Wednesday, 28 April 2010

MENJADI PEMIKIR PESANTREN YANG UP TO DATE

Berbicara tentang pesantren, pastinya secara otomatis terbersit dalam benak kita tentang sebuah lembaga pendidikan yang dihuni banyak orang-orang yang mempunyai akhlak yang mulia, tawadu’ dan mempunyai pengetahuan agama Islam yang cukup mendalam. Namun siapa sangka ternyata pesantren yang selama ini kita banggakan dan kita cintai ternyata dianggap sebagai sebuah lembaga yang kaku, ketinggalan zaman dan terkesan lamban dalam merespons perkembangan dan pemikiran yang bersifat kekinian.
Mengacu pada hal itu, ada beberapa kelompok yang cukup—menghindari kata ‘sangat’—menjauhi Islam terutama kalangan non-Islam. Hal ini kemudian membuat islam keluar dari misi utamanya sebagai Rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).
Anggapan tentang pesantren yang seperti itu sebernanya disebabkan karena bebepara pesantren—terutama pesantren-pesantren di Sumenep—masih mengandalkan pemahaman teks dalam pengembangan pendidikan dan keilmuan Islam. Hal ini sebagaimana telah dikatakan oleh beberapa pemikir Islam kontemporer seperti Muhammad Arkoun, Fazlur Rahman dan Abid Al Jabiri bahwa selama ini perkembangan keilmuan Islam hanya terpaku kepada pemahaman teks saja. Sehingga mengakibatkan beberapa tokoh pemikir kontemporer menyatakan bahwa yang membentuk peradaban Islam adalah peradaban teks, bukan yang lainnya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa sebuah produk atau hasil pemikiran dan pemahaman seseorang dari sebuah teks tidak akan terlepas dari alur yang diberikan teks itu sendiri. Artinya, hasil pemikiran tersebut tidak mempunyai ruang lingkup yang luas. Jika teks yang dikaji adalah teks berasas Islam maka ruang lingkup yang diberikan hasil pemikiran orang tersebut hanya mencakup Islam secara khusus saja dan tidak untuk secara umum untuk pemikiran luar Islam.
Dari itu kemudian Mohammed Abid Al Jabiri menghadirkan ‘tri-epistemologi’ dalam proyeknya naqd al ‘aql al ‘arby (kritik Nalar Arab). Melalui proyek ini Al Jabiri mengungkap kecenderungan epistemologis yang berlaku bangsa Arab dan umat Islam pada umumnya. Al Jabiri mencoba menganalisa kecenderungan-kecenderungan umat muslim yang secara kreatif melahirkan berbagai produk pemikiran yang berbeda yang ternyata didominasi oleh interpretasi teks yang sama.
Tiga epistemologi tersebut pertama, epistemologi bayani. Epistemologi ini merupakan bentuk nalar yang sangat menekan otoritas teks (nash), baik secara langsung atau tidak, dan dijustifikasi akal keabsahan yang digali melelalui inferensi (istidlal). Kedua, epistemologi irfani yaitu nalar yang berdasarkan pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan, atau lebih singkatnya berdasarkan pengalaman. Ketiga, epsitemologi burhani yaitu bentuk nalar yang bedasarkan akal dan melalui proses logika.
Menurut Al Jabiri, ketiga epistemologi ini membunyai hubungan sirkulatif dalam menyikapi problema dan mencari kesimpulan dalam pemikiran. Hal ini dikarenakan hanya dengan hubungan sirkuliatif dari ketiga epistem inilah akan diperoleh kebenaran yang menyeluruh yang hal ini tidak akan mungkin dicapai oleh salah satu epistem dengan sendirinya. Selain itu dengan adanya kerja sama yang apik ini akan merubah konstruksi pemikiran Islam yang lebih memperhatikan problem kemanusian, bukan malah menjauhi apalagi pemicunya. Hal ini mengingat bahwa kerja dari ketiga epistemologi tersebut adalah mencari kebenaran (moral etik) dalam kehidupan.
Mengamalkan Qaidah Fiqhiah
Sejalan dengan teori tri-epistemologi yang dikemukakan Abid Al Jabiri sebuah Qaidah fiqhiah yang sering kita dengar dan sangat kita hafal, yaitu Al Muhafadzah Alal Qadim Wal Akhdu Bi Jadidil Aslah (melestarikan tradisi lama dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Dari Qaidah ini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa melestarikan tradisi lama atau al Qadim (teks) itu diharuskan, namun tidak mengesampingkan atau bahkan membuang tradisi-tradisi baru yang sekiranya lebih baik dan sesuai dengan zamannya.
Mengaca dari qaidah tersebut sepatutnya kita sebagai umat Islam tidak hanya mengedepankan pengkajian teks saja tapi juga mengkaji realita atau kondisi dan sintuasi zaman yang kita hadapi saat ini. Lalu hal itu kemudian dicocokkan atau digabungkan dengan tradisi lama atau pengkajian teks yang sekiranya juga sesuai dengan zaman ini. Sehingga hukum-hukum Islam yang telah ditetapkan oleh Rasulullah dan tertulis dalam kitab-kitab klasik bisa relevan dengan zaman kita saat ini.
Nah, ketika teori yang dikemukan oleh Al Jabiri dan Qaidah Fiqhiah di atas ini kita realisasikan, pastinya pendidikan dan pemikiran Islam tidak akan lagi terkesan kaku dan tidak relevan dengan zaman. Dan dengan ini pula kita akan memunculkan sebuah anggapan bahwa pemikir-pemikir Islam yang lahir dari pesantren ternyata juga mampu menjadi pemikir yang up to date. Waallahu ‘Alam bis Shawab.

