merta meninggalkan komunitas yang lama.

Dengan dilengkapi kisah-kisah inspiratif di setiap bab dan sub babnya, buku ini akan membuka pemikiran kita untuk lebih luas melihat dan memahami tentang arti dan tujuan hidup yang sesungguhnya. Sehingga kita bisa dengan lapang dada bisa menghadapi segala cobaan dan rintangan yang menghadang kita dalam perjalanan hidup kita yang cukup panjang ini.

Hemat saya, buku ini merupakan buku yang sangat cocok sekali bagi anda yang saat ini tengah mengalami degradasi semangat karena terlalu banyak hal yang sedang anda hadapi, yang membuat anda sedikit agak menyerah. Dengan membaca buku ini, saya yakin semangat anda akan kembali on fire untuk menghadapi semuanya. Sehingga kita tidak takut lagi untuk menjadi pemenang kehidupan. Selamat Membaca!


Friday, 10 December 2010

Mencari Hidup Sukses dari Surat Al Insyirah


Judul Buku         : Sukses & Bahagia dengan Aurat Al Insyirah

Penulis                : Taufiqurrahman Al Azizy

Penerbit              : Sakanta, Yogyakarta

Cetakan              : Pertama, Nopember 2010

Tebal                  : 208 halaman

Peresensi            : Akhmad Matin

 

Dulu saat saya masih belajar di Pondok Pesantren di Madura, salah satu guru saya di sana pernah mengatakan bahwa di setiap isi Al Quran, baik surat, ayat dan hurufnya tidak hanya mempunyai makna dan bahasa yang indah tapi juga mempunyai banyak kandungan yang berupa kekuatan, khasiat dan tips-tips untuk hal-hal tertentu. Tips-tips tersebut jika kita mengamalkan atau mengaplikasikannya di kehidupan kita secara rutin. Baik diamalkan secara bacaan di setiap selesai shalat atau waktu tertentu ataupun diaplikasikan secara prilaku kita akan mendapatkan kebahagian.

Di sisi lain, jika ayat Al Quran dibaca dengan jumlah dan waktu tertentu akan mempunyai khasiat dan keutamaan tertentu. Seperti halnya Ayat Kursi yang jika dibaca tiga kali sebelum tidur, maka kita akan terbebas dari gangguan setan saat kita tertidur. Atau surat Al Waqiah dan Al Mulk jika kita baca dengan rutin menjelang maghrib maka kita akan dipermudah dalam mendapatkan rejeki dan keinginan kita.

Seperti itu juga Surat Al Insyirah. Di dalam surat ke-94 tersebut terdapat banyak kandungan dan khasiat termasuk tentang konsep kehidupan yang bisa membuat kita sukses dan bahagia menjalani hidup kita di dunia ini. Dan juga jika dibaca dalam jumlah tertentu surat Al Insyirah bisa menyembuhkan beberapa macam penyakit.

Salah satu contohnya jika Surat Al Insyirah dibaca 33 kali pada air, lalu air tersebut diminumkan sebanyak 2 kali sehari, maka penyakit polip, sinusitis, dan batuk akibat asap rokok akan sembuh (hal. 15). Atau, jika kita membacanya 7 kali setiap kita selesai shalat fardhu maka kita akan dijauhkan dari kesusahan dan dipermudah dalam mendapatkan rejeki; atau pula jika dibaca 40 kali setelah shalat lima waktu selama tujuh hari berturut-turut maka kita akan dilimpahkan kekayaan oleh Allah (hal. 14).

Sedangkan kandungan dari surat Al Insyirah ini, atau yang disebutkan oleh penulis buku ini sebagai Aurat Al Insyirah atau dalam bahasa Indonesia rahasia terdalam dari surat Al Insyirah yaitu ada lima hal. Yang pertama, surat ini menerangkan kepada tentang lapang dada. Yang dimaksud dengan lapang dada di sini bukan dalam arti fisik melainkan sebuah ungkapan bagi seseorang yang berjiwa besar. Atau lebih singkatnya dikatakan lapang dada untuk menerima kebenaran-kebenaran yang diberikan Allah seperti yang telah diterangkan di ayat pertama Surat Al Insyirah.

Yang kedua adalah tentang hilangnya beban. Artinya, setelah kita mampu berlapang dada terhadap segala hal yang terjadi pada diri kita, maka beban yang terasa akan hilang secara bersamaan. Karena keberadaan kesulitan, halangan, dan rintangan inilah yang merupakan beban hidup yang harus kita alami. Dengan demikan, mampu menghadapi kesulitan, halangan, dan rintangan sama halnya dengan mampu menghilangkan beban. Dengan kata lain, ketiadaan beban dalam hidup berarti hilangnya kesulitan, halangan, dan rintangan hingga tercapai apa yang menjadi tujuan (hal. 89).

Setelah kita mampu berlapang dada yang kemudian dilanjutan dengan hilangnya beban pada diri kita, maka kita akan mendapatkan sebuah citra yang baik, baik di hadapan Allah ataupun sesama manusia. Dan pencitraan atau tingginya nama kita inilah yang menjadi Aurat Al Insyirah yang ketiga. Artinya, surat yang terdiri dari delapan ayat tersebut mengajarkan kita bahwa sesuatu yang dilalui dengan lapang dada atau ikhlas akan berakibat baik pada diri kita dan citra kita di mata Allah dan sesama.

