Sunday, 28 March 2010

PEMUDA, SANG PLAY MAKER UNTUK PERUBAHAN

”Berilah aku sepuluh orang pemuda yang bergelora jiwanya maka aku akan mengubah dunia”, begitulah kira-kira ucapan Bung Karno, Presiden pertama kita tentang semangat pemuda dan betapa berpengaruhnya mereka. Ya, pemuda memang mempunyai semangat yang menggebu-gebu, seperti kata Rhoma Irama dalam salah satu lagunya yang berjudul ‘Darah Muda’ dan itulah kelebihan dari mereka yang mampu mengubah segalanya.
Pemuda merupakan aktor utama dalam menciptakan perbuhan, betapa tidak, dengan semangatnya yang menggebu-gebu dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru mereka mampu menciptakan ide-ide baru untuk menyongsong datangnya perubahan. Bukti nyata dari hal itu adalah turunnya Soekarno sekaligus mengakhiri Orde Lama, serta runtuhnya kekuasaan Orde baru yang dipimpin oleh Soeharto, yang kesemua itu adalah ‘ulah’ dari mereka para pemuda.
Hingga saat ini, pemuda masih mempunyai peran yang sangat penting. Layaknya seorang play maker (pengatur permainan) dalam pertandingan sepak bola, semua tergantung pada dirinya. Terserah dia apakah dia mau menjadikan permainan indah, umpan-umpan matang yang kemudian berbuah gol atau hanya sekedar bermain tanpa menghasilkan apa-apa, jangan permainan bagus dan indah mungkin saja tak satu gol pun yang didapat. Seperti itulah peran pemuda dalam mengatur sebuah perubahan.
Di Negara kita, hal itu juga berlaku. Namun, beberapa tahun terakhir ‘gebrakan’ yang mereka buat seolah tidak ada. Akhir-akhir ini mereka terkesan masih sibuk dengan diri mereka masing-masing, masih sibuk dengan kelompoknya sendiri dan masih sibuk dengan tauran dan ulah-ulah anarkis. Memang, dalam beberapa kasus mereka para pemuda khususnya mahasiswa, turun ke jalan untuuk melakukan penuntutan terhadap hak rakyat. Tapi, mereka yang sadar dan benar-benar dengan ikhlas melakukan itu hanya segelintir saja. Kebanyakan dari mereka hanya ‘jadi bebek’ dan tidak tahu tujuan dari aksi mereka itu. Bahkan, tak sedikit dari mereka melakukan itu karena ada dorongan dari orang di ‘belakang’ mereka yang nyatanya mempunyai ambisi pribadi. Dan mereka mau-mau saja.
Itu membuktikan bahwa rasa nasionalisme yang sering mereka elu-elukan dalam aksi-aksi mereka hanya ada di mulut saja, tidak di hati mereka. Dan jika berdomenstrans saja sudah bisa diatur oleh pihak lain dan hanya mengharapkan ‘upah’ saja. Bagaimana jika nanti mereka menjadi wakil rakyat. Tidak menutup kemungkinan mereka juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang telah dilakukan oleh wakil rakyat yang saat ini sedang mereka kritik dan jelek-jelekan.
Pada awal tahun 2009 kemarin, terjadi sebuah kasus korupsi yang melibatkan mahasiswa yang juga seorang aktivis sebuah organisasi mahasiswa. Mahasiswa tersebut diduga telah menggelapkan dana kampanye sebuah partai yang dia dukung. Sekali, ini sebuah bukti bahwa mereka hanya bisa berbicara dan mengkritik saja, namun tidak bisa mengaplikasikan apa yang mereka ucapkan. Apakah ini yang disebut pemuda adalah agent of change?
Pada tahun 1960-an, di Negara kita ini terjadi sebuah pergolakan politik yang hampir serupa dengan politik kita saat ini. Pengaruh dari pergolakan tersebut membuat rakyat miskin semakin miskin namun orang kaya semakin kaya. Hal ini kemudian membangkitkan gejolak para pemuda dan mahasiswa untuk melakukan aksi-aksi dan gerakan untuk pemberontakan terhadap pemerintah. Pergolakan itu berakhir pada tahun 1966 dengan tumbangnya pemerintahan Orde Lama di tangan mahasiswa. Setelah itu, lahirlah pemerintahan Orde Baru. Para mahasiswa yang dulu ikut dalam aksi tahun 1966 atau yang sering disebut ‘Angkatan ‘66’ kemudian diangkat menjadi anggota DPR dan susunan kabinet. Namun, tak sedikit pula dari mereka yang menolak untuk itu, dengan alasan mereka belum mampu untuk mengemban amanah dan mereka ingin lebih bebas mengontrol pemerintah. Salah satu dari mereka yang menolak itu adalah Soe Hok-gie, seorang aktifis yang selalu lantang dalam mengkritik pemerintah namun dia tidak terlalu fanatik terhadap suatu organisasi dan partai politik.
Setelah beberapa waktu berlalu, sebuah pergolakan kembali terjadi, para mahasiswa angkatan ’66 yang menjadi anggota DPR tidak bisa menjalankan tugas mereka dengan baik. Bahkan, mereka terkesan terlalu menikmati dengan jabatan yang mereka miliki saat itu. Kata ‘nasionalisme’ yang mereka ucapkan pada saat aksi di jalan seakan pupus dan hilang di telan waktu.
Tindakan Soe Hok-gie untuk tidak termasuk dalam anggota DPR dan pemerintah sangatlah benar dengan adanya bukti bahwa mereka yang masuk dalam pemerintahan telah ‘mati suri’ dan terlalu menikmati dengan kenyamanan dan kenikmatan. Mereka telah lupa dengan segala ucapan mereka sendiri saat mereka berorasi di jalan.
Nah, kejadian inilah yang kemudian bisa kita pikirkan dan menjadikannya sebagai pelajaran supaya hal itu tidak terulang kembali. Supaya kita para pemuda sekaligus mahasiswa tidak hanya mampu berbicara saja tentang nasionalisme dan pro rakyat tetapi juga mampu melaksanakannya dalam keseharian kita. Agar kita bisa mengatur permainan, melancarkan serangan-serang dengan umpan-umpan matang yang kemudian menjadi sebuah gol perubahan untuk Negara kita.


