Saturday, 18 May 2013

DAVID BECKHAM, SEORANG ARTIS DAN MODEL DI TENGAH LAPANGAN HIJAU


Mungkin belum terlambat jika saya menulis tentang David Beckham yang memutuskan tidak akan lagi bermain bola sejak musim depan. Ya, keinginan saya untuk menulis tentang dia muncul saat saya membaca berita tentang keputusan pensiunnnya di musim depan. Jujur saja, berita ini membuat saya terkejut dan setengah tidak percaya jika mulai musim depan dia tidak akan lagi muncul sebagai atlet lapangan hijau. Alasannya? Silahkan baca tulisan ini. Yang saya tulis di sini mungkin pernah ada baca di tulisan lain, tapi yang jelas inilah yang saya ketahui tentang pria asal negeri Ratu Elizabeth itu.

Saya mengenal David Beckham dulu saat saya masih duduk di bangku SD. Saat itu—jika tidak salah—masih bernuansa Piala Dunia 1998 yang diselenggarakan di Prancis. Saya tahun nama Beckham pertama kali dari kaos bola yang dibelikan orang tua saya, kaos tersebut adalah kostum away Manchester United musim 1998-1999, yang tanpa sengaja kaos tersebut bernomor punggung ‘7’ yang merupakan nomor milik Beckham yang saat itu masih berkostum ‘Setan Merah’. Tapi saat itu saya sama sekali tidak tahu siapa Beckham sebenarnya, bahkan sama wajahnya pun saya belum pernah melihat meski dari layar kaca. Yang saya tahu tentang dia bahwa dia seorang pemain bola, tidak lebih. Saya tidak tahu dia orang mana, dia bermain di klub apa meskipun dengan jelas waktu itu saya memiliki kaos MU bertuliskan Beckham. Maklumlah, selain memang saat itu saya masih terlalu kecil untuk paham tentang sepak bola, dari keluarga saya tidak ada satupun yang gila bola.

Saya baru tahu kalau David Beckham adalah seorang pesepakbola asal Inggris pada Piala Dunia 2002 saat secara kebetulan saya membaca informasinya tentang Inggris yang menang 1-0 atas Argentina lewat eksekusi Beckham dari titik putih dari sebuah majalah bola di kamar salah satu sepupu lelaki saya. Itu pertama kali saya tahu wajah Beckham. Namun, meskipun begitu saat itu saya masih belum mengerti betul tentang sepak bola padahal saat itu secara kebetulan saya dan bapak saya nonton final Piala Dunia 2002.

Pada tahun 2003, saat saya memasuki bangku MTs dan mondok di Pondok Pesantren Annuqayah, saya mulai mengenal banyak tentang sepak, termasuk tentang Beckham, lewat game FIFA World Cup-nya EA Sport versi PC yang saat itu sangat booming di pondok saya. Mulai saat itu saya mulai menjadi salah satu fans sepak bola, dan setiap kali ada koran pasti yang dibaca pertama adalah halaman olahraga yang berisikan informasi tentang sepak bola dunia.

Sejak banyak membaca informasi tentang sepak bola itulah kemudian membuat saya banyak tahu tentang David Beckham, seorang pemain tengah MU kala itu yang memiliki eksekusi bola mati menakutkan di Liga Inggris. Karena kelebihan dan gayanya saat mengeksekusi bola mati itulah saya mulai mengidolakan Beckham, yang menurut saya cara dia mengeksekusi tendangan bebas atau sepak pojok cukup unik. Lalu mulailah sejak saat itu saya mengikuti banyak informasi tentang David Beckham.

Beckham di Mata Saya
Terlepas dari segala kontroversi yang ada pada dirinya, termasuk dengan mantan pelatihnya di MU Sir Alex Ferguson, di mata saya Beckham tetap seorang pemain hebat dengan eksekusi bola mati paling mematikan, dan seorang artis juga model dari lapangan hijau, terlebih lagi dia adalah pesepakbola pertama yang saya tahu namanya.