Tulisan ini dimuat di RADAR MADURA Edisi Jumat 21 Mei 2010


PENDIDKAN KORUPSI

Beberapa bulan terakhir ini, berita tentang kourupsi semakin menjadi berita yang—sepertinya—menjadi berita wajib diterbitkan, baik itu di media cetak maupun audio visual. Seperti rumput-rumput liar di taman, keberadaan mereka, para koruptor, semakin hari semakin bertambah dan bertambah. Membuat Negara kita tercinta ini menjadi semakin terpuruk dan terluka. Ditambah lagi kasus ‘perdagangan hukum’ yang beberapa waktu terakhir ini menjadi tema perbincangan yang sangat menarik.
Terlepas dari pada itu, keadaan pendidikan Negara kita pun juga sangat memperihatinkan. Tidak hanya masalah banyaknya jumlah anak yang tidak mampu mengenyam pendidikan. Tapi juga tingkat kejujuran para praktisi pendidikan dalam melaksanakan UN. Seperti yang telah dilansir Mendiknas beberapa waktu lalu yang ternyata kejujuran mereka rata-rata masih di bawah 50%, termasuk juga Ibu Kota Negara, Jakarta. Hanya satu kota yang melebihi 50%, yaitu DIY Yogyakarta. Sungguh saya ingin menangis mengingatnya. Betapa tidak, bila hal itu terbukti kebenarannya berarti hampir keseluruhan dari siswa lulusan dari SLTP dan SLTA sebenarnya tidak lulus. Karena hasil ujian yang mereka peroleh merupakan suatu kebohongan belaka yang dilakukan oleh praktisi pendidikan.
Kaitannya dengan korupsi, jika di sekolah atau lembaga pendidikan lain para guru sudah mulai mempraktekkan kasus korupsi, bukan tidak mungkin di kemudian hari murid-murid atau para siswa sekolah juga akan akan melakukan hal yang sama di kemudian hari. Seperti yang telah kita ketahui dari pelajaran akhlak atau tatakrama—terlebih dalam istilah Islam—sebuah ungkapan “Jika gurunya kencing berdiri muridnya akan kencing berlari”.
Dari ungkapan tersebut dapat kita simpulkan bahwa jika seorang guru melakukan korupsi sebesar 1 juta rupiah, bisa saja muridnya di kemudian hari melakukan korupsi sebesar 1 milyar rupiah. Jika hal itu benar-benar terjadi pastinya Negara kita tercinta ini akan semakin terpuruk. Tidak hanya sekolah saja yang mempengaruhi hal tersebut, lingkungan keluarga pun cukup berpengaruh. Memang orang tua tidak akan pernah merasa mengajarkan hal seperti itu, tapi sikap, cara bicara dan cara berpikir orang tua mudah dipelajari oleh anak dan akan menjadi warisan. Karena seorang anak—terlebih mereka yang masih dalam masa pertumbuhan—akan lebih cenderung meniru tingkah laku orang tuanya. Jika orang tuanya bertingkah laku tidak baik, maka anaknya juga melakukan hal yang sama, dan seperti itu sebaliknya.
Jadi, jika saat ini para orang tua dan guru berani melakukan korupsi atau penyuapan, dan di suatu hari hal itu ditiru anak, maka jangan marah. Karena mereka hanya meniru tingkah laku para guru dan orang tua saja. Seperti juga Negara kita, jika saat ini Negara kita dipenuhi dengan kasus korupsi, maka kita perlu mengkoreksi kembali seperti apa tingkah laku para pendahulu kita, apa mereka juga melakukan hal yang sama.
Dididik untuk Korupsi
Seperti yang telah ditulis di atas bahwa seorang anak mempunyai kecenderungan dan sangat mudah untuk meniru tingkah laku orang tuanya. Nah, ketika seorang anak sudah meniru dan merasakan sebuah kesenangan dengan meniru itu, pastinya si anak pun akan terus ingin melakukannya dan bisa saja menjadi hobi. Selanjutnya, ketika korupsi menjadi suatu kesenangan atau hobi maka secara tidak langsung seorang anak yang telah mengaplikasikan perbuatan orang tuanya tersebut tidak akan menghiraukan hukum. Dia akan terus melakukannya untuk kesenangan dirinya. Yang selanjutya menjadi koruptor cilik.
Dan jika itu benar-benar terjadi, sepantasnya pula sebuah hukum yang selama ini ingin ditegakkan sulit untuk bergerak. Karena koruptor cilik itu akan terus berulah, tidak memperdulikan hukum yang akan menjeratnya. Jika hukum itu ‘berani’ menjeratnya, maka ia pun tidak segan untuk membeli hukum agar tidak bisa menyentuh apalagi menjeratnya atau bahkan akan ‘membunuh’ hukum itu sendiri.
Dari ini kemudian bisa kita simpulkan bahwa sebenarnya para koruptor yang telah merajalela di Negara kita tercinta ini merupakan hasil didikan para penduhulu mereka. Hal itu akan terus berlaku dan bejalan jika tidak ada yang mampu mencegahnya. Salah satu pencegah pendidikan korupsi adalah dengan adanya sebuah pendidikan moral yang ditanamkan sejak diri oleh para orang tua. Karena orang tualah yang selalu ada di samping anak, tetapi tidak hanya di lingkungan keluarga saja, lingkungan sekolah pun sangat perlu diapliasikan pendidikan moral. Karena apabila seseorang yang pintar belum tentu mempunyai moral yang bagus atau aklaqul karimah yang kemudian mampu menggunakan kepintarannya itu kebaikan. Hal itu sudah terbukti terhadap para pejabat Negara yang hanya pintar otak namun tidak pintar hati atau bermoral tinggi.


