Saturday, 31 July 2010

BERAWAL DARI MIMPI UNTUK MIMPI

Mimpi. Itulah hal pertama yang sering kita bicarakan saat kita mulai merasakan keakraban di antara kita. Berawal dari kisah-kisah yang sama-sama kita baca dan kita senangi aku dan dirimu mulai saling berbagi tentang cerita-cerita itu. Hingga akhirnya aku tahu bahwa juga mempunyai keinginan yang sama denganku. Keinginan untuk bisa menjejakkan kaki di daratan tertinggi di pulau jawa. Di puncak Mahameru.
Mungkin keinginan itu biasa untukmu. Tapi untukmu sebuah hal yang sangat kebetulan mempunyai seorang teman yang mempunyai suatu keinginan yang sama yang lumayan menantang jika kita menjalaninya. Dan aku pun merasakan ada yang beda darimu ketimbang temen-temen perempuanku yang laen.
Keakraban kita pun mulai berlanjut. Suatu ketika kau bercerita padaku bahwa kau suka tentang cerita orang-orang yang hobinya adalah memecahkan segala misteri. Cerita tentang seorang detektif yang suka memecahkan kasus-kasus yang menurutku tidak terlalu masuk akal yang kita dalam bentuk gambar. Dan secara kebetulan hal itu juga adalah salah satu hobiku sejak masih kecil. Suka membaca komik detektif.
Dan sejak saat itu aku mulai melihat semua tokoh dalam cerita yang pernah kita bicarakan datang di setiap malamku bersamamu. Dan hal itu terus berulang hingga suatu malam aku tak dapat sedikit pun merasakan nikmatnya terlelap dengan pulas. Mataku tak sedikitpun mampu tertutup walau hanya sedetik. Aku dapat merasakannnya. Aku merasakan sebuah virus dengan warna merah muda telah merusak semua sistem dalam tubuhku. Ah… andai kau tau itu.
Pada awalnya aku takut untuk mengatakan semuanya padamu. Rasa takut akan keakraban yang selama ini kita jalani akan hilang gara-gara hal yang mungkin tak penting untukmu. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Hanya lewat tulisan yang kutaruh di salah satu jejaring sosial kau tau semuanya. Dan kita pun mulai membahas hal itu.
Saat kita membicarakan hal ini, aku pun mengerti pada dasarnya kau tak pernah menginginkan hal ini terjadi. Kau mengatakan padaku bahwa kejadian yang lalu yang membuatmu menjauh dengan beberapa orang terdekatmu. Tapi entah kenapa aku merasa suatu saat nanti kau akan sangat dekat denganku walau entah kapan itu terjadi.
Karena semua orang mempunyai keinginan dan mimpi. Kau punya keinginan dan mimpi begitu juga aku. Maka kita tak bisa memaksakan kehendak kita pada orang lain. Jika aku menginginkan sesuatu darimu sedangkan kau tidak, maka akan tidak boleh memaksamu, ataupun sebaliknya. Karena jika itu terjadi maka ego yang besar akan tumbuh dalam hati ini. Ataupun akan terlahirlah sebuah obsesi yang sangat besar yang nantinya merugikan orang lain, seperti katamu.
Ada satu hal yang seharusnya kau ketahui dariku. Mimpiku yang paling utama saat ini—setelah mimpiku untuk menjadi wartawan dan penulis besar di Negara ini—adalah mimpi untuk bisa hidup bersamamu. Menjalani semuanya denganmu. Dan menunggu usia senja kita sambil tetap bercerita tentang mimpi, bintang ataupun detektif-detektif kecil yang sering kita perbincangkan itu.
Namun, yang namanya mimpi bisa terjadi dan juga bisa tidak. Semua tergantung kepada Allah. Dia yang menentukan semuanya. Kita di dunia ini hanya bisa berharap dan menunggu serta tetap berusaha. Berharap Allah memeluk mimpi ini, seperti kata Andrea Hirata “Bermimpilah karena Tuhan memeluk mimpi-mimpimu”. Meskipun kemungkinan dari semua itu masih di bahwah 50%.
Aku berharap kau mengerti. Karena semua hal yang terjadi pada setiap orang perlu adanya pengertian antara yang satu dengan yang lain. Dan yang terakhir, jangan pernah hilangkan keakraban di antara kita. Aku ingin itu tetap ada beserta senyummu yang selalu kau berikan padaku saat kita saling bertatap.