Dari semua yang saya baca tentang Beckham, ia seperti menunjukkan bahwa dirinya beda sendiri. Yang dilakukannya mirip-mirip dengan gaya selebriti papan atas—mungkin memang dia salah satu artis papan atas kelas duni yang artis Hollywood saja kalah dengannnya. Gaya kaum jet set. Makan siang di Roma, tapi makan malam di Paris—demikian bahasa sederhananya. Kalau tidak salah ingat, gaya seperti sudah nyaris dilakukannya sejak awal kariernya. Bukan rahasia apabila begitu namanya naik, Beckham langsung jadi kesayangan baru tabloid-tabloid Inggris, jadi bintang iklan berbagai brand, mengencani seorang pop star, hingga membeli mobil sport mahal. Apalagi dia adalah seorang sepak bola yang ‘berhasil’ meluluhkan seorang wanita cantik dan seksi mantan personel grup musik Spice Girls, Victoria Adams. Bahkan salah satu artis papan atas Hollywood, Tom Cruise pernah mengungkapkan bahwa dia sempat iri dengan gaya Beckham yang tidak kalah mewah dengan artis Hollywood.

Sampai hari ini, Beckham telah membuat jalan yang ditempuhnya menjadi cerita yang selalu enak dibahas. Entah bagaimana dia membuat nomor 7 jadi populer, atau membuat nomor 23 tidak kalah keren dari nomor 7. Entah bagaimana juga dia membuat bermain di Amerika Serikat, yang notabene bukan negara di mana sepakbola tidak jadi nomor satu, jadi terlihat sesuatu yang biasa. Beckham adalah hipster-nya sepakbola.
Hal tersebut mungkin sudah sepantasnya ia lakukan, karena memang dia sebagai pemain sepak bola dan merupakan anggota class of 92 dari akademi MU yang tersohor itu, ia memiliki segudang prestasi individu. Meskipun permainannya tidak sebagus pemain top saat ini seperti Messi, Cristiano Ronaldo, Oezil, Iniesta, atau gelandang muda lainnya, bagi saya permainan Beckham tetap menarik untuk dilihat. Terlebih dari dulu memang saya sangat suka dengan eksekusi bola matinya.

Hal yang paling mengejutkan terjadi pada awal tahun 2009, saat itu Beckham memutuskan bersedia dipinjamkan ke AC Milan oleh klubnya LA Galaxy. Padahal saat itu Milan tidak lagi menjadi klub menakutkan di Italia dan Eropa. Namun, dengan tegas Beckham tetap bergabung dengan Milan karena menurutnya Milan merupakan klub yang memiliki sejarah sepak bola yang panjang. Ia pun membuktikan bahwa keputusannya main di Milan tidak salah, ia memberikan konstribusi cukup signifikan bagi Milan, meskipun Milan di akhir musim 2008/2009 hanya finis di posisi ketiga. Karena itu Beckham mendapatkan banyak pujian dari banyak kalangan di Milan termasuk pelatih Milan kala itu, Carlo Ancelotti. Beckham pun mengatakan bahwa ia tidak menutup kemungkinan akan kembali ke Milan di masa depan.

Hal itu kemudian benar-benar terbukti, Januari 2010 ia kembali ke Milan dengan lagi-lagi sebagai pemain pinjaman seperti sebelumnya. Inilah yang kemudian membuat saya semakin kagum dengan sosok Milan, bukan karena ia mau bermain di Milan (saya fans Fanatik Milan), tetapi karena saat itu ia lagi-lagi tampil cemerlang dengan usianya yang tidak lagi muda untuk ukuran pemain sepak bola. Bahkan pelatih Milan kala itu, Leonardo, begitu memuji kerja keras Beckham di lapangan bersama Milan. Namun di musim itu ia harus mengakhiri musim lebih cepat karena ia mengalami Achilles tendon setelah laga melawan Chievo pada Maret 2010 dan ia kemudian kehilangan kesempatan terakhir untuk bermain di Piala dunia 2010 bersama negaranya.

