Wednesday, 17 June 2009

Lepas Pisah Siswa Kelas Akhir SLTA Annuqayah




Guluk-Guluk – Selasa pagi (16/6) pengurus PPA Annuqayah mengadakan acara Lepas Pisah Siswa-Siswi Kelas Akhir SLTA Annuqayah. Acara tersebut dilaksanakan di Aula As-Syaraqawi PP Annuqayah.
Menurut K. Alawi Thaha, Ketua IV Pengurus PP Annuqayah yang menjadi penanggung jawab acara tersebut menuturkan bahwa acara tersebut dilaksanakan untuk mempersatukan seluruh siswa-siswi SLTA se-Annuqayah segaligus untuk mempererat rasa persaudaraan. “Annuqayah itu satu. Jadi, tak ada perbedaan, persaudaraan pun harus dipererat,” tuturnya.
Acara yang dihelat sesederhana dan sesakral mungkin tersebut diisi dengan pembacaan ayat-ayat Al Quran, sambutan ketua pengurus PPA, tausiyah dari Pengasuh, istighasah yang kemudian diakhiri dengan salam sungkem siswa-siswi kepada seluruh jajaran pengasuh dan dewan guru.
Dalam sambutannya, ketua Pengurus PP Annuqayah, K. A. Hanif Hasan menyampaikan agar semua siswa-siswi yang telah lulus UN untuk tidak terlalu bergembira dan berbangga karena menurut beliau masih ada ujian yang lebih berat lagi. “Ujian tersebut adalah UAS, yaitu ujian amaliah sehari-hari. Dalam ujian inilah banyak yang tidak lulus karena ujian ini tidak hanya mengandalkan kepintaraan saja tapi juga mengandalkan aklaq, kesabaran dan ketabahan,” kata K. Hanif.
Tak jauh berbeda dengan pendapat K. Hanif, Ketua Dewan Pengasuh PP Annuqayah, K. Ahmad Basyir AS dalam tausiyah yang diberikan pada seluruh siswa-siswi. Beliau menjelaskan meskipun dalam UN para siswa berhasil lulus dengan nilai yang bagus, belum tentu saat terjun di dalam kehidupan masyarakat, saat menyebarkan ilmu-ilmu Allah juga akan berhasil tanpa didasari dengan aklaq yang baik dan kesabaran. “Karena aklaq merupakan hal yang paling penting dan kunci untuk meraih kesuksesan dalam menyebarkan ilmu-ilmu Allah,” papar beliah.
Acara yang bermoto “Sederhana dan Sakral” ini dihadir oleh 576 siswa dan siswi dari seluruh SLTA PP Annuqayah.
Melihat jumlah siswa yang hadir 90 % dari jumlah, Syamsul Arifin, selaku ketua paniti acara tersebut merasa gembira pasalnya dia merasa kerja keras selama satu bulan tidak sia-sia. “Jumlah ini (siswa-siswi yang hadir,Red) merupakan bayaran yang setimpal atas kerja keras panitia,” ungkapnya. Lulusan MA 1 Annuqayah tahun 2009 ini juga mengharap agar semua siswa-siswi untuk tidak melupakan Annuqayah. “Karena Annuqayah sudah sangat banyak jasanya bagi teman-teman. Jadi, saya harap jangan pernah lupakan Annuqayah,” lanjutnya.


Wednesday, 20 May 2009

PUISI SEBELUM TIDUR

Waktu mendaki puncak malam begitu jauh
Meninggalkan udara beku
Dan sepi yang amat erat mendekap
Sendang unggun yang kunyalakan
Dengan reranting cemara pantaimu
Tak kunjung hangat

Bintang dan rembulan
Terlelap seja senja lalu
Mereka kelelahan temaniku yang tak bosan
Bercerita tentang kepakan sayapmu
Dan denting dawai biola birumu
Yang kau mainkan tiap subuh untukku

Segelas Vodka yang kudapat
Dari negeri matahari
Tak mampu tuk hangatkan darahku
Sedang mendung di kelopak mata
Kian menebal menutup pandangku

Mungkin inilah saatnya
Kurebahkan tubuh ini di pangkuan bumi
Melepas seluruh penat yang menumpuk di kepala
Menikmati tidur panjang tak burujung
Dan melukis pelangi wajahmu di langit mimpi