 Selanjutnya, Aurat Al Insyirah yang keempat, yaitu setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Ayat kelima dan keenam dalam syurat ini menerangkan bahwa setiap kesulitan ada kemudahan, artinya seberapa sulit hal yang kita hadapi pasti dibalik itu pasti ada kemudahan ataupun kegembiraan. Lebih singkatnya semua pasti ada hikmahnya. Di ayat yang kelima ini, secara tidak langsung mengajarkan kinta tentang konsep kehidupan Yassiru wa La Tuassiru (mempermudah suatu kesulitn bukan mempersulit).

Sedangkan Aurat yang kelima adalah Prinsip Istiqomah. Setelah empat Aurat di atas kita pun dituntut untuk Istiqomah dalam menjelankan keempatnya. Prinsip istiqomah ini juga mengajarkan kita untuk tidak menunda-nunda suatu pekerjaan untuk menjadi lebih baik. Prinsip istiqomah ini tidak hanya diterapkan untuk Aurat Al Insyirah saja. Melainkan pada setiap langkah hidup kita, terutama dalam hal kebaikan.

Dengan buku ini, sang penulis Taufiqurrahman Al Azizy sebenarnya ingin mengajak kita untuk mempelajari dan membaca Al Quran lebih mendalam, lebih mendatail untuk mendapatkan kandungan dan khasiat dari Al Quran. Terutama Surat Al Insyirah. Karena Al Quran merupakan panduan hidup umat Islam di seluruh dunia.

Hemat saya, buku ini sangat baik sekali bagi anda yang sangat menyukai hal-hal yang bersifat religius atau tentang amalan-amalan dan wiritan-wiritan. Karena di dalam buku juga dijelaskan tentang khasiat Surat Al Insyirah jika dalam jumlah tertentu. Sedangkan anda yang belum begitu mengenal kandungan surat Al Insyirah, maka buku ini sangat cocok untuk mempelajari tentang Al Insyirah secara mendetail. Selamat Membaca!


"Dimuat di Duta Masyarakat, Minggu, 19 Desember 2010


Wednesday, 12 May 2010

Gus Dur, Indonesia, dan Islam


Judul Buku : Gus Dur Sang Guru Bangsa
Penulis : Wasid
Penerbit : Interpena, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2010
Tebal : xxx + 186 halaman
Peresensi : Ahmad Al Matin