Saturday, 24 April 2010

MENYELAMI KISAH DASAR LAUT


Judul Buku : The Deep (Dasar Laut)
Penulis : Helen Dunmore
Penerjemah : Rosemary Kesauly
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : Pertama, Januari 2010
Tebal : 304 halaman

Keindahan dasar laut membuat kita sejenak melupakan semua problema yang kita hadapi. Laut yang penuh dengan tumbuhan bawah laut nan indah, karang-karang, dan ikan warna-warni yang pastinya akan membuat kita tercengang melihat kekuasaan Tuhan itu. Namun, selain memiliki keindahan, laut juga membawa musibah dan masalah yang kemudian merubah kehidupan kita yang dulu terasa tentram, nyaman nan indah menjadi penuh kisah sedih dan masalah yang tak kunjung selesai. Mungkin itulah sedikit gambaran tentang cerita yang diungkapkan oleh Helen Dunmore dalam empat bukunya Tetralogi Ingo.
Setelah sukses menceritakan tentang laut pada buku pertama (Ingo) dan kedua (The Tide Knot), Helen kembali mengajak kita kembali menyelam ke dalam kisah-kisahnya tentang laut. Dalam buku keempat ini, diceritakan bahwa kaum Mer meminta bantuan kepada Sapphire untuk menidurkan Kraken, seekor monster yang bersemayam di dasar laut. Menurut sejarah kaum Mer, jika monster tersebut tidak ditidurkan, ia akan menghacurkan Ingo. Untuk mencegahnya kaum Mer hanya memiliki dua pilihan, menidurkannya atau memberikan sepasang anak laki-laki dan perempuan. Sedangkan untuk menidurkannya harusada yang pegi ke dasar laut. Dan hanya mereka yang berdarah campuran manusia dan Mer yang bisa sampai ke dasar laut.
Namun, meskipun pertolongan dari Sapphire sangat dibutuhkan oleh kaum Mer. Sapphire tidak langsung menyanggupi permintaan mereka. Ia masih mempertembingkannya lagi. Terlebih Conor, kakak Sapphire dan Faro sahabatnya dari Mer, tak akan membiarkannya pergi ke dasar laut tanpa mereka berdua. Karena menurut Saldowr, penasehat kaum Mer dan Granny Carne, wanita tua yang tinggal di sebelah rumah Sapphire yang juga banyak tahu tentang Mer, perjalanan ke dasar laut bukanlah hal yang mudah, di sana banyak sekali bahaya yang menanti. Oleh karena itu, Sapphire kemudian meminta bantuan ikan Paus baik yang pernah membantunya keluar dari dasar laut dulu saat terbawa arus ketika banjir melanda kotanya.
Singkat cerita, Sapphire pun bisa memenuhi permintaan kaum Mer untuk menidurkan Kraken. Cerita selanjutnya dari novel tersebut adalah rencana Mum dan Roger untuk pergi ke Australia untuk berlibur selama beberapa bulan. Di sini, Sapphire dihadapkan pada dua pilihan antara ikut berlibur ke Australia untuk membahagiakan Mum atau tetap tinggal di rumahnya agar bisa sewaktu-waktu mendatangi Ingo dengan bebas. Nah, di masalah ini kemudian Granny Carne mempunyai andil cukup besar dalam menyelesaikan masalah. Wanita tua yang cukup dijauhi anak-anak ini kemudian membantu Sapphire, Conor dan Mum mencari jalan keluar dari masalah ini, meskipun masalah ini kesannya hanya sepele.
Cerita lainnya adalah rencana Sapphire dan Faro untuk melakukan penyebrangan Ingo, sebuah adat dari kaum Mer sebagai bukti perubahan seorang anak menjadi dewasa setelah melakukannya. Namun, cerita ini hanya dijelaskan sedikit saja karena cerita inilah yang akan menjadi cerita inti pada buku keempatnya nanti.
Di novel ini Sapphire belum bertemu lagi dengan Dad, meskipun di beberapa bab hal itu sempat diperbincangkan oleh Sapphire dan Conor. Secara keseluruhan, novel ketiga lebih kaya akan konflik dan jalan ceritanya lebih menarik. Ada beberapa tokoh Mer baru dengan karakter protagonis maupun antagonis yang turut meramaikan.
Sampai tiba akhir, novel ini sama sekali tidak menjelaskan ketakutan Mer. Di dalam Bab Empat sebenarnya hal ini sudah ditanyakan Sapphire pada Rapat Besar Mer, namun tidak ada jawaban yang pasti. Mereka hanya ketakutan harus memberikan anak-anak mereka kepada Kraken. Padahal seperti yang diutarakan Sapphire, kaum Mer hidup di Ingo dan tidak mungkin bisa ke dasar laut. Kraken hidup di dasar laut dan tidak akan pernah ke Ingo.
Dengan novel ini Helen Dunmore membuktikan kepiawaiannya dalam menjalin benang merah dari setiap sekuel dan mengeksploitasi laut dan isinya menjadi hal-hal yang mendebarkan, tetap misterius tapi sangat memikat. Sehingga mau tidak mau, kita akan dipaksa untuk berlama-lama untuk menyelesaikan kisahnya. Yang kemudian membawa kita terseret ke dunia Ingo dan percaya kehidupan bawah laut itu ada. Kita pun semakin penasaran untuk mengenal laut yang sebenarnya. Ingo memang dunia yang luar biasa.
Selamat Membaca!