Sunday, 25 July 2010

UANG

Uang. Dilihat dari jumlah hurufnya yang hanya empat huruf tentu mudah diingat dan diucapkan. Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang. Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran.
Keberadaan uang menyediakan alternatif transaksi yang lebih mudah daripada barter yang lebih kompleks, tidak efisien, dan kurang cocok digunakan dalam sistem ekonomi modern karena membutuhkan orang yang memiliki keinginan yang sama untuk melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai. Efisiensi yang didapatkan dengan menggunakan uang pada akhirnya akan mendorong perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang kemudian akan meningkatkan produktifitas dan kemakmuran.
Namun, siapa sangka uang yang telah membantu manusia untuk bertransaksi dalam sistem ekonomi telah membuat orang-orang gila. Baik gila dalam arti sesungguhnya ataupun gila yang dimaksudkan untuk perumpamaan. Saat ini banyak di sekitar kita orang-orang yang rela melakukan apapun, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.
Tidak jarang yang menikam saudaranya sendiri hanya gara-gara uang. Seperti kasus pembunuhan yang beberapa waktu lalu saya saksikan di salah satu stasiun TV swasta, yang dalam tanyangan tersebut dijelaskan bahwa motif tersangka membunuh saudaranya hanya gara-gara harta warisan. Hanya gara-gara uang. Ada juga yang dengan rela memperjualkan agama hanya untuk mendapatkan honor atau upah atau singkatnya uang. Hal ini terjadi pada beberapa artis kita di Indonesia ini. Mereka yang beragama non-Islam berakting sebagai Muslim dan orang Muslim berakting sebagai orang non-Muslim hanya untuk satu tujuan yaitu uang. Padahal hal seperti itu bagi orang muslim yang benar-benar menganut ajaran Islam dengan sungguh-sungguh adalah salah satu ciri kufur fil ‘amal (Kafir secara perbuatan) yang termasuk dosa besar. Meskipun dengan alasan apapun.
Mereka yang seperti itu oleh orang Madura disebut dengan Biruh Matah atau dalam bahasa Indonesianya Hijau Mata. Sebuah sendiran yang ditunjukkan kepada seseorang yang di benak dan semua apa yang dia kerjakan hanya memiliki satu tujuan, yaitu uang.
Sekarang ini, segala sesuatu di Negara kita ini diukur dengan uang tanpa terkecuali. Jangankan di kota, di desa saya di pedalaman Madura uang sudah menjadi suatu ukuran. Salah satu contohnya adalah ketika masyarakat di sana mau mengurus surat-surat. Mulai dari Kartu Keluarga (KK), Surat Keterangan Kelakuan Baik (SKKB) hingga Surat Keterangan Keluarga Kurang Mampu harus ada uangnya dulu baru proses pembuatan surat-surat tersebut akan dikerjakan atau setidaknya proses akan berjalan lebih cepat. Sungguh sebuah ironi.
Tidak hanya itu, untuk mendapatkan pendidikan layak pun harus diukur dengan uang. Jika tak punya uang maka jangan berharap masuk sekolah yang fasilitas pendidikannya cukup lengkap atau bahkan tidak masuk sekolah sama sekali. Padahal saat ini sudah ada program Pemerintah wajib belajar Sembilan tahun yang semuanya sudah dibiayai oleh pemerintah. Telah banyak buktinya dari kasus seperti itu. Baru-baru ini kita mendegar sebuah kasus bunuh diri yang dilakukan seorang bocah karena dia frustasi orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya. Kasus ini ditayangkan oleh beberapa stasiun TV swasta.
Saat orang tua anak tersebut dikonfirmasi oleh para wartawan tentang hal itu, dia menjawab meskipun saat ini sekolah sudah gratis tapi sekolah anaknya masih meminta pungutan dengan alasan keuangan buku, pembangunan dan lain-lain.
Sungguh saat ini uang telah menjadi tujuan utama kehidupan masyarakat Indonesia. Dan hal itu tidak dapat dipungkiri. Di manapun kita berpijak disitu pula kita harus berhubungan dengan uang. Di kota besar seperti Surabaya juga seperti itu. Dari makan, minum sampai buang air sekalipun harus menggunakan uang. Dan saya pun tidak memungkiri bahwa sekarang ini sangat jarang orang yang tida biruh matah karena melihat uang. Oleh karena itulah tulisan ini ada.