Ada sebuah ungkapan berbahasa Arab yang mengatakan bahwa orang yang mempunyai ilmu akan terus hidup meskipun jasadnya telah mati dan dikubur dalam tanah. Pepatah itu telah terbukti pada Gus Dur. Benar, Gus Dur telah wafat pada tanggal 30 Desember 2009 kemarin, namun hingga saat ini beliau masih terasa hidup di tengah-tengah kita. Hal itu disebabkan karena Gus Dur adalah orang pintar atau berilmu yang meninggalkan ilmunya untuk kita semua yaitu rakyat Indonesia umumnya dan ummat Islam khususnya. Atau yang lebih ringkasnya pemikiran Gus Dur.
Sebagai seorang tokoh yang terlahir dari kalangan pesantren, Gus Dur mempunyai pemikiran yang melebihi pemikir lainnya. Tidak hanya para pemikir yang sama-sama dari pesantren saja yang mengakui hal itu, dari luar kalangan santri atau pesantren banyak yang mengakui tentang pemikiran Gus Dur yang lebih luas dari yang lain. Pemikiran Gus Dur yang luas tersebut sebenarnya dilatar belakangi oleh latar belakang pendidikan Gus Dur yang komplet. Seperti yang telah tertulis dalam buku ini bahwa selain mengenyam pendidikan pesantren, Gus Dur juga pernah mengenyam pendidikan luar pesantren.
Perjalanan pendidikan Gus Dur dimulai dari SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) di Jakarta pada tahun 1954. Namun pada tahun itu juga dia langsung dipindahkan oleh ibunya, Nyai Sholicha ke SMEP Yogyakarta. Di Yogyakarta inilah pemikiran Gus Dur diasah. Beliau mulai suka membaca buku-buku bahasa Inggris, karya-karya sastrawan dunia seperti Hewingway, Steinbeck, Malraux dan Faulkner, juga buku-buku pemikiran kiri seperti Das Kapital karya Karl Marx. Dan pada tahun 1959 Gus Dur kembali ke dunia pesantren, beliau ‘mondok’ di Pesantren Tambakberas Jombang asuhan KH. Wahab Hasbullah dan juga sesekali melakukan komunikasi intensif dengan sang Kakek dari ibunya, KH. Bisri Syansuri (hal 87).
Setelah itu, dia melanjutkan sekolahnya ke Mesir pada tahun 1964 untuk belajar ilmu-ilmu agama di Ma’had Al Dimsat Al Islamiyah di lingkungan Al Azhar Islamic University. Sesampainya di sana, beliau kecewa dengan sistem pengajaran yang dipakai di sana yang menitikberatkan pada sistem hafalan saja. Namun meskipun demikian, beliau menfaatkan waktu di Kairo dengan sebaik mungkin, yaitu dengan menghabiskan waktunya di salah satu perpustakaan yang lengkap di Kairo, termasuk American University Library.
Dari Kairo, Gus Dur terbang ke Baghdad. Di kota ini, beliau melewatinya dengan penuh rasa bahagia karena mempelajari sastra Arab, filsafat dan teori sosial Eropa. Di sana juga kultur sebagai aktivis tumbuh dan berkembang dari kepribadian Gus Dur, hingga tercatat pernah menjabat Ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia untuk Timur Tengah masa bakti 1964 hingga 1970 (hal 89). Dan setelah itu, beliau terbang ke Kanada untuk mempelajari kajian-kajian keislaman secara mendalam di McGill University.
Dari pengalaman-pengelaman dan perjalan pendidikan seperti ini juga bermacam-macamnya bacaan yang telah dilahap, lahirlah sebuah pemikiran yang sangat komplet dan kritis dari Gus Dur. Tidak hanya kaedah-kaedah pesantren yang beliau gunakan sebagai landasan pemikirannya, tapi juga hasil pemikiran-pemikiran orang barat. Namun, yang perlu dicatat di sini selama Gus Dur berada di luar negeri tak ada satu pun ijazah yang beliau dapatkan. Karena setelah satu kuliah hampir selesai beliau langsung membiarkannya dan pindah ke kuliah yang lain. Juga karena beliau tidak terlalu mempermasalahkan formalitas ijazah, yang terpenting bagi beliau adalah bagaimana proses mendapatkan ilmu.
Dengan berbagai latar pendidikan yang telah beliau lalui, pemikiran Gus Dur seakan sulit dicapai oleh orang lain terutama oleh mereka orang-orang awam. Kemudian pemikiran beliau tersebut beliau gunakan untuk merubah lingkungan dan bangsannya. Mulai dari NU dengan gagasannya untuk kembali ke khittah 1926 sampai ke Indonesia dengan ide-ide pluralismenya yang beliau lakukan semasa beliau menjadi presiden.
Dengan pemikiran-pemikirannya tersebut Gus Dur mampu menempatkan dan menyesuaikan diri di mana dan kapan saja. Seperti yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si. dalam Kata Pengantar buku ini (hal xx). Gus Dur ibaratnya seorang pemain sepak bola, beliau mampu bermain di posisi apa saja, belakang, tengah atau depan serta mampu berimprovisasi secara memadai. Beliau juga tidak hanya seorang play maker yang hanya mengatur permainan saja, tetapi juga mampu menjadi target man atau bahkan stopper yang handal. Di sinilah tak seorang pun yang mampu menandingi beliau.
Nah, proses keilmuan Gus Dur yang komplet dari berbagai sumber menjadikan Gus Dur menjadi individu kosmopolitan dan senantiasa menawarkan joke-joke segar bukan hanya membangun rasa kritisisme dalam menyikapi persoalan sosial kehidupan, tapi juga dalam model guyonan yang membuat kita terpingkal-pingkal. Seperti ungkapan yang beliau ucapkan “Gitu aja kok repot”, sebuah ungkapan yang menyimbolkan agar seorang tidak terlalu mempersulit masalah tapi mempermudahnya. Tradisi yang juga dikenal di kalangan umat Islam sebagai yasshiru wala tuassiru.
Buku ini merupakan dari sekian buku yang disajikan oleh para penulis untuk kita rakyat Indonesia secara umum dan Islam khususnya, agar terus mengenang Gus Dur dan juga meneruskan apa yang beliau inginkan, yaitu NKRI yang tentram dan anti perpecahan. Tidak hanya itu, buku ini juga mengajak kita untuk mempelajari lebih mendalam tentang pemikiran Gus Dur terhadap Islam dan Indonesia. Bagaimana kita menggabungkan pemikiran Islam dan barat untuk membangun Negara lebih maju dan anti perpecahan.
Namun, layaknya semua sesuatu di dunia ini, buku ini juga mempunyai kekurangan. Buku yang diangkat dari tesis penulisnya ini mempunyai bahasa yang lumayan tinggi yang kemudian membuat buku ini terasa berat untuk dibaca. Tidak hanya itu pula, tak ada sedikit pun arus yang mengalir dari buku ini. Artinya, jika anda membaca buku ini siapkanlah sebuah hiburan setelahnya karena anda merasa bosan dengan buku ini. Selamat membaca.


Resensi ini dimuat di RADAR SURABAYA edis Minggu 9 Mei 2010


Saturday, 24 April 2010

MENYELAMI KISAH DASAR LAUT


Judul Buku : The Deep (Dasar Laut)
Penulis : Helen Dunmore
Penerjemah : Rosemary Kesauly
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : Pertama, Januari 2010
Tebal : 304 halaman