Pelangi di Musim Matahari

Sebuah pelangi terlukis secara tiba-tiba
di senja kotaku,
penuh dengan nafas lesu,
hewan-hewan melata bertubuh besi

Sudah lama sekali aku tak melihatnya
sejak langit kehilangan awan dan angin
;pelangi yang selalu menghias senja
dengan senyum tujuh rupa

Sejak saat itu langit kotaku tak pernah dikunjungi hujan
mentari seakan enggan tuk beranjak
semua memerah, namun tak semerah darah

Malam pun terang,
matahari tak lagi merasa ngantuk
dia lebih senang melihat besi yang tiap waktu
terus menyambung seperti semut
dan wanita dengan parfum menyengat
berjalan lembut di sebuah taman tak berbunga
menawarkan hidangan hangat malam
;begitu menggairahkan

Namun, senja ini
dengan udara yang cukup kuat menusuk kepala
pelangi itu tlah duduk di sana,
di langit kotaku

Dan sambil menikmatinya,
akan ku kuukir sejuta kata
pada sayap burung-burung
tuk kuberikan padanya
agar dia enggan berranjak dari kotaku

Maret 2010


Sunday, 14 March 2010

MENGENANG SOE HOK-GIE


Judul buku : Soe Hok-gie ...Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya
Editor : Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, dan Nessy Luntungan R.
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta
Cetakan : Pertama, Desember 2009
Tebal : xl + 512 halaman