Januari kemarin ia kembali mengejutkan publik sepak bola dunia dengan bergabung dengan Paris Saint Germain (PSG) tanpa dibayar sepeser pun. Ia menyumbangkan semua gajinya untuk amal sosial di Paris, Perancis.

Di awal bergabungnya dengan PSG Beckham sempat menuai cemoohan dari beberapa kalangan karena dianggap hanya untuk mempopulerkan nama PSG saja. Namun nyatanya Beckham justru termotivasi dengan isu tersebut ia kemudian tampil cukup gemilang dengan mengantarkan PSG meraih titel Ligue 1 setelah 14 tahun. Bahkan saat PSG menjalani laga versus Barcelona leg Pertama Liga Champion di Nou Camp, Carlo Ancelotti lebih memilih memainkannya ketimbang Marco Veratti. Padahal Veratti yang jago melepas operan panjang itu bisa digunakan untuk menggebuk Barcelona, yang terkenal rawan menerima umpan-umpan silang.

Nyatanya, Beckham tampil tenang, tampil kalem, dan tampil penuh perhitungan. Dalam duel yang sepenting itu, dan dalam usianya yang sudah nyaris 38, dia masih bisa bertarung menghadapi gelandang-gelandang semodel Xavi Hernandez atau Andres Iniesta. Di babak pertama, dia sukses melepas 13 passing sukses dari 18 passing atau dengan tingkat akurasi mencapai 72%. Tidak buruk. Ancelotti menilainya tidak sensasional, tapi memuaskan.

Namun, sekarang bapak dari empat anak ini memutuskan untuk tidak lagi tampil sebagai pemain sepak bola. Ia menyatakan pensiun setelah mengatarkan PSG, klub terakhirnya, menjadi juara liga Prancis. Namun meskipun ia sudah tidak lagi ada di tengah lapangan hijau, ia akan sering muncul di berbagai media mengingat sosok Beckham sering dikaitkan dengan banyak brand international baik makanan, pakaian, otomotif dan lainnya. Terlebih lagi ia adalah seorang Artis dan Model dari Lapangan Hijau yang akan tetap memukau siapa pun yang melihatnya terutama kaum Hawa.

Thanks very much for everything, Becks!!


Wednesday, 8 May 2013

CATATAN SEHABIS PUASA MENULIS YANG PANJANG

Entah kenapa beberapa hari terakhir aku tiba-tiba merindukan masa-masa saat aku berada di Annuqayah dulu. Mungkin karena dalam beberapa minggu terakhir aku menjalin hubungan yang cukup intens dengan beberapa teman di Annuqayah dan juga putra Annuqayah. Ah, entahlah, yang jelas kondisi ini membuatku ingin menulis catatan ini.

Seingatku terakhir aku nulis karena keinginan sendiri itu sekitar setahun yang lalu. Dan sejak saat itu aku tak lagi menulis untukku sendiri, meski menulis mungkin karena tuntutan tugas dari beberapa oraganisasi yang aku geluti dan juga tugas kuliah. Tapi sore ini aku benar-benar ingin nulis catatan ini. Catatan yang entah jadi apa akhirnya nanti. Yang jelas aku hanya ingin nulis karena aku sudah lama tak menuruti nafsu menulisku untuk diri sendiri meski skripsi yang sebenarnya jauh lebih penting sedang jongkok di pojok kamar kosku.

Keinginan ini muncul secara tiba-tiba saat aku iseng-iseng googling namaku sendiri lalu muncul namaku dan salah satu puisiku yang berjudul “Pejabat Matahari” diposting di sebuah blog. Puisi itu sebenarnya puisi yang aku tulis tahun 2007 silam (enam tahun lalu, lama juga ya.. hehehehe) yang kemudian puisi itu aku ikutkan di sebuah lomba tingkat nasional yang diadakan oleh Perhimpunan INTI (Indonesia Tionghoa) di tahun yang sama dan kebetulan puisi itu lolos jadi finalis dan masuk dalam antologi INTI. Sekedar informasi, juri pada lomba tersebut adalah artis indonesia Rieke Diah Pitaloka yang sekarang jadi polikus itu. Tak tau dia Rieke Diah Pitaloka? Googling dulu deh.