Tuesday, 20 July 2010

ANNUQAYAH DI DADAKU

Jika boleh memplesetkan sebuah lagu, maka saya akan memplesetkan lagunya Netral yang berjudul ‘Garuda di Dadaku’ menjadi ‘Annuqayah di Dadaku’. Karena bagi saya Annuqayah tidak hanya sebagai sebuah pesantren belaka, melainkan Annuqayah bagi saya adalah orang tua dan desa kedua saya. Ya, meskipun saat ini secara adiministratif saya bukan lagi santri Annuqayah, tapi bagi saya pribadi saya tetap dan akan selalu menjadi santri Annuqayah sampai kapan pun.
Banyak sekali yang saya alami dan saya dapatkan selama enam tahun tinggal di Annuqayah, baik berupa ilmu, pengalaman, guru, sahabat dan banyak hal lainnya yang telah mewarnai hidup saya dan selalu menginspirasi saya untuk selalu menjadi lebih baik. Semua itu tidak akan pernah terlupakan.
Ada beberapa hal yang paling sering saya ingat dan saya rindukan saat ini dari Annuqayah. Yang pertama adalah sosok kiai yang paling bersahaja yang selalu sabar mengayomi santinya meskipun santrinya terkadang sering berbuat tidak sesuai yang dinginkan beliau. Yaitu KH. Ahmad Basyir AS. Sosok beliaulah yang paling saya rindukan dari Annuqayah. Betapa tidak, dengan keadaan beliau yang saat ini sudah mencapai usia senja, beliau masih mempunyai semangat yang sangat besar untuk memberikan ilmu dan pendidikan yang terbaik pada santrinya. Beliau selalu menjadi imam shalat jama’ah di Mushalla Latee atau pun mengajar Madrasah Diniyah meskipun pada saat itu juga kondisi beliau tidak cukup kuat untuk itu.
Mengingat beliau membuat mata saya seketika penuh air mata. Rasa kagum dan rasa haru bercampur dalam hati saya saat saya mengingat semua tentang beliau. Mulai dari semangatnya hingga perkataan-perkataan beliau tetap saya rasakan hingga saat ini, saat saya berada di kota Surabaya ini. Dan saya akan senantiasa selalu mendoakan beliau semoga beliau tetap kuat memberikan yang terbaik untuk santrinya dan semoga beliau diberikan pahala dan surga kelak di akhirat nanti.
Yang kedua, yang sangat saya rindukan dari Annuqayah adalah suasana religius yang tak pernah hilang. Memang, sudah sepatutnya semua pesantren identik dengan suasana religius. Tapi bagi saya suasana religius yang ada di Annuqayah sangat berbeda dengan suasana religius yang ada di pesantren-pesantren lain yang pernah saya kunjungi. Seperti Al Amin Prenduan, Al Is’af Kalaba’an atau pun Pesantren Tebuireng Jombang yang baru-baru ini saya kunjungi. Perbedaan suasana seperti juga diakui beberapa teman saya di Annuqayah yang juga pernah mengenyam pendidikan di pesantren lain.