Apa yang bisa kita kenang dari seseorang yang telah menghadap yang Maha Kuasa 40 tahun yang lalu kalau bukan perjuangan, pemikiran, dan karyanya. Betul, Soe Hok-gie yang telah terlebih dahulu dipanggil oleh-Nya merupakan salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang turun ke jalan pada tahun 1966 untuk menumbangkan pemerintahan Orde Lama. Memang pada saat itu pemuda atau mahasiswa seperti Hok-gie cukup banyak. Namun pemuda idealis, humanis, dan moralis sepertinya cukup ‘langka’.
Sosok pemuda seperti Hok-gie pada saat ini pun nyaris tidak ditemui di Negara kita. Seorang pemuda yang selalu resah dengan keadaan Negara dan rakyatnya yang tidak menentu. Seorang pemuda yang mempunyai peran cukup besar dalam menumbangkan pemerintahan orde lama tetapi juga menentang pemerintahan orde baru yang dirasanya seenaknya saja. Seorang penggila buku, jago diskusi tapi juga cinta terhadap lingkungan sekitarnya dan juga seorang pemuda yang romantis.
Kematian Soe Hok-gie pada tanggal 16 Desember 1969—sehari sebelum hari ulang tahunnya—di puncak Mahameru, tanah tertinggi di pulau Jawa, menyisakan luka yang cukup mendalam di hati teman-teman dan keluarganya. Betapa tidak, dikalangan teman-temannya Hok-gie dikenal sebagai seorang yang sangat pintar bergaul, tidak pernah pamrih, dan selalu mendengarkan segala keluh kesah teman-temannya tentang sesuatu, baik itu masalah lingkuan ataupun sesuatu yang sifatnya sangat pribadi sekali. Tidak hanya itu, Hok-gie juga dikenal sebagai seorang penulis yang karyanya cukup disenangi dan dipublikasikan di beberapa media terkemuka pada saat itu, salah satunya Kompas, Sinar Harapan dan Indonesia Raya. Bahkan, dari saking banyaknya orang yang mengagumi tulisannya ada salah satu pengagumnya, yaitu seorang penjual peti jenazah dengan rela menyumbangkan peti jenazah untuk evakuasi mayat Hok-gie dari Malang ke Jakarta.
Bagi Herman O Lantang dan Rudy Badil, Soe Hok-gie merupakan teman yang sangat mereka sayangi. Karena bagi mereka, selain memang Hok-gie cukup pintar dan cerdas, ada kesamaan hobi yang membuat mereka begitu dekat, yaitu mecintai alam dan mendaki gunung. Hal ini memang sering dilakukan oleh mereka terlebih ketika pemerintahan sedang dalam keadaan tidak menentu lalu mereka membuang segala kepenatan dan kebosanan terhadap pemerintah dengan mengenal alam lebih dekat. Hal itu terbukti ketika adanya beberapa karya Hok-gie yang mengisahkan tentang keindahan alam pegunungan yang telah ia daki.
Menurut Arief Budiman, kakak Hok-gie, kegemaran Hok-gie pada dunia baca-tulis memang sudah tercermin sejak ia masih berumur belasan tahun. Saat teman-temannya yang lain sedang mengejar layang-layang, Hok-gie malah nongkrong di genting rumah sambil membaca buku, atau sekedar merenung. Ketika ia dewasa, kegemaran itu mulai bertambah dan mendarah dalam dirinya. Juga menurut pengakuan Arief Budiman, ketika Hok-gie pulang dari kampus atau kegiatan lainnya di luar rumah, saat semua anggota keluarganya telah terlelap, dengan diterangi lampu neon yang sinarnya suram karena voltase listrik saat itu sering turun ketika malam hari, Hok-gie menulis bermacam tulisan baik tentang pengalamannya di alam bebas, ataupun tentang keresahan dan kritik pada pemerintah yang kemudian karya-karya itu kemudian dipublikasi di berbagai media.
Dalam perbincangan aktivisme gerakan mahasiswa Hok-gie merupakan sosok yang “langka” di tengah periode kontestasi politik ideologi masa itu, persisnya pada senjakala pemerintahan Soekarno dan awal menyingsingnya kekuasaan rezim Orde Baru. Tipikal Hok-gie itu merujuk pada rekam jejaknya yang tak menjadi bagian organisasi politik dan partai ideologis apa pun, bahkan sampai batas akhir hidupnya. Padahal, pada masa itu “mahasiswa Jakarta pada umumnya jauh lebih lebur sebagai bagian atau bahkan perpanjangan tangan dari kelompok-kelompok politik ideologis yang ada dalam struktur Nasakom”. Yang perlu dicatat di sini, aktivitas gerakan di era kontestasi politik ideologi tak mungkin dilepaskan dari aspek pergaulan dan kesesuaian pemikirannya. Untuk kasus Hok-gie, dia dekat dengan aktivis Gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis) dan sempat menaruh simpati ke PSI (Partai Sosialis Indonesia).
Bahkan, karena sikapnya yang tidak mau melebur lebih jauh sebagai anggota dari suatu organisasi politik atau partai ideologis, dia menjadi ‘musuh’ dari mantan teman-temannya. Selain itu, dia juga sering dijuluki “cina kecil” oleh ‘musuh-musuhnya’ dan orang-orang yang sempat ia kritik melalui tulisan. Namun hal itu tidak ia pedulikan, ia tetap terus menulis, berpikir dan mengkritik.
Buku yang digadang-gadang untuk menampilkan Soe Hok-gie (sekali lagi) ini sangat cocok dicerna dan dikonsumsi oleh para pelajar dan pemuda. Selain itu pula, buku ini merupakan salah satu cara untuk mengenang sosok Soe Hok-gie sekaligus menampilkan kembali sosoknya, terlebih pada saat Negara kita sedang dalam keadaan seperti saat ini. Maka, kalau boleh berceletuk sebentar, kira-kira seperti apa ungkapan Hok-gie melihat energi masyarakat dan mahasiswa yang belakangan hari kerap diwarnai aksi protes? Sebagaimana dituliskan Rudy Badil (hlm. 266), mungkin sekali beginilah pernyataan pesan Hok-gie yang tertuju kepada pemangku kekuasaan, “Jangan memancing perasaan anak-anak muda itu. Mereka anak-anak zaman sekarang yang pemarah. Mereka itu angkatan the angry young men, bukan crossboys lagi, bukan hippies juga.”
Mungkin kita tidak bisa atau bahkan tidak mungkin menjadi Soe Hok-gie, karena Soe Hok-gie takkan pernah tergantikan. Kita hanya bisa meneladi dan menghadirkan sosoknya pada diri kita. Lantas bagaimana caranya? Jakob Oetama menganjurkan dengan jernih akal, “Dilakukan tidak dengan maksud mengultusindividukan, ...melainkan menawarkan nilai-nilai keteladanan, utamanya integritas dan kebersihan hati.” (hlm. xiv) Pembaca, kita ditantang untuk itu.


Sunday, 3 January 2010

TAHUN BARU, INDONESIA BARU?