Saat baca puisiku di blog itu aku sejenak berpikir, kok bisa ya si pemilik blog tau puisiku ini. Apa mungkin dia ikut lomba itu juga, atau hanya kebetulan dia suka sama puisinya saat dia baca puisi itu di sebuah antologi. Ah, entahlah.

Habis baca blog itu isengku masih ada ternyata. Aku googling lagi namaku, ternyata ada sebuah tulisan yang di blog milik Edu, salah satu temanku dulu di pondok. Tulisan itu isinya tentang kehidupan Edu selama berada di Annuqayah termasuk saat dia jadi finalis lomba tingkat Jawa Timur dan Nasional bersamaku dulu. Entah kenapa saat aku baca tulisan itu rasa rindu dengan Annuqayah makin menjadi saja. Bahkan aku lebih rindu lagi saat-saat aku masih suka nulis puisi (sekarang bukan ga suka, tapi males.. hehehe..). dan saat itu pula aku merasa terharu karena secara tidak langsung aku menjadi salah satu bagian sejarah kehidupan orang hebat seperti Edu, dan dia masih mengingatku meski aku sudah sangat jarang komunikasi dengannya.

Membaca tulisan Edu tersebut membuatku ingat saat aku sama dia jadi finalis lomba cipta puisi tingkat Nasional yang diadakan oleh IPB, dan karena itu pula untuk pertama kalinya aku bisa menginjakkan kaki di Ibu Kota Indonesia, Jakarta, GRATIS pula. Sungguh tak terbayang kebahagiaanku saat itu.

Sekilas aku teringat kalo dulu sewaktu aku masih ada di Annuqayah aku cukup produktif nulis. Bahkan beberapa tulisanku pernah dimuat di beberapa media Nasional dan lokal seperti Majalah Sastra Horison, Majalah Kuntum Yogyakarta, Radar Madura, dan pernah jadi finalis lomba tingkat Nasional seperti lomba yang diadakan oleh IPB dan Teater Kedok SMAN 6 Surabaya. Sekarang aku kenapa aku tak seproduktif dulu ya.. padahal dulu aku di blog Annuqayah tulisanku bisa dibilang sering muncul. Mungkin karena akhir-akhir ini rasa malasku lebih besar dari nafsu menulisku.

Nah, akhirnya seperti yang aku bilang di awal tadi, tulisan ini benar-benar tidak jelas arah dan tujuannya. Yah, namanya juga catatan yang dibuat oleh seorang yang baru nulis (lagi). Tapi paling tidak tulisan mengingatkanku bahwa aku harus terus berproses, bahwa apa yang aku peroleh dulu belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan prestasi teman-temanku seperti Edu, Faruq, atau Guruku Ra Musthafa dan Ra Faizi. Dan sepertinya aku harus belajar lagi tentang menulis, ada yang mau mengajariku? Semoga ada..

Terakhir, terima kasih untuk yang sudah meluangkan waktu untuk membaca. Terima kasih juga buat teman-temanku seperti Faruq, Zuhir, Memed, Dayat, Akeng, Ilyas, dan lainnya yang tak bisa aku sebut di sini, yang sudah berbagi banyak hal kepadaku. Juga terima kasih buat guru-guruku, Ra Musthafa, Ra Faizi, Ra Zammiel, Edu, dan lainnya atas ilmu yang pernah diberikan kepadaku.


Sunday, 11 March 2012

EPILOG SEBUAH PERJALANAN

Perjalanan ini seperti tak berujung
Berawal dari sungai tak berair,
Kota lumpur, hingga negeri para jagal

Sore ini, kereta mimpi berwarna hitam
Membawaku kembali ke kota ini
Dengan udara pengap di setiap sudutnya
;berhias lampu-lampu suram

Ingin sekali aku berbaring sejenak
Di trotoar berlumpur depan istanamu
Melepaskan lelah lalu terlelap
Di atas selembar karton
Bekas gincu bibirmu
Bersama sebotol vodka hijau
;tak semanis secangkir senyum buatanmu