Keindahan dasar laut membuat kita sejenak melupakan semua problema yang kita hadapi. Laut yang penuh dengan tumbuhan bawah laut nan indah, karang-karang, dan ikan warna-warni yang pastinya akan membuat kita tercengang melihat kekuasaan Tuhan itu. Namun, selain memiliki keindahan, laut juga membawa musibah dan masalah yang kemudian merubah kehidupan kita yang dulu terasa tentram, nyaman nan indah menjadi penuh kisah sedih dan masalah yang tak kunjung selesai. Mungkin itulah sedikit gambaran tentang cerita yang diungkapkan oleh Helen Dunmore dalam empat bukunya Tetralogi Ingo.
Setelah sukses menceritakan tentang laut pada buku pertama (Ingo) dan kedua (The Tide Knot), Helen kembali mengajak kita kembali menyelam ke dalam kisah-kisahnya tentang laut. Dalam buku keempat ini, diceritakan bahwa kaum Mer meminta bantuan kepada Sapphire untuk menidurkan Kraken, seekor monster yang bersemayam di dasar laut. Menurut sejarah kaum Mer, jika monster tersebut tidak ditidurkan, ia akan menghacurkan Ingo. Untuk mencegahnya kaum Mer hanya memiliki dua pilihan, menidurkannya atau memberikan sepasang anak laki-laki dan perempuan. Sedangkan untuk menidurkannya harusada yang pegi ke dasar laut. Dan hanya mereka yang berdarah campuran manusia dan Mer yang bisa sampai ke dasar laut.
Namun, meskipun pertolongan dari Sapphire sangat dibutuhkan oleh kaum Mer. Sapphire tidak langsung menyanggupi permintaan mereka. Ia masih mempertembingkannya lagi. Terlebih Conor, kakak Sapphire dan Faro sahabatnya dari Mer, tak akan membiarkannya pergi ke dasar laut tanpa mereka berdua. Karena menurut Saldowr, penasehat kaum Mer dan Granny Carne, wanita tua yang tinggal di sebelah rumah Sapphire yang juga banyak tahu tentang Mer, perjalanan ke dasar laut bukanlah hal yang mudah, di sana banyak sekali bahaya yang menanti. Oleh karena itu, Sapphire kemudian meminta bantuan ikan Paus baik yang pernah membantunya keluar dari dasar laut dulu saat terbawa arus ketika banjir melanda kotanya.
Singkat cerita, Sapphire pun bisa memenuhi permintaan kaum Mer untuk menidurkan Kraken. Cerita selanjutnya dari novel tersebut adalah rencana Mum dan Roger untuk pergi ke Australia untuk berlibur selama beberapa bulan. Di sini, Sapphire dihadapkan pada dua pilihan antara ikut berlibur ke Australia untuk membahagiakan Mum atau tetap tinggal di rumahnya agar bisa sewaktu-waktu mendatangi Ingo dengan bebas. Nah, di masalah ini kemudian Granny Carne mempunyai andil cukup besar dalam menyelesaikan masalah. Wanita tua yang cukup dijauhi anak-anak ini kemudian membantu Sapphire, Conor dan Mum mencari jalan keluar dari masalah ini, meskipun masalah ini kesannya hanya sepele.
Cerita lainnya adalah rencana Sapphire dan Faro untuk melakukan penyebrangan Ingo, sebuah adat dari kaum Mer sebagai bukti perubahan seorang anak menjadi dewasa setelah melakukannya. Namun, cerita ini hanya dijelaskan sedikit saja karena cerita inilah yang akan menjadi cerita inti pada buku keempatnya nanti.
Di novel ini Sapphire belum bertemu lagi dengan Dad, meskipun di beberapa bab hal itu sempat diperbincangkan oleh Sapphire dan Conor. Secara keseluruhan, novel ketiga lebih kaya akan konflik dan jalan ceritanya lebih menarik. Ada beberapa tokoh Mer baru dengan karakter protagonis maupun antagonis yang turut meramaikan.
Sampai tiba akhir, novel ini sama sekali tidak menjelaskan ketakutan Mer. Di dalam Bab Empat sebenarnya hal ini sudah ditanyakan Sapphire pada Rapat Besar Mer, namun tidak ada jawaban yang pasti. Mereka hanya ketakutan harus memberikan anak-anak mereka kepada Kraken. Padahal seperti yang diutarakan Sapphire, kaum Mer hidup di Ingo dan tidak mungkin bisa ke dasar laut. Kraken hidup di dasar laut dan tidak akan pernah ke Ingo.
Dengan novel ini Helen Dunmore membuktikan kepiawaiannya dalam menjalin benang merah dari setiap sekuel dan mengeksploitasi laut dan isinya menjadi hal-hal yang mendebarkan, tetap misterius tapi sangat memikat. Sehingga mau tidak mau, kita akan dipaksa untuk berlama-lama untuk menyelesaikan kisahnya. Yang kemudian membawa kita terseret ke dunia Ingo dan percaya kehidupan bawah laut itu ada. Kita pun semakin penasaran untuk mengenal laut yang sebenarnya. Ingo memang dunia yang luar biasa.
Selamat Membaca!


Sunday, 14 March 2010

MENGENANG SOE HOK-GIE


Judul buku : Soe Hok-gie ...Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya
Editor : Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, dan Nessy Luntungan R.
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta
Cetakan : Pertama, Desember 2009
Tebal : xl + 512 halaman