Momen tahun baru telah kita jalani dengan suka cita. Banyak diantara kita yang merayakan momen tersebut dengan berlibur dan berkunjung ke obyek-obyek wisata. Namun pantaskah kita berlibur dan bersuka cita ketika melihat negara kita Indonesia sedang dalam keadaan yang kurang baik seperti saat ini?
Kita tahu sepanjang tahun 2009 lalu, di negara kita terjadi beberapa hal yang cukup membuat pikiran kita pusing terlebih hal itu sangat erat sekali hubungannya dengan pemerintahan negara ini, seperti halnya kasus Bibit-Candra dan Prita Mulyasari yang cukup menarik perhatian publik dan banyak menuai kritikan dari banyak kalangan.
Kasus-kasus yang terjadi ini pun kemudian menjadi tolak ukur sebagian besar masyarakat betapa memprihatinkannya pemerintahan negeri kita ini. Mulai dari penegakan hukum hingga kasus ekonomi yang semakin hari semakin membauat bangsa ini makin terpuruk. Sebuah bukti bahwa mereka para pemerintah hanya mementingkan diri sendiri.
Ketika kita berbicara pemerintahan, penulis teringat dengan ayat Al Qur'an Surat An Nisa’ ayat 59, tentang taat kepada pemerintah atau pemimpin. Yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (Pemimpin) di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” Dari ayat ini, sangat jelas sekali bahwa setiap orang mu’min wajib mematuhi pemerintah atau pemimpinnya, bahkan dari saking wajibnya, kata Ulil Amri (Pemerintah atau Pemimpin) diletakkan setelah Rasul.
Namun ketika kita melihat pada keadaan negara kita sepanjang tahun 2009, muncullah sebuah pertanyaan, pantaskah kita patuh dan taat terhadap pemerintah Indonesia yang nyatanya mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri?. Pertanyaan ini kemudian mengharuskan kita untuk memahami ayat itu lebih dalam. Dalam beberapa kitab tafsir dijelaskan bahwa kata Ulil Amri dalam ayat ini adalah pemimpin yang ‘Adil dan tidak dzalim. Maksudnya, pemimpin yang hatus kita patuhi tersebut adalah pemimpin yang tidak otoriter, tidak seenaknya saja dalam mengambil keputusan yang ada kaitannya dengan masyarakat serta tidak mementingkan dirinya sendiri.
Dan mari kita lihat pemerintah kita saat ini. Sebelumnya, penulis katakan bahwa penulis tidak ada maksud untuk mengklaim mereka itu dzalim atau tidak pantas menjadi seorang pemimpin. Tapi mari kita lihat fakta yang ada, dari kasus korupsi yang tak lagi dapat kita ingat jelas berapa jumlah kasusnya dan kerugian negara sebagai dampaknya, kasus permainan hukum atau yang baru-baru ini kita istilahkan dengan ‘Mafia Hukum’ yang terjadi pada Bibit-Candra dan Prita Mulyasari hingga kasus Bank Century yang sampai saat ini tidak ditemukan ujungnya.
Dalih Politik
Ada yang mengatakan (bahkan sebagian besar dari mereka) bahwa kasus-kasus yang terjadi tersebut merupakan bagian dari politik. Benarkah? Nah, untuk menyatakan benar atau tidak dalih mereka itu kita perlu mengetahui apa itu politik, meskipun para pembaca pada dasarnya mungkin sudah mengerti ataupun sudah mengetahui apa itu politik.
Kata ‘politik’ secara etimologis berasal dari bahas Yunani Politeia, yang akar katanya adalah polis, berarti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri, yaitu negara dan teia, berarti urusan. Dalam bahasa Indonesia, politik dalam arti politics mempunyai makna kepentingan umum warga Negara suatu bangsa. Politik merupakan suatu rangkaian asas, prinsip, keadaan, jalan, cara dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu yang kita kehendaki. Politics dan policy memiliki hubungan yang erat dan timbal balik. Politics memberikan asas, jalan, arah, dan medannya, sedangkan policy memberikan pertimbangan cara pelaksanaan asas, jalan dan arah tersebut sebaik-baiknya.
Dalam bahasa Inggris, Politics adalah suatu rangkaian asas (prinsip), keadaan, cara, dan alat yang digunakan untuk mencapai cita-cita atau tertentu. Sedangkan policy, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kebijaksanaan, adalah penggunaan pertimbangan-pertimbangan yang dianggap dapat lebih menjamin terlaksananya suatu usaha, cita-cita atau tujuan yang dikehendaki. Pengembalian kebijaksanaan biasanya dilakukan oleh seorang pemimpin.
Dari sini kemudian kita dapat memahami bahwa politik atau politics mempunyai kaitan erat dengan kebijaksanaan atau policy. Lalu, kebijaksanaan tersebut adalah proses mempertimbangkan apa yang akan dilakukan untuk mencapai suatu cita-cita atau tujuan. Jadi, jika mereka mengatakan bahwa kasus-kasus yang terjadi di Negara kita ini adalah bagian dari politik, penulis katakan bahwa itu kurang benar. Sebab jika kita mengaca pada arti dari politik itu sendiri, politik adalah alat untuk mencapai cita-cita bersama dari sekumpulan orang-orang atau masyarakat.
Sedangkan masyarakat yang disebut di sini adalah bangsa ini Indonesia di mana tujuan dari bangsa Indonesia adalah menjadi Negara yang maju, sejahtera dan makmur. Bukan menjadi Negara yang kian terpuruk yang kemudian nasibnya semakin hari semakin tidak jelas lantaran adanya kasus-kasus yang dilakukan oleh orang-orang yang katanya peduli terhadap Indonesia.
Terlebih lagi, politik juga mempunyai kaitan erat dengan kebijaksanaan. Kebijaksanaan asal katanya adalah ‘bijaksana’ dalam bahasa Arab juga berarti Al ‘Adlu atau ‘Adil. Kembali kepada yang telah penulis sebutkan di atas tentang seorang pemimpin yang pantas kita patuhi adalah orang yang ‘Adil atau bijaksana tidak dzalim.
Dan jika memang mereka itu merasa dirinya seorang Politikus yang juga beragama Islam dan mengerti Islam tentunya mereka juga tahu bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan kita bagaimana dan apa itu politik. Bukankah politik Rasulullah SAW tidak mengedepankan nafsu, tidak mementingkan diri sendiri?
Nah, dari sini tentunya kita bisa menilai dan mengambil kesimpulan benar atau tidak apa yang telah mereka lakukan yang kemudian mengakibatkan bangsa kian terpuruk. Dan untuk kesekian kalinya penulis katakan, tulisan ini tidak ada maksud untuk mengklaim bahwa pemerintah kita itu jelek atau tidak, pantas atau tidak jadi pemimpin. Sebab tidak semua pemerintah kita itu mempunyai sifat buruk dan terlibat dalam kasus-kasus yang selama ini memusingkan kita, ada juga mereka yang masih bersifat layaknya seorang pemimpin yang diajarkan Islam. Tulisan ini hanya ingin mengajak segenap pembaca di momen tahun baru ini berpikir apakah benar Negara kita Indonesia juga ikut baru? Wallahu ‘Alam.