Saya tidak dapat menjelaskan secara detail letak perbedaan suasana religius tersebut. Namun saat saya berada di Annuqayah saya merasakan sebuah ketenangan, ketentaraman dan kesejukan yang tidak pernah saya rasakan di Surabaya. Selain dari pada itu, secara tidak langsung orang-orang yang ada di sana menantang saya untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah.
Yang ketiga adalah tradisi menulis yang menjadi salah satu ciri khas Annuqayah. Ya, Annuqayahlah yang mengantarkan saya pada dunia yang sangat menyenangkan ini, dunia menulis. Berawal dari ketidaksengajaan saya masuk dunia tulis-menulis. Namun ketidaksengajaan tersebut telah membawa saya ke beberapa tempat-tempat seperti Jakarta dan juga memperkenalkan saya kepada orang-orang penuh semangat dalam menulis seperti Gus Muhammad Musthafa, Gus M. Zammiel el Muttaqien dan Gus M. Faizi. Beliau-beliaulah yang selalu saya jadikan contoh dan guru-guru saya dalam menulis, yang terkadang saat saya melihat karya mereka saya terpacu untuk terus menulis dan berkarya.
Di Annuqayah ada sebuah kompetisi untuk menulis yang akan selalu mendorong sesorang untuk menulis, meskipun hal itu tidak tampak secara kasat mata. Dan kompetisi itu tidak pernah saya rasakan di sini, sehingga sejak saya tinggal di Surabaya sampai saat ini tulisan saya masih bisa dihitung dengan jari. Berbeda saat saya masih di Annuqayah yang setiap hari, setidaknya saya menghasilkan sebuah tulisan dalam bentuk apapun.
Yang keempat adalah suasana sosialis dan rasa persaudaraan yang diterapkan para santri Annuqayah. Hal itulah yang tidak pernah saya rasakan di Surabaya. Di sini, semua orang seakan hanya mementingkan diri sendiri saja. Semua bersifat individual. Bahkan meskipun Pesantren Mahasiswa IAIN yang saya tempati sekarang ini berbasis pesantren, tapi tidak sedikitpun saya merasakan adanya rasa persaudaraan mereka sama seperti rasa persaudaraan teman-teman di Annuqayah. Semua orang yang tinggal di sini sulit untuk berkumpul dan bercerita-cerita seperti teman-teman di Annuqayah. Mereka hanya berkumpul dengan orang-orang yang menurut mereka satu derajat atau satu ideologi saja. Sungguh sangat tidak menyenangkannya kehidupan sosial di sini.
Hal-hal inilah yang selalu membuat saya merasa rindu pada Annuqayah. Dan satu hal yang ingin saya sampaikan pada semua orang, pada semua teman-teman saya terutama teman-teman di Annuqayah. Saya akan mengatakan bahwa seberapa besarpun kita ingin keluar dari Annuqayah maka sebesar itu pula rasa rindu yang akan kita rasakan saat kita jauh dari Annuqayah.
Dan jika suatu saat nanti, saat saya telah menyelesaikan semua proses studi saya, ada yang meminta saya untuk kembali atau pun menjadi bagian dari Annuqayah. Maka saya akan senantiasa untuk menerimanya. Karena Annuqayah di dadaku.