Sunday, 28 March 2010

PEMUDA, SANG PLAY MAKER UNTUK PERUBAHAN

”Berilah aku sepuluh orang pemuda yang bergelora jiwanya maka aku akan mengubah dunia”, begitulah kira-kira ucapan Bung Karno, Presiden pertama kita tentang semangat pemuda dan betapa berpengaruhnya mereka. Ya, pemuda memang mempunyai semangat yang menggebu-gebu, seperti kata Rhoma Irama dalam salah satu lagunya yang berjudul ‘Darah Muda’ dan itulah kelebihan dari mereka yang mampu mengubah segalanya.
Pemuda merupakan aktor utama dalam menciptakan perbuhan, betapa tidak, dengan semangatnya yang menggebu-gebu dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru mereka mampu menciptakan ide-ide baru untuk menyongsong datangnya perubahan. Bukti nyata dari hal itu adalah turunnya Soekarno sekaligus mengakhiri Orde Lama, serta runtuhnya kekuasaan Orde baru yang dipimpin oleh Soeharto, yang kesemua itu adalah ‘ulah’ dari mereka para pemuda.
Hingga saat ini, pemuda masih mempunyai peran yang sangat penting. Layaknya seorang play maker (pengatur permainan) dalam pertandingan sepak bola, semua tergantung pada dirinya. Terserah dia apakah dia mau menjadikan permainan indah, umpan-umpan matang yang kemudian berbuah gol atau hanya sekedar bermain tanpa menghasilkan apa-apa, jangan permainan bagus dan indah mungkin saja tak satu gol pun yang didapat. Seperti itulah peran pemuda dalam mengatur sebuah perubahan.
Di Negara kita, hal itu juga berlaku. Namun, beberapa tahun terakhir ‘gebrakan’ yang mereka buat seolah tidak ada. Akhir-akhir ini mereka terkesan masih sibuk dengan diri mereka masing-masing, masih sibuk dengan kelompoknya sendiri dan masih sibuk dengan tauran dan ulah-ulah anarkis. Memang, dalam beberapa kasus mereka para pemuda khususnya mahasiswa, turun ke jalan untuuk melakukan penuntutan terhadap hak rakyat. Tapi, mereka yang sadar dan benar-benar dengan ikhlas melakukan itu hanya segelintir saja. Kebanyakan dari mereka hanya ‘jadi bebek’ dan tidak tahu tujuan dari aksi mereka itu. Bahkan, tak sedikit dari mereka melakukan itu karena ada dorongan dari orang di ‘belakang’ mereka yang nyatanya mempunyai ambisi pribadi. Dan mereka mau-mau saja.
Itu membuktikan bahwa rasa nasionalisme yang sering mereka elu-elukan dalam aksi-aksi mereka hanya ada di mulut saja, tidak di hati mereka. Dan jika berdomenstrans saja sudah bisa diatur oleh pihak lain dan hanya mengharapkan ‘upah’ saja. Bagaimana jika nanti mereka menjadi wakil rakyat. Tidak menutup kemungkinan mereka juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang telah dilakukan oleh wakil rakyat yang saat ini sedang mereka kritik dan jelek-jelekan.
Pada awal tahun 2009 kemarin, terjadi sebuah kasus korupsi yang melibatkan mahasiswa yang juga seorang aktivis sebuah organisasi mahasiswa. Mahasiswa tersebut diduga telah menggelapkan dana kampanye sebuah partai yang dia dukung. Sekali, ini sebuah bukti bahwa mereka hanya bisa berbicara dan mengkritik saja, namun tidak bisa mengaplikasikan apa yang mereka ucapkan. Apakah ini yang disebut pemuda adalah agent of change?