Monday, 28 December 2009

JALAN PANJANG SANTRI MENJADI PENULIS


Judul Buku : Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis
Penulis : Rizal Mumazziq Zionis, dkk.
Penerbit : Muara Progresif
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : xii + 224 halaman

“Kalau engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Kata-kata Imam Ghazali itulah yang membuat semangat Syaiful A’la, salah satu penulis buku ini, terus berkobar untuk menulis. Kesukaannya terhadap bidang tulis-menulis itu muncul sejak ia duduk di bangku MTs (setara dengan SLTP) di Nasy’atul Mutuallimin, Dungkek Sumenep. Saat itu banyak teman-teman yang tidak tahu tentang kesukaannya itu, sebab ia memang cenderung menutup diri, dan ketika menulis pun ia lakukan di tempat yang cukup sepi, yaitu di jalan yang menghubungkan antara rumah dan sekolahnya, jaraknya pun cukup jauh dan tempatnya lumayan sepi. Kebiasaan ini pun ia bawa saat ia mondok di Pondok Pesantren Nasyatul Mutallimin Gapura Sumenep, yang kemudian membawanya berkenalan dengan beberapa media cetak. Serta memberinya kesempatan untuk menjadi Redaktur Buletin ‘Gelora’ di Pondoknya.
Setelah lulus dari pondok itu, ia pun melanjutkan pendidikannya ke IAIN Sunan Ampel Surabaya. Meski pada awalnya ada beberapa pihak yang kurang setuju dengan keputusannya, namun dengan segenap keyakinan ia tak menghiraukan pendapat mereka itu. Keyakinan itulah yang membawanya pada sebuah pertemuan dengan beberapa teman yang di kemudian hari membantunya mengembangkan bakat menulisnya. Dan setelah melalui proses panjang, setelah berpuluh kali dikecewakan Redaktur karena tulisannya tidak layak muat, Dewi Fortuna akhirnya berada di dekatnya, tepat pada tanggal 17 April 2006 untuk pertama kalinya tulisannya dimuat di Duta Masyarakat. Lalu dalam jangka yang cukup berdekatan tulisan-tulisannya mulai bergiliran nampang di Koran-koran dan majalah-majalah. Dan selanjutnya, dengan kuseksan menembus media, ia pun diangkat menjadi Redaktur Opsi Nasional. Dan hingga hari ini, tulisannya cukup diperhitungkan oleh beberapa media.
Kisah yang hampir serupa dialami Rizal Mumazziq Zionis, dalam buku ini ia menceritakan pengalamannya dalam menjalini proses kreatifnya dalam menulis. Ia mengawali prosesnya saat ia masih duduk di MA Al Islam di Joresan Mlarak Ponorogo, saat itu ia suka menulis di Majalah Tembok (Mabok). Lambat laun hobi itu terus melekat dalam dirinya. Hobi itu pun ia bawa hingga ia pindah ke kota pahlawan Surabaya untuk melanjutkan jenjang S1 di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Di sana ia berkenalan dengan Yusuf Hanafi, tetangga kamarnya di Pondok Mahasiswa An Nur yang pada saat itu sedang menjabat menjadi Redaktur rubrik Khazanah Pesantren di Harian Bangsa. Pak Yusuf –begitu ia memanggil Yusuf Hanafi—yang mendengar pengakuannya tentang hobi menulis sangat senang sekali bahkan Pak Yusuf memintanya untuk menulis di rubrik yang ia asuh. Dengan penuh semangat Rizal menulis dengan harapan tulisannya bisa dimuat.
Namun tulisan yang ia hasil dengan ‘berdarah-darah’ tidak terdengar kabarnya, bahkan Pak Yusuf pun sulit ditemui. Ia pun kecewa, namun di suatu pagi, saat ia membolak-balik Koran di loper koran, ia menemukan namanya terpampang di rubrik Khazanah Pesantren. Betapa bahagianya dia saat itu. Lalu setelah itu, karya terus mengalir dari tangannya dan dimuat di beberapa media nasional dan lokal. Ia pun diminta oleh Pak Yusuf untuk menggantikannya menjadi redaktur Khazanah Pesantren. Dan di kemudian hari, ia pun diangkat menjadi redaktur Majalah AULA.
Muhammad Suhaidi RB, juga menulis proses kreatifnya menjadi penulis dalam buku ini. Penulis asal Madura ini mengakui bahwa darah penulis tidak pernah mengalir dalam tubuhnya. Ia mengenal dunia kepenulisan saat ia mondok di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep. Perkenalannya dengan dunia tulis-menulis berawal dari tugas guru bahasa Indonesianya, Pak Ali Mufti Akhmad, untuk menulis catatan harian atau diary setiap hari. Tugas itu ia jalani dengan tekun hingga akhirnya minat untuk jadi penulis tumbuh dalam dan mendarah dalam dirinya.