Monday, 21 June 2010

Malam yang Tak Lelap

Pernahkah anda tidak bisa tidur semalaman karena terganggu beberapa hal. Yah, saya yakin anda pasti pernah merasakan hal itu. Dan hal itu saya alami semalam. Semalaman saya tidak bisa tidur. Sebenarnya, semalam saya sangat ngantuk sekali, ditambah rasa capek setelah mengerjakan tugas UAS seharian. Tapi, rasa capek tersebut seakan tidak ada apa-apanya. Rasa ngantuk itu hilang dalam sekejap saat saya ingin memejamkan mata saya. Saya terus mencoba untuk memenjamkan mata saya, tapi tak bisa. Saya tetap tidak bisa terlelap sedikitpun.
Saya tidak mengerti mengapa saya tidak bisa tidur semalam. Yang jelas saat saya mulai memejamkan mata, secara otomatis seorang wanita hadir dalam pikiran saya. Wanita itu teman dekat saya di LPM Solidaritas. Namun saya tidak bisa menyebutkan identitasnya di tulisan ini, karena saya rasa masih belum tepat saya mengungkapnya.
Bayangan wanita—yang selanjutnya saya inisialkan dengan IW—itu memenuhi otak saya. Saya mencoba untuk memejamkan mata lagi. Tapi bayangan IW terus saja mengganggu saya. Membuka kembali mata saya dan membuat rasa ngantuk dan capek yang tadinya saya rasakan hilang seketika.
Sebenarnya, di antara saya dan IW tidak ada apa-apa. Tidak ada yang spesial. Hanya saja beberapa hari terakhir ini saya sering memberikannya dengan beberapa teman saya. Juga dalam beberapa waktu terakhir ini saya sering saling berkomentar di Facebook. Saya semakin tidak mengerti saat saya mengingatnya saya merasakan sesuatu yang bergejolak di dada saya. Saya tidak mengerti.
Dan setelah saya shalat subuh tadi, saya merenung sejenak. Apa yang sebenarnya terjadi pada saya. Saya tidak bisa menyimpulkannya, yang jelas sesuatu yang tidak biasa telah terjadi pada diri saya dan hal itu berkaitan dengan IW. Sekarang saya hanya bisa berharap dan berdoa kepada Allah semoga saya mampu melaluinya dengan mudah. Amin.

Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel, 5:00 WIB. 21 Juni 2010


Thursday, 10 June 2010

Berkunjung ke TVRI, Menyaksikan Kesenian Madura



Hidup di Surabaya nan jauh dari rumah membuat saya selalu merasa kangen pada kampung halaman saya, yaitu Sumenep ataupun Madura. Rasa kangen dan rindu seperti ini membuat saya selalu ingin bertemu dengan hal-hal yang berbau Madura, apapun itu. Padahal sebelum saya kuliah dan tinggal di Surabaya saya merasa kurang percaya diri ketika disinggung tentang hal-hal yang berbau Madura, baik itu seni, budaya ataupun hal lainnya yang berbau Madura. Namun hal itu sudah berubah saratus persen. Sekerang saya selalu berasa bangga dengan apapun hal-hal yang berbau Madura yang saya temui, terutama di Surabaya.
Tadi sore saya bersama teman-teman LPM Solidaritas serta teman-teman UKM lain yang sama-sama berada dibawah naungan Rektorat IAIN, menemani bapak Rektor Prof. Dr. Nur Syam, M.SI menghadiri acara Talk Show SEMANGGI (Semangat Menggali Inspirasi) di TVRI Jawa Timur.
Sebenarnya saya tidak menyangka akan diajak oleh senior LPM Solidaritas untuk mengikuti acara itu. Tiba-tiba saja tadi siang sehabis saya pulang kuliah senior saya di LPM Solidaritas SMS saya dan menyuruh saya untuk ikut acara tersebut. Tanpa pertimbangan lagi saya langsung berkata siap. Karena menurut saya acara ini pasti bakal bermanfaat dan akan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan, serta ini adalah kesempatan yang mungkin saja tidak akan datang untuk kedua kalinya.
Saya menuju Studio TVRI jam 16.30 bersama teman-teman menggunakan bus milik IAIN. Sesampai di depan Studio TVRI, sungguh tak menyangka di parkiran tersebut saya melihat sebuah bison bernomor polisi Pamekasan, Madura. Saat itu tak terbersit sedikitpun di benak saya bahwa mobil bison itu berhubungan dengna acara yang akan saya hadiri ini.
Saat saya memasuki Studio 2, tempat acara Semanggi on Air, saya melihat alat-alat musik yang tidak asing bagi saya, alat-alat musik Ul-Daul khas Madura. Seketika itu pula saya menyimpulkan bahwa acara ini pasti berhubungan dengan Madura karena menghadirkan seni Madura. Dan benar, acara ini berhubungan sekali dengan Madura dan bahkan salah satu Nara Sumbernya adalah Bupati Pamekasan, Drs. KH. Khalilurrahman, SH., orang yang cukup sering saya jumpai di Madura. Dan acara yang berdurasi satu setengah jam bersebut dimulai dengan tema “Pendidikan, Kesehatan dan Kewirausahaan”. Sedankan nara sumbernya selain bapak Bupati Pamekasan adalah Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya, Prof Dr. Nur Syam M.SI dan Direktur Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya, DR. Slamet Riyadi Suwono.