Apa yang bisa kita kenang dari seseorang yang telah menghadap yang Maha Kuasa 40 tahun yang lalu kalau bukan perjuangan, pemikiran, dan karyanya. Betul, Soe Hok-gie yang telah terlebih dahulu dipanggil oleh-Nya merupakan salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang turun ke jalan pada tahun 1966 untuk menumbangkan pemerintahan Orde Lama. Memang pada saat itu pemuda atau mahasiswa seperti Hok-gie cukup banyak. Namun pemuda idealis, humanis, dan moralis sepertinya cukup ‘langka’.
Sosok pemuda seperti Hok-gie pada saat ini pun nyaris tidak ditemui di Negara kita. Seorang pemuda yang selalu resah dengan keadaan Negara dan rakyatnya yang tidak menentu. Seorang pemuda yang mempunyai peran cukup besar dalam menumbangkan pemerintahan orde lama tetapi juga menentang pemerintahan orde baru yang dirasanya seenaknya saja. Seorang penggila buku, jago diskusi tapi juga cinta terhadap lingkungan sekitarnya dan juga seorang pemuda yang romantis.
Kematian Soe Hok-gie pada tanggal 16 Desember 1969—sehari sebelum hari ulang tahunnya—di puncak Mahameru, tanah tertinggi di pulau Jawa, menyisakan luka yang cukup mendalam di hati teman-teman dan keluarganya. Betapa tidak, dikalangan teman-temannya Hok-gie dikenal sebagai seorang yang sangat pintar bergaul, tidak pernah pamrih, dan selalu mendengarkan segala keluh kesah teman-temannya tentang sesuatu, baik itu masalah lingkuan ataupun sesuatu yang sifatnya sangat pribadi sekali. Tidak hanya itu, Hok-gie juga dikenal sebagai seorang penulis yang karyanya cukup disenangi dan dipublikasikan di beberapa media terkemuka pada saat itu, salah satunya Kompas, Sinar Harapan dan Indonesia Raya. Bahkan, dari saking banyaknya orang yang mengagumi tulisannya ada salah satu pengagumnya, yaitu seorang penjual peti jenazah dengan rela menyumbangkan peti jenazah untuk evakuasi mayat Hok-gie dari Malang ke Jakarta.
Bagi Herman O Lantang dan Rudy Badil, Soe Hok-gie merupakan teman yang sangat mereka sayangi. Karena bagi mereka, selain memang Hok-gie cukup pintar dan cerdas, ada kesamaan hobi yang membuat mereka begitu dekat, yaitu mecintai alam dan mendaki gunung. Hal ini memang sering dilakukan oleh mereka terlebih ketika pemerintahan sedang dalam keadaan tidak menentu lalu mereka membuang segala kepenatan dan kebosanan terhadap pemerintah dengan mengenal alam lebih dekat. Hal itu terbukti ketika adanya beberapa karya Hok-gie yang mengisahkan tentang keindahan alam pegunungan yang telah ia daki.
Menurut Arief Budiman, kakak Hok-gie, kegemaran Hok-gie pada dunia baca-tulis memang sudah tercermin sejak ia masih berumur belasan tahun. Saat teman-temannya yang lain sedang mengejar layang-layang, Hok-gie malah nongkrong di genting rumah sambil membaca buku, atau sekedar merenung. Ketika ia dewasa, kegemaran itu mulai bertambah dan mendarah dalam dirinya. Juga menurut pengakuan Arief Budiman, ketika Hok-gie pulang dari kampus atau kegiatan lainnya di luar rumah, saat semua anggota keluarganya telah terlelap, dengan diterangi lampu neon yang sinarnya suram karena voltase listrik saat itu sering turun ketika malam hari, Hok-gie menulis bermacam tulisan baik tentang pengalamannya di alam bebas, ataupun tentang keresahan dan kritik pada pemerintah yang kemudian karya-karya itu kemudian dipublikasi di berbagai media.
Dalam perbincangan aktivisme gerakan mahasiswa Hok-gie merupakan sosok yang “langka” di tengah periode kontestasi politik ideologi masa itu, persisnya pada senjakala pemerintahan Soekarno dan awal menyingsingnya kekuasaan rezim Orde Baru. Tipikal Hok-gie itu merujuk pada rekam jejaknya yang tak menjadi bagian organisasi politik dan partai ideologis apa pun, bahkan sampai batas akhir hidupnya. Padahal, pada masa itu “mahasiswa Jakarta pada umumnya jauh lebih lebur sebagai bagian atau bahkan perpanjangan tangan dari kelompok-kelompok politik ideologis yang ada dalam struktur Nasakom”. Yang perlu dicatat di sini, aktivitas gerakan di era kontestasi politik ideologi tak mungkin dilepaskan dari aspek pergaulan dan kesesuaian pemikirannya. Untuk kasus Hok-gie, dia dekat dengan aktivis Gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis) dan sempat menaruh simpati ke PSI (Partai Sosialis Indonesia).
Bahkan, karena sikapnya yang tidak mau melebur lebih jauh sebagai anggota dari suatu organisasi politik atau partai ideologis, dia menjadi ‘musuh’ dari mantan teman-temannya. Selain itu, dia juga sering dijuluki “cina kecil” oleh ‘musuh-musuhnya’ dan orang-orang yang sempat ia kritik melalui tulisan. Namun hal itu tidak ia pedulikan, ia tetap terus menulis, berpikir dan mengkritik.
Buku yang digadang-gadang untuk menampilkan Soe Hok-gie (sekali lagi) ini sangat cocok dicerna dan dikonsumsi oleh para pelajar dan pemuda. Selain itu pula, buku ini merupakan salah satu cara untuk mengenang sosok Soe Hok-gie sekaligus menampilkan kembali sosoknya, terlebih pada saat Negara kita sedang dalam keadaan seperti saat ini. Maka, kalau boleh berceletuk sebentar, kira-kira seperti apa ungkapan Hok-gie melihat energi masyarakat dan mahasiswa yang belakangan hari kerap diwarnai aksi protes? Sebagaimana dituliskan Rudy Badil (hlm. 266), mungkin sekali beginilah pernyataan pesan Hok-gie yang tertuju kepada pemangku kekuasaan, “Jangan memancing perasaan anak-anak muda itu. Mereka anak-anak zaman sekarang yang pemarah. Mereka itu angkatan the angry young men, bukan crossboys lagi, bukan hippies juga.”
Mungkin kita tidak bisa atau bahkan tidak mungkin menjadi Soe Hok-gie, karena Soe Hok-gie takkan pernah tergantikan. Kita hanya bisa meneladi dan menghadirkan sosoknya pada diri kita. Lantas bagaimana caranya? Jakob Oetama menganjurkan dengan jernih akal, “Dilakukan tidak dengan maksud mengultusindividukan, ...melainkan menawarkan nilai-nilai keteladanan, utamanya integritas dan kebersihan hati.” (hlm. xiv) Pembaca, kita ditantang untuk itu.