Suhaidi—begitu ia disapa—kerap kali menuai kegagalan dalam mempublikasikan karyanya di media, tapi dengan penuh semangat ia terus berusaha tanpa mengenal lelah. Hingga akhirnya tak bisa dipungkiri bahwa tulisannya cukup ‘bergizi’ dan dimuat di Tabloid INFO. Sejak saat itulah ia pun mulai diperhitungkan dalam dunia kepenulisan di daerahnya terutama di Podok Pesantren Annuqayah. Dan dengan menulis itu pula ia mampu membiayai pedidikannya di STIK Annuqayah hingga ia dinobatkan sebagai wisudawan terbaik.
Sedangkan Hana Al-Ithriyyah, penulis yang juga jebolan Pondok Pesantren Annuqayah, dalam buku ini mengisahkan awal proses kepenulisannya dimulai sejak ia masih duduk di kelas IV SDN Guluk-Guluk Sumenep. Saat itulah hobi menulisnya timbul. Ketika duduk di bangku MTs, ia pun terus mengasah kemampuannya di bidang itu, terlebih lagi didukung dengan banyaknya buku-buku yang dikoleksi almarhum Babanya, KH. Waqin Khazin yang banyak menginspirasinya dalam menulis terlebih dalam menulis cerpen. Hingga akhirnya cerpennya yang berjudu ‘Donat’ dimuat di Majalah Annida dan kumpulan cerpennya yang berjudul ‘My Valentine’ diterbitkan pada 2006 silam oleh Gema Insani Press (GIP). Dia mengakui sebelum karya-karyanya dipublikasikan dia sering mengalami kegagalan namun dia tetap berusaha, bahkan ia pun mengakui bahwa akhir-akhir ini ia sulit menulis karena kesibukannya tapi dia berusaha untuk menulis.
Buku Jalan Terjal Santri Penulis ini juga ditulis oleh sembilan penulis lainnya. Yaitu, Ahmad Muchlish Amrin, Noviana Herlianti, Nur Faishal, Azizah Hefni, Salman Rusydie Anwar, Muhammadun AS, Ana FM, Ahmad Khotib, dan Fathorrahman Jm. Mereka adalah penulis-penulis yang ditelorkan oleh pesantren-pesantren ternama.
Membaca buku ini akan membuka mata kita bahwa menjadi seorang penulis tidaklah harus tinggal di lingkungan mewah, buktinya mereka yang menulis dalam buku ini merupakan anak-anak yang dilahirkan di daerah yang jauh dari hangar-bingar kehidupan kota. Juga, kita akan tahu bahwa menjadi penulis tidak membutuhkan bakat, factor bakat hanya mendukung lima persen dalam perjalan menjadi penulis. Dan tak lupa pula, satu hal yang harus kita ketahui, perjalanan menjadi penulis tidak semudah apa yang kita bayangkan. Untuk menjadi penulis kita harus melalui beribu-ribu rintangan, termasuk ditolak redaktur dan dicacimaki. Oleh karena itu, kita tidak boleh menyerah, kita harus berusaha untuk meraiha apa yang kita mimpikan.
Dengan adanya buku ini kita dapat mengetahui bahwa betapa pada masa sekarang ini para santri telah memenuhi dunia kepenulisan tanah air. Bahkan tidak jarang dari mereka menjadi orang yang diperhitungkan dalam dunia jurnalistik dan sastra di Negara ini. Sebuah bukti bahwa santri yang ada saat ini telah mengulang sejarah, di mana pada masa silam, pada masa ulama’-ulama’ salaf santri merupakan penulis paling produktif dan karya mereka hingga saat ini masih diperhitungkan dan layak untuk dijadikan bahan bacaan.
Untuk para teman-teman santri, buku ini sangat penting untuk dibaca. Kerena tidak selamanya santri itu harus berkutat dengna kitab-kitab kuning, tetapi juga bagaimana kita sebagai santri mencoba menulis. Sebab dengna menulis image santri yang terkesan kolot di mata masyarakat luas akan terhapus, dan akan membuktikan bahwa para santri, para ‘kaum sarungan’ juga bisa menghasilkan sebuah karya yang layak diabadikan.
Namun, sebagus apapun sebuah karya, pastilah di situ ada celahnya. Buku ini mengandung cukup banyak kata tidak baku yang sepantasnya tidak digunakan dalam penulisan jenis tulisan seperti yang ada di buku ini, dan walaupun memang harus memakai kata tidak baku mungkin lebih baik kata tersebut dicetak miring.
Dan marilah kita tanam kata-kata Imam Ghazali pada awal tulisan ini pada hati kita. Juga karena sepandai apapun orang itu jika ia tidak berkarya atau menulis maka ia akan hilang ditelan waktu, seperti kata almarhum Gus Zainal Arifin Thoha, “Aku menulis maka aku ada”. Mari para santri, jadilah penulis.!