Pada tahun 1960-an, di Negara kita ini terjadi sebuah pergolakan politik yang hampir serupa dengan politik kita saat ini. Pengaruh dari pergolakan tersebut membuat rakyat miskin semakin miskin namun orang kaya semakin kaya. Hal ini kemudian membangkitkan gejolak para pemuda dan mahasiswa untuk melakukan aksi-aksi dan gerakan untuk pemberontakan terhadap pemerintah. Pergolakan itu berakhir pada tahun 1966 dengan tumbangnya pemerintahan Orde Lama di tangan mahasiswa. Setelah itu, lahirlah pemerintahan Orde Baru. Para mahasiswa yang dulu ikut dalam aksi tahun 1966 atau yang sering disebut ‘Angkatan ‘66’ kemudian diangkat menjadi anggota DPR dan susunan kabinet. Namun, tak sedikit pula dari mereka yang menolak untuk itu, dengan alasan mereka belum mampu untuk mengemban amanah dan mereka ingin lebih bebas mengontrol pemerintah. Salah satu dari mereka yang menolak itu adalah Soe Hok-gie, seorang aktifis yang selalu lantang dalam mengkritik pemerintah namun dia tidak terlalu fanatik terhadap suatu organisasi dan partai politik.
Setelah beberapa waktu berlalu, sebuah pergolakan kembali terjadi, para mahasiswa angkatan ’66 yang menjadi anggota DPR tidak bisa menjalankan tugas mereka dengan baik. Bahkan, mereka terkesan terlalu menikmati dengan jabatan yang mereka miliki saat itu. Kata ‘nasionalisme’ yang mereka ucapkan pada saat aksi di jalan seakan pupus dan hilang di telan waktu.
Tindakan Soe Hok-gie untuk tidak termasuk dalam anggota DPR dan pemerintah sangatlah benar dengan adanya bukti bahwa mereka yang masuk dalam pemerintahan telah ‘mati suri’ dan terlalu menikmati dengan kenyamanan dan kenikmatan. Mereka telah lupa dengan segala ucapan mereka sendiri saat mereka berorasi di jalan.
Nah, kejadian inilah yang kemudian bisa kita pikirkan dan menjadikannya sebagai pelajaran supaya hal itu tidak terulang kembali. Supaya kita para pemuda sekaligus mahasiswa tidak hanya mampu berbicara saja tentang nasionalisme dan pro rakyat tetapi juga mampu melaksanakannya dalam keseharian kita. Agar kita bisa mengatur permainan, melancarkan serangan-serang dengan umpan-umpan matang yang kemudian menjadi sebuah gol perubahan untuk Negara kita.


Pelangi di Musim Matahari

Sebuah pelangi terlukis secara tiba-tiba
di senja kotaku,
penuh dengan nafas lesu,
hewan-hewan melata bertubuh besi

Sudah lama sekali aku tak melihatnya
sejak langit kehilangan awan dan angin
;pelangi yang selalu menghias senja
dengan senyum tujuh rupa

Sejak saat itu langit kotaku tak pernah dikunjungi hujan
mentari seakan enggan tuk beranjak
semua memerah, namun tak semerah darah

Malam pun terang,
matahari tak lagi merasa ngantuk
dia lebih senang melihat besi yang tiap waktu
terus menyambung seperti semut
dan wanita dengan parfum menyengat
berjalan lembut di sebuah taman tak berbunga
menawarkan hidangan hangat malam
;begitu menggairahkan

Namun, senja ini
dengan udara yang cukup kuat menusuk kepala
pelangi itu tlah duduk di sana,
di langit kotaku

Dan sambil menikmatinya,
akan ku kuukir sejuta kata
pada sayap burung-burung
tuk kuberikan padanya
agar dia enggan berranjak dari kotaku