Perbincangan dan dialog yang dilakukan dalam acara itu berputar tentang pendidikan, kesehatan dan kewirausahaan di Jawa Timur terlebih di Pamekasan. Nah, yang membuat saya merasa bahagia dan bangga menghadiri acara itu adalah acara tersebut diselingi oleh penampilan kelompok Musik Ul-Daul asal Pamekasan. Memang saya bukan orang Pamekasan ataupun berdarah Pamekasan, tetapi tidak salah mungkin jika saya bangga karena music Ul-Daul itu memang sangat Madura sekali dan adanya hanya di Madura. Apalagi dalam penampilan tersebut ada seorang penyanyi Remaja yang juga orang Madura yang menyanyikan lagu-lagu Madura. Sungguh saya merasa sangat senang sekali menghadiri acara itu.
Mungkin tidak berlebihan jika saat ini saya kegirangan karena salah satu seni budaya Madura mulia dihargai oleh publik luar Madura. Karena dari dulu Madura identik carok ataupun dengan hal-hal yang berbau kekerasan. Dan pada saa ini mungkin semua orang yang menyaksikan acara di TVRI tadi akan tau bahwa orang Madura mempunyai sebuah seni yang patut dihargai dan diapresiasi.
MADURA, AKULAH DARAHMU!

Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel, 9 Juni 2010, 21:30


Tuesday, 8 June 2010

Sebuah Cerita di Pagi Hari

Hari ini tanggal 8 Juni 2010, hari ini adalah hari tes seleksi masuk IAIN Sunan Ampel 2010. Saya pun teringat akan satu tahun yang lalu, pada saat saya baru pertama kali menginjakkan kaki di IAIN Sunan Ampel sehari sebelum pelaksanaan test seleksi 2009. Saat itu, menginjakkan kaki dan berada di lingkungan IAIN merupakan hal—yang pada saat itu—tidak pernah saya bayangkan. Betapa tidak, saat itu bagi saya yang masih berstatus santri Annuqayah kuliah di luar Annuqayah terlebih lagi di luar Madura merupakan hal yang sangat diimpikan saya. Sungguh masih teringat segar bayangan itu di ingatan saya.
Dan sekarang, satu tahun sudah berlalu. Saya sudah resmi menjadi mahasiswa IAIN Sunan Ampel. Dan tinggal di Surabaya pun mulai terasa biasa-biasa saja, tidak ada sesuatu yang lebih seperti saat saya baru saja masuk di IAIN Sunan Ampel.
Memang benar, dunia dan waktu terus berputar, kadang di atas kadang di bawah. Hal itu pun telah terjadi pada saya. Dulu yang sangat menginginkan hidup di kota, sekarang mulai terasa membosankan hidup di kota. Saat ini saya merasa hidup di desalah yang sepertinya lebih tenang dan tak terbebani apa-apa. Tapi karena setiap keputusan mempunyai resiko, maka saat ini saya harus menjalani resiko dari keputusan saya yang pada satu tahun lalu memilih untuk kuliah di IAIN Surabaya. Dan saya terus berharap bahwa apa yang telah terjadi dan akan terjadi merupakan sesuatu yang terbaik bagi saya. Amin….