Namun, sebelum aku benar-benar tertidur
Ku mohon padamu, simpanlah seikat puisi
Yang kukirim kemarin pagi
Karena hanya dengan puisi itu
Aku bisa memanggil dan menyapamu

Mei 2009


Saturday, 9 May 2009

MENUJU RUMAH ABADI

Temaram senja telah pergi
Menyisakan sepi yang mengental
Di dasar kalbu

Angin sepoi berganti badai
Yang berduet dengan petir beribu votl
Mengguncang bumi renta
Mengusir rembulan dan bintang
Dari pangukuan langit

Malam ini, beribu tentara Azrail
Mengitari bumi dengan wajah suram
Membuat burung-burung tak bernyanyi
Dan pepohonan tak menari

Akhirnya, tibalah waktu aku harus pergi
Meninggalkan riak sungai yang menyejukkan
Dan pantai Slopeng dengan sejuta pasir

Nia, peliharlah awan merah muda
Yang kuikat di belakang gubukku
Dan biola dengan lukisan pelangi di dawainya
Agar bila nanti kau mengingatku kembali
Aku akan menyapamu lewat dawai biola itu
Dan akan kukirim hujan dengan awan itu
Dari rumah abadi

Mei 2009


Thursday, 23 April 2009

SEBUAH STASIUN DAN KERETA KEMATIAN

Sepi menyeret langkahku yang beku
Dan berselimut luka ke peron yang renta ini

Matahari terlelap di pangkuan langit
Ia kelelahan temaniku seharian
Menunggu kereta yang kau janjikan
Akan mengantarku ke kotamu

Di stasiun ini, sunyi tak pernah tidur
Tak ada lagi penumpang menunggu
Gemericit roda kereta
Sambil duduk di bangku berlumut
Hanya penikmat malam yang tak henti
Menjajahkan hidangan hangat tubuhnya
Yang tetap ramaikan peron ini

Di stasiun ini, ditemani secangkir kopi
Yang tinggal ampas, aku menunggu
Kereta yang kau katakan berwarna putih
Dan di dalamnya berjuta peri

Waktu mendaki puncak malam
Para satpam mengatupkan mata
Saat itu kereta dengan bunyi yang menusuk
Telinga datang, namun warnanya bukan putih
Melainkan hitam dengan bau dupa yang menyengat

“Inilah kereta yang akan menjumputmu
;kereta kematian” kata Azrail
Sambil menepuk pundakku

April 2009


Wednesday, 22 April 2009

KEMARAU

Deru nafas malam begitu hangat
Mendidihkan seluruh tubuh

Sungguh tak ada suara dalam kalbu
Tak ada cahaya dalam jiwa
Semua telah musnah
Bersama pupusnya serbuk halus sabdamu
Yang kau tinggalkan untukku senja lalu

Aku tahu, sejak kau titipkan
Sebuah biola biru pada burung-burung untukku
Kau tak lagi bersemedi di kota putih
Kau telah kembali ke langit

Aku tahu, sejak badai menyetubuhiku
Dan mendung tak henti-henti menutup pandangku
Kau tak lagi kirimkan hujan dan pelangi
;sungai kataku benar-benar kering

Di pantai ini, kumainkan biola darimu
Memanggil ombak yang tertidur di dasar laut tuk bangun
Dan awan merah jambu tuk menyapamu
Agar kemarau ini segera berakhir
Dan bunga-bunga puisi kembali bersemi

April 2009


Sunday, 19 April 2009

UN Besok

UN dah di depan mata, untuk para pengunjung blog ini saya minta tolong agar saya bisa sukses mengahadapi UN. Amien....


Wednesday, 15 April 2009

TRILOGI RINDU

TRILOGI RINDU

I
Semisal ampas kopi
Yang mengental di dasar gelas
Bayangmu melekat tak terhapus

Baru kemarin sore kau kirimkan untukku
Kartu selamat ulang tahun
Yang di pojok atasnya setempel bibirmu
Tapi dahaga pada air mukamu
Kembali menusuk kerongkongan

II
Di sini badai masih belum beranjak
Melucuti kulit, hanya tulang tersisa
Ku berharap kau bersamaku
Menyelimuti luka dengan sayap malaikatmu

III
Andai malam ini kau bisa melihat diriku
Aku yakin kau akan kirimkan cahaya purnama
Hapus sedih, bunuh sunyi
Lalu aku akan bersemedi
Dan memeluk prasasti bayangmu
Meski api, tanah, air dan petir bisu padaku

April 2009