Thursday, 24 December 2009

MENJADI SANG PEMIMPI

"Bermimpilah. Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu". Itulah perkataan Arai pada Ikal, dalam film Sang Pemimpi saat mereka mau memulai bermimpi. Sebuah film karya sutradara ternama Riri Reza yang tayang sejak 17 Desember lalu di bioskop seluruh Indonesia. Film ini merupakan sekuel dari film Box Office Laskar Pelangi yang terlebih dahulu ditayangkan pada akhir 2008 kemarin. Namun, tulisan ini tidak akan membahas tentang film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Andrea Hirata itu, melainkan akan membahas sebuah pesan yang ada di balik ceritanya, yaitu pesan agar kita berani bermimpi dan mengejarnya tanpa mengenal lelah.
Bermimpi memang hal yang mudah, setiap orang pasti bisa bermimpi, bahkan setiap kali kita terlelap mimpi itu akan datang dengan sendirinya tanpa diminta. Bermimpi yang dimaksud bukanlah sekedar bermimpi. Bukan hayalan yang kita adaptasi dari kisah-kisah fiktif. Bukan pula apa yang kita lihat dalam tidur kita lalu kita membuatnya menjadi fakta, bukan. Tapi mimpi yang dimaksud di sini adalah sebuah ide besar, cita-cita setinggi langit yang mustahil untuk meraihnya tanpa usaha dan kerja keras.
Dalam kisah Sang Pemimpi, bermimpi bisa sekolah di Eropa, di Paris Prancis dan bisa menjelajahi Eropa Afrika merupakan hal yang mustahil bagi seorang anak miskin dari kampung terpencil di pulau Belitong, sebuah pulau kecil di Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia, seperti Arai dan Ikal. Namun hal itu tidak lagi mustahil ketika mereka berani bermimpi dan berani menggapainya meski seribu rintangan harus dilewati dan terus berjuang tanpa sempat berkenalan dengan kata 'menyerah' hingga mimpi itu tercapai.
Kisah-kisah tentang meraih mimpi tidakh hanya diceritakan dalam film ini, melainkan banyak sekali. Salah satnya yang mungkin masih melekat dalam ingatan kita adalah kisah Wright bersaudara (Wilbur Wright dan Orville Wright). Semuanya berawal ketika dua bersaudara itu sedang duduk melihat langit, saat itu melintas seekor burung di atas mereka berdua. Dan tersiratah dalam benak mereka, mimpi untuk bisa terbang seperti burung dan melihat isi bumi dari atas sana.
Langkah awal yang mereka tempuh adalah membuat replika sayap burung yang mereka letakkan di kedua tangan mereka, tapi ternyata alat itu tidak mampu membantu membantu mereka untuk terbang, mereka gagal. Ternyata kegagalan tidak membuat mereka menyerah, mereka terus mencari ide, mencoba satu alat lain dan yang lainnya lagi hanya untuk bisa mengejar mimpi mereka, bisa terbang seperti burung. Tapi ternyata kegagalan masih menyertai mereka. Hingga suatau ketika, seubah ide datang menghampiri pikirang mereka, sebuah ide tentang pesawat terbang, mereka pun mencoba menerapkan ide mereka, dan kali usaha mereka tidak sia-sia. Mereka bisa terbang dengang sebuah alat yang mereka berinama Wright Flyer, pesawat yang mampu terbang sejauh empat mil.
Eep Syaifullah Fatah, salah satu intelektual dari Universitas Indonesia pernah berkata, "Mimpi adalah setengah cita-cita. Cita-cita adalah setengah dari rencana. Rencana setengah dari kerja keras. Dan kerja keras adalah setengah dari keberhasilan". Dalam Islam pun diajarakan tentang usaha tanpa kenal lelah, atau yang lebih dikenal dengan istilah ikhtiar, ikhtiar merupakan sebuah usaha untuk mencapai apa yang kita inginkan, yang kita mimpikan, berusaha tanpa kenal lelah yang disertakan doa sepanjang waktu kepada Allah. Tak lupa pula, usaha tersebut harus disertai keyakinan bahwa setiap usaha akan mendapatkan balasan dari Allah. Seperti yang difirmankan oleh Allah, ”Aku seperti apa yang dipikirkan hambaku”. Artinya, jika kita berpikir dan yakin bahwa Allah akan memberikan apa yang kita mimpikan, maka apa yang telah kita yakini tersebut akan dikabulkan oleh Allah, serta dipermudahkan jalan untuk mencapainya.
Sebenarnya inti dari semua itu adalah bagaimana kerja keras kita untuk menghadapi proses yang akan kita lalui untuk mengejar mimpi-mimpi kita. Kita melihat kesuksesan sesorang bukanlah kesuksesan itu sendiri, tapi kita melihat proses panjang yang dia lalui untuk mencapai kesuksesan itu. Dan sekali lagi, penulis katakan, mimpi bukanlah hayalan, tapi mimpi merupakan awal dari sebuah perubahan. Mari kita bermimpi! Mari kita jadi Sang Pemimpi.