Di kota ini semuanya masih sama seperti saat aku pergi dulu
Rinai hujan serasa jarum menusuk kulit,
Sinar matahari begitu panas, menyengat, membakar kulit dan menusuk mata,
Angin pun tak lagi membelaiku mesra

Ah, aku terlalu letih tuk merasakan semua itu
Aku kembali hanya ingin melihat biru langitmu
Berhias pelangi rindu esok pagi
Yang kata Jibril Tuhan ciptakan untukku
Meski aku tahu lelaki berlidah pedang
Yang selalu berdiri di pintumu tak segan membunuhku


Surabaya, Maret 2012


Sunday, 8 January 2012

BELAJAR MULTIKULTURALISME DI PESANTREN

Indonesia merupakan salah satu negera yang berpenduduk terbanyak di Asia Tenggara dan Asia. Dengan jumlah penduduk yang melebihi 200 juta jiwa, tentu saja tidak hanya satu budaya (Culture) yang ada di dalamnya, melainkan banyak sekali. Banyak suku, dan ras yang tinggal di wiliyah negera Indonesia, dari Sabang sampai Merauke dengan berbagai macam budaya yang berbeda-beda.
Karena itulah Presiden pertama Indonesia, Soekarno kemudian menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan Negara kita. Bhinneka Tunggal Ika mempunyai makna berbeda-beda tapi tetap satu adanya. Artinya, bahwa rakyat Indonesia terdiri dari berbagai ras, suku, budaya, dan agama, tetapi tetap berada salam satu nama yaitu Indonesia. Semboyan ini tidak lain merupakan salah satu ajakan Soekarno kepada rakyat Indonesia untuk menjunjung tinggi multikulturalisme di Indonesia.
Kata multikulturalisme sendiri oleh Webster’s New World College Dictionary diartikan sebagai sistem nilai yang menerima kelompok lain secara sama sebagai satu kesatuan, tak peduli perbedaan budaya, gender, agama ataupun yang lain. Konsep ini tidak hanya mengakui perbedaan, tapi lebih memberikan penegasan bahwa segala perbedaan itu mempunyai kedudukan dan kesempatan yang sama (giving equel attention) di ruang publik.
Istilah multikulturalisme di Indonesia muncul masih tidak terlalu lama sehingga kalangan pesantren yang tak pernah diajarkan kitab berbahasa Inggris masih kurang memahami apa maksud dan tujuan dari multikultralisme. Karena istilah ini merupakan perkembangan dari pemikiran post modernisme di Barat, yang disebut kalangan sosiolog Barat sebagai teori multikultural (Mary Rogers, Multikultural Experiences, Multicultural Theories, 1996). Teori ini bercirikan inklusif, memberdayakan pihak lemah (tidak bebas nilai), serta menggugah ranah sosial dan intelektual untuk lebih terbuka dan beragam.
Kaitannya dengan pesantren, multikulturalisme adalah spirit alamiah yang telah tumbuh berkembang sebelum istilah ini dikenal. Ditilik dari segi namanya saja, pesantren terkesan unik. Nama lembaga yang menjadi lokus pendidikan Islam di Indonesia ini bersumber dari bahasa Sansekerta, “sastri” artinya orang yang mendalami kitab suci. (Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, 1994).
Pesantren, dalam konteks budaya Indonesia kuno, adalah tempat pemeluk agama Hindu dan Budha mempelajari dan mendalami kitab sucinya. Istilah ini kemudian diadopsi oleh Islam. Berarti, kalangan pesantren tak gamang bergaul dengan agama lain. Dalam sejarahnya memang begitu adanya.