Pesantren Mahasiswa IAIN, 8 Juni 2010


Tuesday, 25 May 2010

PENGALAMAN ADALAH GURU YANG TERBAIK

“Pengalaman adalah guru yang terbaik” kata-kata inilah yang seharusnya aku tanamkan dalam-dalam di hatiku. Karena hingga sampai saat ini aku mengulangi kesalahan yang sama yang kemudian membuatku terus gagal mendapatkan sesuatu yang aku impikan.
Mungkin dalam beberapa hal aku sudah bisa mengaplikasikan kata-kata ini, seperti dalam menulis dan hal-hal yang berbau akademik. Namun ada satu hal yang di situ saya tidak dapat saya aplikasikan kata-kata di atas. Yaitu dalam memahami dan mengerti seorang wanita, atau yang lebih pasnya tentang perasaan wanita padaku.
Sudah berulang kali aku melakukan kesalahan yang seharusnya tidak terulang itu. Sudah empat kali aku tidak bisa menaklukkan hati seorang wanita, atau singkatnya ditolak. Untuk yang pertama dan kedua aku akui aku terlalu terburu-terburu untuk mengambil keputusan. Hanya kenal sebentar saja aku langsung meminta sesuatu yang lebih padanya, pantaslah ditolak. Dari itu kemudian banyak teman-temanku mengatakan kepadaku untuk mengenal wanita itu lebih dalam dan mengakrabkannya terlebih dahulu sebelum aku mengejarnya.
Di kali ketiga, aku mempraktekkan apa yang temanku bilang tadi. Aku mulai mengenal dan mencari tahu tentang wanita yang ketiga ini lebih mendalam. Tak perlu waktu lama aku untuk akrab dan tahu dia lebih jauh karena dia cukup kenal denganku sebelumnya, jadi lumayanlah. Saat aku sudah mulai mengenalnya sebenarnya aku sudah mau mengatakan bahwa aku mengharapkan sesuatu yang lebih darinya, tapi aku masih mengulur waktu yang lebih tepat dan pas. Mencari waktu yang pas pun saya tidak sebentar, sangat lama, sehingga wanita yang aku suka itu ditembak oleh orang lain terlebih dahulu. Dan aku pun terlambat ketika aku mengutarakan rasaku padanya. Dia sudah dengan orang itu. Kegagalan ketigaku, sungguh ironis.
Seharusnya ketika kegagalan yang ketiga itu terjadi aku membenahi diri. Dan itulah yang aku lakukan. Aku kembali suka sama teman satu semester di PBA IAIN, aku mulai mencari tahu dan mengenalnya lebih mendalam. Mencari tahu lewat teman terdekatnya. Cukup lama aku untuk mendakatinya. Ketika menurutku aku sudah cukup dekat dengannya, aku mengutarakan apa yang ada dalam hatiku. Dan jawabannya sama seperti yang sebelumnya, tidak. Aku bertanya apalagi yang salah dari langkahku? Aku sharing dengan salah satu temanku yang ku anggap lebih pengalaman dariku tentang masalah itu. Ternyata aku belum mengenalnya lebih dekat, itulah salahku. Belum mengenalnya lebih dekat. Yah… salah lagi. Padahal aku pikir aku sudah cukup dekat dengannya. Kejadian ini baru terjadi, tepatnya kemarin, tanggal 24 Mei 2010. Lessoh lajunin.
Semenjak saat itu saya berpikir, kenapa aku belum bisa mengambil pelajaran dari yang telah lalu. Mengapa aku terlalu tergesa-gesa? Mengapa aku selalu melakukan kesalahan yang sama? Pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar di otakku. Dan tulisan ini aku tulis untuk menghilangkan semuanya atau menjawab semuanya. Aku ingin belajar dari pengalaman, bantu aku ya Allah.
Semoga pertanyaan-pertanyaan yang berputar di otak ini segera terjawab. Dan aku bisa belajar dari pengalaman. Malam ini aku ingin tidur lebih lama, lebih panjang, lebih pulas dari biasanya. Agar semuanya menghilang dan esok hari aku bangun dengan wajah yang segar.
AKU INGIN TIDUR LEBIH LAMA MALAM INI.

Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel, 25 Mei 2010, 23:30 WIB