Maret 2010


Sunday, 14 March 2010

MENGENANG SOE HOK-GIE


Judul buku : Soe Hok-gie ...Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya
Editor : Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, dan Nessy Luntungan R.
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta
Cetakan : Pertama, Desember 2009
Tebal : xl + 512 halaman

Apa yang bisa kita kenang dari seseorang yang telah menghadap yang Maha Kuasa 40 tahun yang lalu kalau bukan perjuangan, pemikiran, dan karyanya. Betul, Soe Hok-gie yang telah terlebih dahulu dipanggil oleh-Nya merupakan salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang turun ke jalan pada tahun 1966 untuk menumbangkan pemerintahan Orde Lama. Memang pada saat itu pemuda atau mahasiswa seperti Hok-gie cukup banyak. Namun pemuda idealis, humanis, dan moralis sepertinya cukup ‘langka’.
Sosok pemuda seperti Hok-gie pada saat ini pun nyaris tidak ditemui di Negara kita. Seorang pemuda yang selalu resah dengan keadaan Negara dan rakyatnya yang tidak menentu. Seorang pemuda yang mempunyai peran cukup besar dalam menumbangkan pemerintahan orde lama tetapi juga menentang pemerintahan orde baru yang dirasanya seenaknya saja. Seorang penggila buku, jago diskusi tapi juga cinta terhadap lingkungan sekitarnya dan juga seorang pemuda yang romantis.
Kematian Soe Hok-gie pada tanggal 16 Desember 1969—sehari sebelum hari ulang tahunnya—di puncak Mahameru, tanah tertinggi di pulau Jawa, menyisakan luka yang cukup mendalam di hati teman-teman dan keluarganya. Betapa tidak, dikalangan teman-temannya Hok-gie dikenal sebagai seorang yang sangat pintar bergaul, tidak pernah pamrih, dan selalu mendengarkan segala keluh kesah teman-temannya tentang sesuatu, baik itu masalah lingkuan ataupun sesuatu yang sifatnya sangat pribadi sekali. Tidak hanya itu, Hok-gie juga dikenal sebagai seorang penulis yang karyanya cukup disenangi dan dipublikasikan di beberapa media terkemuka pada saat itu, salah satunya Kompas, Sinar Harapan dan Indonesia Raya. Bahkan, dari saking banyaknya orang yang mengagumi tulisannya ada salah satu pengagumnya, yaitu seorang penjual peti jenazah dengan rela menyumbangkan peti jenazah untuk evakuasi mayat Hok-gie dari Malang ke Jakarta.
Bagi Herman O Lantang dan Rudy Badil, Soe Hok-gie merupakan teman yang sangat mereka sayangi. Karena bagi mereka, selain memang Hok-gie cukup pintar dan cerdas, ada kesamaan hobi yang membuat mereka begitu dekat, yaitu mecintai alam dan mendaki gunung. Hal ini memang sering dilakukan oleh mereka terlebih ketika pemerintahan sedang dalam keadaan tidak menentu lalu mereka membuang segala kepenatan dan kebosanan terhadap pemerintah dengan mengenal alam lebih dekat. Hal itu terbukti ketika adanya beberapa karya Hok-gie yang mengisahkan tentang keindahan alam pegunungan yang telah ia daki.
Menurut Arief Budiman, kakak Hok-gie, kegemaran Hok-gie pada dunia baca-tulis memang sudah tercermin sejak ia masih berumur belasan tahun. Saat teman-temannya yang lain sedang mengejar layang-layang, Hok-gie malah nongkrong di genting rumah sambil membaca buku, atau sekedar merenung. Ketika ia dewasa, kegemaran itu mulai bertambah dan mendarah dalam dirinya. Juga menurut pengakuan Arief Budiman, ketika Hok-gie pulang dari kampus atau kegiatan lainnya di luar rumah, saat semua anggota keluarganya telah terlelap, dengan diterangi lampu neon yang sinarnya suram karena voltase listrik saat itu sering turun ketika malam hari, Hok-gie menulis bermacam tulisan baik tentang pengalamannya di alam bebas, ataupun tentang keresahan dan kritik pada pemerintah yang kemudian karya-karya itu kemudian dipublikasi di berbagai media.
Dalam perbincangan aktivisme gerakan mahasiswa Hok-gie merupakan sosok yang “langka” di tengah periode kontestasi politik ideologi masa itu, persisnya pada senjakala pemerintahan Soekarno dan awal menyingsingnya kekuasaan rezim Orde Baru. Tipikal Hok-gie itu merujuk pada rekam jejaknya yang tak menjadi bagian organisasi politik dan partai ideologis apa pun, bahkan sampai batas akhir hidupnya. Padahal, pada masa itu “mahasiswa Jakarta pada umumnya jauh lebih lebur sebagai bagian atau bahkan perpanjangan tangan dari kelompok-kelompok politik ideologis yang ada dalam struktur Nasakom”. Yang perlu dicatat di sini, aktivitas gerakan di era kontestasi politik ideologi tak mungkin dilepaskan dari aspek pergaulan dan kesesuaian pemikirannya. Untuk kasus Hok-gie, dia dekat dengan aktivis Gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis) dan sempat menaruh simpati ke PSI (Partai Sosialis Indonesia).
Bahkan, karena sikapnya yang tidak mau melebur lebih jauh sebagai anggota dari suatu organisasi politik atau partai ideologis, dia menjadi ‘musuh’ dari mantan teman-temannya. Selain itu, dia juga sering dijuluki “cina kecil” oleh ‘musuh-musuhnya’ dan orang-orang yang sempat ia kritik melalui tulisan. Namun hal itu tidak ia pedulikan, ia tetap terus menulis, berpikir dan mengkritik.
Buku yang digadang-gadang untuk menampilkan Soe Hok-gie (sekali lagi) ini sangat cocok dicerna dan dikonsumsi oleh para pelajar dan pemuda. Selain itu pula, buku ini merupakan salah satu cara untuk mengenang sosok Soe Hok-gie sekaligus menampilkan kembali sosoknya, terlebih pada saat Negara kita sedang dalam keadaan seperti saat ini. Maka, kalau boleh berceletuk sebentar, kira-kira seperti apa ungkapan Hok-gie melihat energi masyarakat dan mahasiswa yang belakangan hari kerap diwarnai aksi protes? Sebagaimana dituliskan Rudy Badil (hlm. 266), mungkin sekali beginilah pernyataan pesan Hok-gie yang tertuju kepada pemangku kekuasaan, “Jangan memancing perasaan anak-anak muda itu. Mereka anak-anak zaman sekarang yang pemarah. Mereka itu angkatan the angry young men, bukan crossboys lagi, bukan hippies juga.”
Mungkin kita tidak bisa atau bahkan tidak mungkin menjadi Soe Hok-gie, karena Soe Hok-gie takkan pernah tergantikan. Kita hanya bisa meneladi dan menghadirkan sosoknya pada diri kita. Lantas bagaimana caranya? Jakob Oetama menganjurkan dengan jernih akal, “Dilakukan tidak dengan maksud mengultusindividukan, ...melainkan menawarkan nilai-nilai keteladanan, utamanya integritas dan kebersihan hati.” (hlm. xiv) Pembaca, kita ditantang untuk itu.