Multikulturalisme Ala Pesantren

Banyak orang menganggap bahwa pesantren dan santri tidak bisa menerima hal-hal baru atau pemikiran modern yang ditemukan oleh non-santri. Bahkan, masih banyak orang yang mengira santri yang notabene orang pesantren tulen tidak bisa mengembangkan pemikiran atau bahkan membuat pemikiran modern layaknya orang-orang di luar pesantren. Hal itu saya katakan salah, karena sampai saat ini sudah banyak orang-orang pesantren atau santri yang mempunyai pemikiran-pemikiran modern, sebut saja Gus Dur atau Alm. Nur Cholis Madjid yang tentu saja pemikiran modern mereka tak bisa diragukan lagi.
Kaitannya dengan multikulturalisme, bukan berarti santri tidak bisa menganut dan menjalankan multikulturalisme dalam kehidupan mereka. Memang ada beberapa orang yang menggunakan seperti Imam Samdura, Amrozi, atau Abu Bakar Ba’asyir yang merupakan jebolan pesantren saat ini menjadi menjadi teroris kelas wahid di Indonesia bahkan di dunia, tetapi tidak semuanya seperti itu. International Center for Islamic and Pluralism (ICIP) yang bermarkas di Jakarta, pada tahun 2007, mengadakan penelitian untuk menguji apakah betul kalangan pesanten mensahkan tindak kekerasan dan tidak ramah terhadap perbedaan. Sampel yang diambil adalah 20 pesantren di Jawa Barat dari 2200 pesantren yang tergabung dalam Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI). Hasilnya, hampir 90% dari mereka menjawab dengan sikap toleran, santun, dan damai. Mereka akur dan akrab dengan perbedaan dan tidak setuju dengan aksi kekerasan atas nama apapun.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam buku Menggerakkan Tradisi, Esai-esai Pesantren (2001) menyebut realitas pesantren seperti tergambar di atas dengan istilah “subkultur”. Maksudnya, keberadaan pesantren selalu berada dalam lingkup budaya tertentu. Karena itu, fenomena multikulturalisme di dunia pesantren adalah hal yang wajar. Kitab-kitab yang diajarkan pun tidak satu mahdzab. Kitab al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah karya Abdurrahman al-Juzairi merupakan salah satu kitab wajib para santri saat mengadakan Bahtsul Masail karena di dalamnya banyak terdapat hukum Fiqh yang bisa dijadikan landasan hukum untuk umat Islam yang memiliki kultur yang berbeda.
Bahkan, di kalangan pesantren dikenal kaidah fiqh, al-ijtihâd lâ yunqaddu bi al-ijtihâd, ijtihad itu tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad. Misal, dalam satu masalah, ada perbedaan pendapat. Maka, bukan berarti pendapat yang satu lebih benar dari yang lain karena lebih akhir ijtihadnya atau alasan lain. Santri diberikan keleluasaan untuk memilah dan memilih manakah yang sesuai untuk dijalankan.
Ya, begitulah dinamika multikulturalisme di kalangan pesantren. Hal ini senada dengan falsafah lima tiang penyanggah pesantren, yaitu tawasuth (berada di tengah atau moderasi), tawazun (seimbang menjaga keseimbangan), tasamuh (toleransi), `adalah (keadilan), dan terakhir tasyawur (musyawarah).