Monday, 28 December 2009

JALAN PANJANG SANTRI MENJADI PENULIS


Judul Buku : Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis
Penulis : Rizal Mumazziq Zionis, dkk.
Penerbit : Muara Progresif
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : xii + 224 halaman

“Kalau engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Kata-kata Imam Ghazali itulah yang membuat semangat Syaiful A’la, salah satu penulis buku ini, terus berkobar untuk menulis. Kesukaannya terhadap bidang tulis-menulis itu muncul sejak ia duduk di bangku MTs (setara dengan SLTP) di Nasy’atul Mutuallimin, Dungkek Sumenep. Saat itu banyak teman-teman yang tidak tahu tentang kesukaannya itu, sebab ia memang cenderung menutup diri, dan ketika menulis pun ia lakukan di tempat yang cukup sepi, yaitu di jalan yang menghubungkan antara rumah dan sekolahnya, jaraknya pun cukup jauh dan tempatnya lumayan sepi. Kebiasaan ini pun ia bawa saat ia mondok di Pondok Pesantren Nasyatul Mutallimin Gapura Sumenep, yang kemudian membawanya berkenalan dengan beberapa media cetak. Serta memberinya kesempatan untuk menjadi Redaktur Buletin ‘Gelora’ di Pondoknya.
Setelah lulus dari pondok itu, ia pun melanjutkan pendidikannya ke IAIN Sunan Ampel Surabaya. Meski pada awalnya ada beberapa pihak yang kurang setuju dengan keputusannya, namun dengan segenap keyakinan ia tak menghiraukan pendapat mereka itu. Keyakinan itulah yang membawanya pada sebuah pertemuan dengan beberapa teman yang di kemudian hari membantunya mengembangkan bakat menulisnya. Dan setelah melalui proses panjang, setelah berpuluh kali dikecewakan Redaktur karena tulisannya tidak layak muat, Dewi Fortuna akhirnya berada di dekatnya, tepat pada tanggal 17 April 2006 untuk pertama kalinya tulisannya dimuat di Duta Masyarakat. Lalu dalam jangka yang cukup berdekatan tulisan-tulisannya mulai bergiliran nampang di Koran-koran dan majalah-majalah. Dan selanjutnya, dengan kuseksan menembus media, ia pun diangkat menjadi Redaktur Opsi Nasional. Dan hingga hari ini, tulisannya cukup diperhitungkan oleh beberapa media.
Kisah yang hampir serupa dialami Rizal Mumazziq Zionis, dalam buku ini ia menceritakan pengalamannya dalam menjalini proses kreatifnya dalam menulis. Ia mengawali prosesnya saat ia masih duduk di MA Al Islam di Joresan Mlarak Ponorogo, saat itu ia suka menulis di Majalah Tembok (Mabok). Lambat laun hobi itu terus melekat dalam dirinya. Hobi itu pun ia bawa hingga ia pindah ke kota pahlawan Surabaya untuk melanjutkan jenjang S1 di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Di sana ia berkenalan dengan Yusuf Hanafi, tetangga kamarnya di Pondok Mahasiswa An Nur yang pada saat itu sedang menjabat menjadi Redaktur rubrik Khazanah Pesantren di Harian Bangsa. Pak Yusuf –begitu ia memanggil Yusuf Hanafi—yang mendengar pengakuannya tentang hobi menulis sangat senang sekali bahkan Pak Yusuf memintanya untuk menulis di rubrik yang ia asuh. Dengan penuh semangat Rizal menulis dengan harapan tulisannya bisa dimuat.
Namun tulisan yang ia hasil dengan ‘berdarah-darah’ tidak terdengar kabarnya, bahkan Pak Yusuf pun sulit ditemui. Ia pun kecewa, namun di suatu pagi, saat ia membolak-balik Koran di loper koran, ia menemukan namanya terpampang di rubrik Khazanah Pesantren. Betapa bahagianya dia saat itu. Lalu setelah itu, karya terus mengalir dari tangannya dan dimuat di beberapa media nasional dan lokal. Ia pun diminta oleh Pak Yusuf untuk menggantikannya menjadi redaktur Khazanah Pesantren. Dan di kemudian hari, ia pun diangkat menjadi redaktur Majalah AULA.
Muhammad Suhaidi RB, juga menulis proses kreatifnya menjadi penulis dalam buku ini. Penulis asal Madura ini mengakui bahwa darah penulis tidak pernah mengalir dalam tubuhnya. Ia mengenal dunia kepenulisan saat ia mondok di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep. Perkenalannya dengan dunia tulis-menulis berawal dari tugas guru bahasa Indonesianya, Pak Ali Mufti Akhmad, untuk menulis catatan harian atau diary setiap hari. Tugas itu ia jalani dengan tekun hingga akhirnya minat untuk jadi penulis tumbuh dalam dan mendarah dalam dirinya.
Suhaidi—begitu ia disapa—kerap kali menuai kegagalan dalam mempublikasikan karyanya di media, tapi dengan penuh semangat ia terus berusaha tanpa mengenal lelah. Hingga akhirnya tak bisa dipungkiri bahwa tulisannya cukup ‘bergizi’ dan dimuat di Tabloid INFO. Sejak saat itulah ia pun mulai diperhitungkan dalam dunia kepenulisan di daerahnya terutama di Podok Pesantren Annuqayah. Dan dengan menulis itu pula ia mampu membiayai pedidikannya di STIK Annuqayah hingga ia dinobatkan sebagai wisudawan terbaik.