Sunday, 3 January 2010

TAHUN BARU, INDONESIA BARU?

Momen tahun baru telah kita jalani dengan suka cita. Banyak diantara kita yang merayakan momen tersebut dengan berlibur dan berkunjung ke obyek-obyek wisata. Namun pantaskah kita berlibur dan bersuka cita ketika melihat negara kita Indonesia sedang dalam keadaan yang kurang baik seperti saat ini?
Kita tahu sepanjang tahun 2009 lalu, di negara kita terjadi beberapa hal yang cukup membuat pikiran kita pusing terlebih hal itu sangat erat sekali hubungannya dengan pemerintahan negara ini, seperti halnya kasus Bibit-Candra dan Prita Mulyasari yang cukup menarik perhatian publik dan banyak menuai kritikan dari banyak kalangan.
Kasus-kasus yang terjadi ini pun kemudian menjadi tolak ukur sebagian besar masyarakat betapa memprihatinkannya pemerintahan negeri kita ini. Mulai dari penegakan hukum hingga kasus ekonomi yang semakin hari semakin membauat bangsa ini makin terpuruk. Sebuah bukti bahwa mereka para pemerintah hanya mementingkan diri sendiri.
Ketika kita berbicara pemerintahan, penulis teringat dengan ayat Al Qur'an Surat An Nisa’ ayat 59, tentang taat kepada pemerintah atau pemimpin. Yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (Pemimpin) di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” Dari ayat ini, sangat jelas sekali bahwa setiap orang mu’min wajib mematuhi pemerintah atau pemimpinnya, bahkan dari saking wajibnya, kata Ulil Amri (Pemerintah atau Pemimpin) diletakkan setelah Rasul.
Namun ketika kita melihat pada keadaan negara kita sepanjang tahun 2009, muncullah sebuah pertanyaan, pantaskah kita patuh dan taat terhadap pemerintah Indonesia yang nyatanya mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri?. Pertanyaan ini kemudian mengharuskan kita untuk memahami ayat itu lebih dalam. Dalam beberapa kitab tafsir dijelaskan bahwa kata Ulil Amri dalam ayat ini adalah pemimpin yang ‘Adil dan tidak dzalim. Maksudnya, pemimpin yang hatus kita patuhi tersebut adalah pemimpin yang tidak otoriter, tidak seenaknya saja dalam mengambil keputusan yang ada kaitannya dengan masyarakat serta tidak mementingkan dirinya sendiri.
Dan mari kita lihat pemerintah kita saat ini. Sebelumnya, penulis katakan bahwa penulis tidak ada maksud untuk mengklaim mereka itu dzalim atau tidak pantas menjadi seorang pemimpin. Tapi mari kita lihat fakta yang ada, dari kasus korupsi yang tak lagi dapat kita ingat jelas berapa jumlah kasusnya dan kerugian negara sebagai dampaknya, kasus permainan hukum atau yang baru-baru ini kita istilahkan dengan ‘Mafia Hukum’ yang terjadi pada Bibit-Candra dan Prita Mulyasari hingga kasus Bank Century yang sampai saat ini tidak ditemukan ujungnya.
Dalih Politik
Ada yang mengatakan (bahkan sebagian besar dari mereka) bahwa kasus-kasus yang terjadi tersebut merupakan bagian dari politik. Benarkah? Nah, untuk menyatakan benar atau tidak dalih mereka itu kita perlu mengetahui apa itu politik, meskipun para pembaca pada dasarnya mungkin sudah mengerti ataupun sudah mengetahui apa itu politik.