Wednesday, 7 December 2011

MENULIS ADALAH PROSES KEABADIAN

Malam ini gerimis tebal menyelimuti sebagian besar kota Surabaya. Membuat semua orang enggan untuk beranjak dari suasana hangat rumah atau kamar mereka. Begitu pula yang saya rasakan malam ini di kamar kos saya, sedangkan hasrat saya pada makanan atau makanan yang serba hangat sudah tak tertahan lagi padahal beberapa menit sebelumnya saya sudah menyantap sebungkus nasi.
Tak lama setelah itu gerimis pun berubah menjadi tipis. Tanpa basa-basi lagi saya mengajak keluar Izzy, teman lama saya sewaktu di pondok yang kebetulan selama dua hari terakhir berada di tempat saya karena ada tes seleksi wartawan di sebuah koran harian yang ada di Surabaya. Karena alasan perut kami sudah kenyang tetapi kami masih berhasrat pada minuman hangat, maka kami memutuskan untuk duduk saja di warung kopi tak jauh dari kos saya.
Sambil lalu memesan secangkir kopi dan Energen sereal favorit saya, saya dan Izzi memulai perbincangan dan cerita-cerita tentang hal-hal yang terjadi di kehidupan kami. Dulu sewaktu kami masih sama-sama di pondok, berbagi cerita atau cangkrukan bersamanya cukup sering saya lakukan karena memang kami cukup dekat dan sama punya hobi yang sama yaitu NULIS.
Nah, karena itu pula saat itu terbersit dalam benak saya untuk ‘curhat’ tentang ‘nasib’ tulisan saya yang beberapa bulan terakhir sulit untuk lahir dan bergentayangan di dunia ini. Pada Izzy saya ceritakan kalau saya saat ini terlalu sering membuang ide yang ada di otak saya dengan alasan tidak ada waktu atau tidak mood untuk nulis. Dia pun bilang bahwa alasan seperti itu seharusnya tidak menjadi kendala untuk tidak menulis karena, menurutnya, hal seperti itu bisa disiasati dengan mudah asalkan kita punya semangat dan kemauan besar untuk tetap nulis dan berkarya.
Bahkan menurutnya, jika seandainya dengan menulis surat cinta atau puisi berisi rayuan kepada pacar orang lain bisa membuat kita lebih bersemangat untuk nulis tiap hari dan eksis dalam dunia tulis-menulis, hal itu sah-sah saja. Karena menurutnya bukan isi dari tulisan itu yang penting melainkan dengan alasan mau diberikan pada perempuan itu kita bisa tetap semangat untuk nulis. “Cari saja hal yang paling gila dan tidak masuk akal yang bisa membuatmu tetap semangat dan konsisten dalam menulis. Jika itu memang satu-satunya cara buat kamu tetap bertahan dengan tulisan kamu,” ujarnya.
Memang terkadang banyak penulis yang mendapatkan banyak inspirasi dari seorang wanita, hal itu juga diakui oleh Izzy. Saat itu terlintas di benak saya seorang wanita yang beberapa waktu terakhir mengisi hati saya. Tetapi karena beberapa hal saat ini saya jauh darinya. “Mungkin karena aku jauh dari dia aku tak bisa dapet banyak inspirasi,” tersirat dalam benak saya.
Di akhir perbincangan karena kopi dan energen pesanan kami telah habis tak bersisa, Izzy mengatakan bahwa tanpa tulisannya, tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Plato, Karl Max, Al Ghazali, As Syafi’ie dan yang lainnya tak mungkin bisa kita kenal saat ini. Karena menurutnya menulis merupakan awal dari proses keabadian kita.
Dan inti dari semuanya adalah komitmen kita untuk menulis.


Wednesday, 2 November 2011

Perempuan-Perempuan Itu

“perempuan datang atas nama cinta
bunda pergi karna cinta
digenangi air racun jingga dalam wajahmu
seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan”