Sedangkan Hana Al-Ithriyyah, penulis yang juga jebolan Pondok Pesantren Annuqayah, dalam buku ini mengisahkan awal proses kepenulisannya dimulai sejak ia masih duduk di kelas IV SDN Guluk-Guluk Sumenep. Saat itulah hobi menulisnya timbul. Ketika duduk di bangku MTs, ia pun terus mengasah kemampuannya di bidang itu, terlebih lagi didukung dengan banyaknya buku-buku yang dikoleksi almarhum Babanya, KH. Waqin Khazin yang banyak menginspirasinya dalam menulis terlebih dalam menulis cerpen. Hingga akhirnya cerpennya yang berjudu ‘Donat’ dimuat di Majalah Annida dan kumpulan cerpennya yang berjudul ‘My Valentine’ diterbitkan pada 2006 silam oleh Gema Insani Press (GIP). Dia mengakui sebelum karya-karyanya dipublikasikan dia sering mengalami kegagalan namun dia tetap berusaha, bahkan ia pun mengakui bahwa akhir-akhir ini ia sulit menulis karena kesibukannya tapi dia berusaha untuk menulis.
Buku Jalan Terjal Santri Penulis ini juga ditulis oleh sembilan penulis lainnya. Yaitu, Ahmad Muchlish Amrin, Noviana Herlianti, Nur Faishal, Azizah Hefni, Salman Rusydie Anwar, Muhammadun AS, Ana FM, Ahmad Khotib, dan Fathorrahman Jm. Mereka adalah penulis-penulis yang ditelorkan oleh pesantren-pesantren ternama.
Membaca buku ini akan membuka mata kita bahwa menjadi seorang penulis tidaklah harus tinggal di lingkungan mewah, buktinya mereka yang menulis dalam buku ini merupakan anak-anak yang dilahirkan di daerah yang jauh dari hangar-bingar kehidupan kota. Juga, kita akan tahu bahwa menjadi penulis tidak membutuhkan bakat, factor bakat hanya mendukung lima persen dalam perjalan menjadi penulis. Dan tak lupa pula, satu hal yang harus kita ketahui, perjalanan menjadi penulis tidak semudah apa yang kita bayangkan. Untuk menjadi penulis kita harus melalui beribu-ribu rintangan, termasuk ditolak redaktur dan dicacimaki. Oleh karena itu, kita tidak boleh menyerah, kita harus berusaha untuk meraiha apa yang kita mimpikan.
Dengan adanya buku ini kita dapat mengetahui bahwa betapa pada masa sekarang ini para santri telah memenuhi dunia kepenulisan tanah air. Bahkan tidak jarang dari mereka menjadi orang yang diperhitungkan dalam dunia jurnalistik dan sastra di Negara ini. Sebuah bukti bahwa santri yang ada saat ini telah mengulang sejarah, di mana pada masa silam, pada masa ulama’-ulama’ salaf santri merupakan penulis paling produktif dan karya mereka hingga saat ini masih diperhitungkan dan layak untuk dijadikan bahan bacaan.
Untuk para teman-teman santri, buku ini sangat penting untuk dibaca. Kerena tidak selamanya santri itu harus berkutat dengna kitab-kitab kuning, tetapi juga bagaimana kita sebagai santri mencoba menulis. Sebab dengna menulis image santri yang terkesan kolot di mata masyarakat luas akan terhapus, dan akan membuktikan bahwa para santri, para ‘kaum sarungan’ juga bisa menghasilkan sebuah karya yang layak diabadikan.
Namun, sebagus apapun sebuah karya, pastilah di situ ada celahnya. Buku ini mengandung cukup banyak kata tidak baku yang sepantasnya tidak digunakan dalam penulisan jenis tulisan seperti yang ada di buku ini, dan walaupun memang harus memakai kata tidak baku mungkin lebih baik kata tersebut dicetak miring.
Dan marilah kita tanam kata-kata Imam Ghazali pada awal tulisan ini pada hati kita. Juga karena sepandai apapun orang itu jika ia tidak berkarya atau menulis maka ia akan hilang ditelan waktu, seperti kata almarhum Gus Zainal Arifin Thoha, “Aku menulis maka aku ada”. Mari para santri, jadilah penulis.!


Tuesday, 24 February 2009

AKHIR CERTIA; REUNI LASKAR PELANGI


Judul Buku : Maryamah Karpov
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Pertama, Nopember 2008
Tebal : 504 Halaman

Bermimpilah karena tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.

(Andrea Hirata dalam novel Sang Pemimpi)

Di penghujung 2008 kemarin, Andrea Hirata, Penulis Tetralogi Laskar Pelangi meluncurkan buku terakhir dari Tetralogi Laskar Pelangi yang berjudul Maryamah Karpov. Yups, buku yang ditunggu-tunggu para pecinta buku tersebut merupakan janji Andrea untuk menghatamkan kisah Ikal dan kawan-kawan dalam tetralogi Laskar Pelangi.