Kata ‘politik’ secara etimologis berasal dari bahas Yunani Politeia, yang akar katanya adalah polis, berarti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri, yaitu negara dan teia, berarti urusan. Dalam bahasa Indonesia, politik dalam arti politics mempunyai makna kepentingan umum warga Negara suatu bangsa. Politik merupakan suatu rangkaian asas, prinsip, keadaan, jalan, cara dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu yang kita kehendaki. Politics dan policy memiliki hubungan yang erat dan timbal balik. Politics memberikan asas, jalan, arah, dan medannya, sedangkan policy memberikan pertimbangan cara pelaksanaan asas, jalan dan arah tersebut sebaik-baiknya.
Dalam bahasa Inggris, Politics adalah suatu rangkaian asas (prinsip), keadaan, cara, dan alat yang digunakan untuk mencapai cita-cita atau tertentu. Sedangkan policy, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kebijaksanaan, adalah penggunaan pertimbangan-pertimbangan yang dianggap dapat lebih menjamin terlaksananya suatu usaha, cita-cita atau tujuan yang dikehendaki. Pengembalian kebijaksanaan biasanya dilakukan oleh seorang pemimpin.
Dari sini kemudian kita dapat memahami bahwa politik atau politics mempunyai kaitan erat dengan kebijaksanaan atau policy. Lalu, kebijaksanaan tersebut adalah proses mempertimbangkan apa yang akan dilakukan untuk mencapai suatu cita-cita atau tujuan. Jadi, jika mereka mengatakan bahwa kasus-kasus yang terjadi di Negara kita ini adalah bagian dari politik, penulis katakan bahwa itu kurang benar. Sebab jika kita mengaca pada arti dari politik itu sendiri, politik adalah alat untuk mencapai cita-cita bersama dari sekumpulan orang-orang atau masyarakat.
Sedangkan masyarakat yang disebut di sini adalah bangsa ini Indonesia di mana tujuan dari bangsa Indonesia adalah menjadi Negara yang maju, sejahtera dan makmur. Bukan menjadi Negara yang kian terpuruk yang kemudian nasibnya semakin hari semakin tidak jelas lantaran adanya kasus-kasus yang dilakukan oleh orang-orang yang katanya peduli terhadap Indonesia.
Terlebih lagi, politik juga mempunyai kaitan erat dengan kebijaksanaan. Kebijaksanaan asal katanya adalah ‘bijaksana’ dalam bahasa Arab juga berarti Al ‘Adlu atau ‘Adil. Kembali kepada yang telah penulis sebutkan di atas tentang seorang pemimpin yang pantas kita patuhi adalah orang yang ‘Adil atau bijaksana tidak dzalim.
Dan jika memang mereka itu merasa dirinya seorang Politikus yang juga beragama Islam dan mengerti Islam tentunya mereka juga tahu bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan kita bagaimana dan apa itu politik. Bukankah politik Rasulullah SAW tidak mengedepankan nafsu, tidak mementingkan diri sendiri?
Nah, dari sini tentunya kita bisa menilai dan mengambil kesimpulan benar atau tidak apa yang telah mereka lakukan yang kemudian mengakibatkan bangsa kian terpuruk. Dan untuk kesekian kalinya penulis katakan, tulisan ini tidak ada maksud untuk mengklaim bahwa pemerintah kita itu jelek atau tidak, pantas atau tidak jadi pemimpin. Sebab tidak semua pemerintah kita itu mempunyai sifat buruk dan terlibat dalam kasus-kasus yang selama ini memusingkan kita, ada juga mereka yang masih bersifat layaknya seorang pemimpin yang diajarkan Islam. Tulisan ini hanya ingin mengajak segenap pembaca di momen tahun baru ini berpikir apakah benar Negara kita Indonesia juga ikut baru? Wallahu ‘Alam.