Monday, 14 December 2009

MENCARI NURANI PARA TIKUS

Seperti yang kita ketahui bersama tikus merupakan hewan yang identik dengan sesuatu yang kotor, sampah atau kolong jembatan yang mempunyai sifat serakah, tidak mau kalah dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Namun saat ini, muncul species baru dari tikus, yaitu yang tidak lagi identik dengan kotoran, species ini kebalikan dari tikus pada umumnya, mereka berpakaian rapi, bersih, berdasi, dan mengendarai mobil bagus. Sarangnya pun tak lagi di kolong jembatan atau tempat sampah ataupun tempat-tempat kotor lainnya, melain sebuah bangunan mewah yang mirip istiwa yang dipenuhi fasilitas-fasilitas serba mewah dan aksesoris-aksesoris terbaru. Tapi ada satu kesamaan dengan tikus pada umumnya yang melekat pada species ini, yaitu sifatnya. Sifat serakah, tak mau kalah, dan mementingkan diri sendiri. Sifat inilah yang menjadi cirri khasnya.
Kita tidak perlu menyusuri tempat kotor atau tempat sampah untuk menemukan mereka. Kita hanya perlu membaca Koran dan menonton televisi setiap hari, pasti kita akan menemukan mereka. Karena mereka adalah para manusia yang mungkin sering kita dengar namanya, bahkan mungkin bisa jadi salah satu dari mereka merupakan orang terkenal yang sudah setiap hari kita temui di televisi dan Koran karena kepintarannya. Species ini dalam bahasa orang-orang pintar atau bahasa kerennya ‘koruptor’. Mereka telah menyebar di sekitar kita. Jadi, para pembaca untuk tidak heran jika bertemu dengan mereka.
Peringatan hari anti korupsi se-dunia yang diperingati oleh para mahasiswa dan aktivis seluruh tanah air dengan demo serentak pada tanggal 9 Desember kemarin seharusnya menjadi hari introspeksi bagi mereka. Seharusnya mereka yang saat ini sedang bersembunyi di balik gedung bertingkat nan penuh kemewahan tersebut menyadari betapa kecewanya masyarakat terutama mereka kaum bawah yang selalu termaginalkan dengan sikap mereka yang seenaknya dan tidak pernah memikirkan rakyat bawah.
Sebenarnya jika mereka mau berpikir lebih panjang dan mau memperhatikan rakyat bawah, melirik anak-anak yang harus rela mengamen dan menjadi pedagang asongan karena tidak punya biaya untuk meneruskan pendidikannya, pastinya mereka akan sadar bahwa uang yang telah mereka gunakan untuk memuaskan nafsu mereka bukan hak mereka, melainkan milik rakyat yang pada saat yang sama sedang meringis menahan rasa sakit karena terlalu lama perut mereka tidak disentuh makanan, dan pengamen-pengamen kecil yang sedang dibentak-bentak seseorang karena orang itu merasa terganggu dengan mereka, sedang jauh dilubuk hati para pengamen itu ada rasa untuk mengenyam pendidikan yang layak seperti anak-anak pada umumnya agar tak ada lagi hinaan dan cacian yang dilontarkan padanya.
Bukti kongkrit yang bisa kita ambil dari hal itu sebenarnya tidak harus jauh-jauh sampai ke ibu kota. Kita lihat saja di provinsi kita tercinta yaitu Jawa Timur, menurut harian Surya (10/12/2009) melansir bahwa kota terkorup di Jawa Timur adalah kota Surabaya dengan kerugian mencapai Rp. 439 miliar yang rata-rata uang tersebut dikorupsi dari APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah). Dengan jumlah yang sedemikian besar, bisa kita bayangkan apa yang bisa kita dapatkan dan kita perbuat dengan uang tersebut. Dan jika uang yang sedemikian banyak itu kita pergunakan untuk membiayai anak-anak tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan mereka, tentunya beratus-ratus anak yang akan mendapatkan pendidikan yang serta menjadi generasi bangsa yang dapat diandalkan. Ironisnya, jumlah tersebut hanya untuk kota Surabaya saja, bukan jumlah keseluruhan di provinsi Jawa Timur terlebih lagi hanya kasus yang masuk ke pengadilan saja, belum termasuk kasus yang tak terungkap. Sungguh tak bisa dibayangkan.
Andai saja uang itu tidak dikorupsi dan digunakan untuk memuaskan nafsu tikus-tikus yang bersarang di gedung-gedung kantor itu penulis yakin anak-anak jalanan yang sering kita temui di pinggir jalan dan pengamen-pengamen yang seringkali mengusik ketenangan kita pun juga tak akan lagi berkeliaran. Kerena dengan adanya uang tersebut mereka bisa mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal yang layak.

Intinya Adalah Kesadaran
Menurut penelitian Transperency International tentang tingkat korupsi di dunia, Indonesia pada Nopember 2009 menempati peringkat ke-111, naik 15 belas peringkat dari peringkat sebelumnya yaitu peringkat ke-126. Fakta tersebut menjadi bukti bahwa semakin hari korupsi di Indonesia semakin meningkat bukan menurun.
Sebenarnya penyebab utama dari hal ini sangat sederhana sakali, yaitu kesadaran dalam diri mereka. Namun hal yang sederhana seakan tidak berarti di mata mereka kerena segumpal nafsu telah menutup nurani mereka dan membunuh kesadaran yang bersemayam di dalamnya.
Menurut Imam Al Ghazali, orang yang hati nuraninya telah tertutup nafsu, sangat sulit baginya untuk melihat kebenaran. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana mereka bisa memuaskan nafsunya saja tanpa berpikir dampak yang disebabkannya setelah itu.
Perlu diakui memang, kesadaran yang ada dalam diri setiap manusia sangatlah penting, karena tanpa kesadaran perbuatan seorang manusia tidak pernah bermanfaat bahkan akan merugikan orang lain. Namun kesadaran yang dimaksud di sini bukanlah kesadaran dalam arti fisik saja, tapi kesadaran dalam arti batin. Yang mana kesadaran itu timbul dari hati nurani yang kemudian akan mendorong manusia untuk berpikir apakah yang dia perbuat itu akan merugikan orang lain atau tidak, apakah ia hanya memuaskan nafsunya ataukah ia ingin dirinya berguna bagi orang lain.
Kesadaran yang seperti itulah yang seharusnya ada dalam setiap diri mereka para tikus itu. Karena dengan hal itu sifat ketikusan dalam dirinya akan hilang dan tidak lagi menjadi siluman tikus pemakan uang rakyat dan negara akan aman dari pencuri seperti mereka yang kemudian menjadikan rakyat makmur serta negara tercinta memiliki generasi-generasi yang cakap yang akan membawa Indonesia kepada masa depan yang lebih cerah.