Kisah bermula dari detik-detik kepulangan Ikal ke Indonesia setelah menyelesaikan studi magisternya di Univesitas Sorbone Perancis. Dalam sekejap kemewahan yang dirasakan Ikal di Perancis hilang ketika ia menginjakkan kakinya di tanah air tercinta, Indonesia, dia kembali merasakan kehidupan yang serba kekurangan. Ikal yang lulusan luar negeri harus menghadapi masalah yang sama dengan para lulusan sekolah tinggi negeri ini; menjadi pengangguran. Tak heran bila kali ini Andrea banyak menyelipkan kritik sosial dalam bukunya.

Dan dari sinilah Ikal mengingat kenangan-kenangannya bersama sang ayah yang digambarkan dengan sosok pendiam yang tabah menghadapi segala macam masalah. Serta mempelajari kebudayaan orang melayu yang biasa membual, menambahkan cerita yang berlebihan dari kenyataan dan menambah julukan di belakang nama asli dengan maksud mengejek dan mengolok-olok, seperti Mahmuddin Pelupa, diberi julukan pelupa karena dia sering lupa setiap apa yang telah kerjakaan dan Munawwir Berita Buruk yang sering mengumumkan berita kematian ke seluruh kampung lewat toa.

Sampai suatu ketika ditemukan mayat di pantai dengan tanda tato kupu-kupu yang mengingatkan Ikal pada A Ling, kekasihnya yang telah ia cari ke seluruh penjuru dunia. Dengan insting keingintahuan yang dimilikinya, akhirnya Ikal mendapatkan informasi bahwa mayat yang diperkirakan masih mempunyai hubungan darah dengan A Ling itu di bunuh di pulau batuan tempat para Lanun (Bajak Laut). Lalu dilmulailah petualangan Ikal mencari kembali cintanya yang hilang.

Petualangan itu diawali dengan mencari perahu yang siap mengantarkannya ke Batuan, namun tak ada satupun pelaut yang siap menyewakan perahu atau mengantarkannya ke batuan. Tapi bukan Ikal namanya jika mudah menyerah, dia pun mencari jalan lain yaitu dengan membuat perahu sendri, tapi dia tidak mempunyai kemampuan untuk itu. Lalu, muncullah anggota Laskar Pelangi satu-persatu tak terkecuali si cerdas Lintang dan si para normal muda Mahar yang siap membantunya. Dengan bantuan dari anggota Laskar Pelangi tersebut, terutama ide-ide cerdas dan rumus fisika Lintang perahu itu rampung dan siap untuk berlayar mencari A Ling. Ikal pun berlayar menuju Batuan pulau Lanun untuk mencari cintanya; A Ling.

Ada yang sangat disayangkan dari buku ini yaitu kolerasi antara judul yang dipilih dengan isi cerita dalam buku ini. Agak menungggu-nunggu akan hadirnya konflik atau keterangan berarti lainnya tentang sosok Mak Cik Maryamah Karpov yang selalu mengajakrkan langkah bermain catur denganrumus Karpov pada para pelanggan Kedai Kopi Usah Kau Kenang Lagi. Sayangnya, Maryamah Karpov, ibu nurmi sang pemain biola, hanya dikisahkan dalam secuil fragmen dalam buku ini. Menurut pendapat saya buku ini lebih panatas diberi judul Mimpi-Mimpi Lintang. Ditambah lagi ketika Ikal hendak berpetualang untuk mecari A Ling, di dalam buku ini tidak dijelaskan tanggapan orang tua Ikal tentang petualanggannya mencari A Ling, apa mereka setuju atau tidak. Padahal itu sangat ditunggu oleh pembaca yang kemudian di akhir cerita novel ini mereka tidak setuju dengan hubungan Ikal dan A Ling.

Jika dalam buku sebelumnya (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor) Andrea menulis dengan plot yang agak lamban, maka dalam buku ini, kelambanannya seakan berlipat-lipat. Sehingga pembaca harus sabar membaca dan menikmati novel ini. Rasanya, membaca karya Andrea satu ini seakan membaca catatan hariannya, tapi sekali lagi, sebelumnya Andrea pernah mengatakan bahwa buku keempatnya ini adalah sebuah karya sastra yang terinspirasi oleh memoar-memoar hidupnya.

Namun tidak adil rasanya jika dalam resensi ini saya tidak menyebutkan kelebihan-kelebihan buku ini. Masih sama dengan tiga buku sebelumnya buku ini masih dipenuhi dengan rangkaian kata yang memikat sehingga pembaca tidak merasa jenuh membaca buku setebal 504 halaman ini. Dan juga dengan kemahiran Andrea merangkai kata-kata dia mencoba mengeksplor kekayaan budaya melayu yang unik tentang pola hidup mereka, tentang pola pikir mereka, khusunya yang berada di kawasan Belitong, kita kembali disadarkan bahwa bangsa Indonesia mempunyai banyak kebudayaan.

Dan dalam buku ini juga Andrea mencoba mengajak kita memahami apa arti sebuah persahabatan, persahabatan para Laskar Pelangi yang takkan mampu dimakan dan dibunuh waktu, Laskar Pelangi merupakan sekumpulan sahabat yang takkan mati rasa persahabatannya karena waktu, persahabatan mereka akan abadi. Dan untuk lebih jelasnya silahkan anda baca langsung Maryamah Karpov. Selamat Membaca!.