Sebait puisi ini cukup mewakili pengalaman dan pemahamanku tentang beberapa perempuan—yang tak memiliki ikatan denganku—yang pernah hadir dan memiliki keterkaitan erat denganku secara emosional.
Bagiku, perempuan merupakan sosok yang sangat penting. Jika diibaratkan dalam permainan sepak bola, perempuan seperti seorang play maker (pengatur permainan). Permainan bola yang bagus, mengalir dari kaki ke kaki dengan umpan-umpan cantik bergantung bagaimana si play maker itu mengatur ritmenya, tanpa seorang play maker maka sepak bola tak tampak kehindahannya. Begitu juga dengan perempuan, perempuan adalah salah satu bagian penting kehidupan kita, penentu keberhasilan, keindahan, keharmonisan, dan kekuatan kehidupan seorang laki-laki bergantung pada perempuannya. Karena bagi laki-laki termasuk diriku sendiri, perempuan adalah energi yang tak akan pernah hilang dan habis.
Tidak hanya itu, tanpa seorang perempuan tentunya kita semua tak akan bisa hidup di dunia ini karena kita lahir dari seorang perempuan atau lebih tepatnya seorang ibu. Di dalam Islam pun perempuan mempunyai tempat tersendiri, hal ini terbukti dengan beberapa hadits yang menerangkan tentang kemuliaan perempuan termasuk hadits tentang derajat seorang ibu tiga tingkat lebih tinggi dari seorang ayah. Bahkan ada hadits yang mengatakan “Surga ada pada telapak kaki seorang ibu”. Hal itu salah satu bukti kongkret bahwa seorang perempuan, termasuk juga ibu mempunyai peranan penting dalam kehidupan ini.
Nah, karena itu aku menulis tulisan ini. Yang aku ungkapkan sebenarnya bukan tentang ibuku melainkan beberapa orang perempuan yang pernah menghiasi hati dan hari-hariku (lebay dikit boleh lah. hehehe).
Seperti yang aku bilang di awal tulisan ini, perempuan bagiku energi. Hal ini yang aku rasakan saat aku dekat dengannya. Tapi ada satu hal yang mengganjal dalam benakku, aku sering menyebutnya ‘penyakit’. Penyakit itu datang saat aku semakin dengan seorang perempuan, sepertinya tak ada perempuan atau cewek yang benar-benar mau benar-benar memiliki hubungan yang lebih dekat denganku. Mereka seakan pergi lalu menghilang dariku.
Hal inilah yang sering membebani perasaanku. Apa mungkin aku tak pernah bisa untuk punya kedekatan yang benar-benar dekat dengan seorang wanita. Atau mungkin aku memang tak pernah pantas untuk mereka. Entahlah.
Di tulisan ini aku hanya ingin bercerita tentang seorang wanita, seorang perempuan, seorang cewek yang selama hampir dua tahun ini menempati sebuah ruang yang cukup besar di hatiku yang sepanjang tulisan ini aku akan menyebutnya dengan ‘dua’. Sebenarnya antara aku dengan Dua dari dulu tak pernah ada hubungan kedekatan yang seperti aku bilang di atas tadi, yang jelas selama beberapa bulan kita pernah dekat dan saling bercerita tentang banyak hal di kehidupan kita. Dia tau kalau ada sesuatu yang lebih dariku saat bersamanya, tapi dia mengatakan kalau dia tak bisa membalasnya. Cuma aku tetap menyimpan harapan meski sedikit bisa menjadikannya bagian penting dari hidupku. Sahabat-sahabatku sering mengatakan tidak seharusnya aku menaruh harapan padanya karena dia tak pernah menganggapku lebih dari sekedar teman satu organisasi saja.
Selama hampir dua tahun ini, setelah aku dekat dengannya aku pernah dekat dengan perempuan lain selain dirinya. Tapi tetap saja Dua tak bisa digeser dari ruang khusus di hatiku.
Seorang teman kecilku dan sahabatku, namanya Aye’ sering mengatakan bahwa aku sebenarnya aku bisa melupakan Dua jika aku mau. Tetapi selama ini menurutnya keinginanku untuk melupakan Dua hanya di mulut saja, hatiku tak pernah mau tuk mengahapus Dua.
Hal itu aku akui, ada sesuatu yang membuatku enggan tuk melupakannya. Bukan karena fisiknya yang memang banyak orang mengatakan bahwa Dua itu cantik, pinter atau yang lainnya. Tapi aku merasakan ada sebuah ketenangan saat aku berada di samping dia, saat aku memikirkannya, saat aku mengingat dan melihat wajah. Juga karena dia orang yang asyik tuk aku ajak cerita seputar komik Detektif Conan atau novel sastra yang bagus. Meski pun pada dasarnya Aye’ juga asyik tuk diajak cerita tentang komik Detektif Conan atau novel, tetapi sepertinya Dua mempunyai sesuatu yang lebih yang tak pernah aku temukan di orang lain.
Namun aku harus sadar bahwa keinginanku untuk menjadikan Dua sebagai energi dalam hidupku sulit untuk tercapai karena memang saat ini faktanya dia sudah jauh dariku. Aku tak mau memungkiri bahwa semuanya bergantung pada kehendak dan takdir yang Allah berikan padaku. Bisa saja Dua yang saat jauh dariku bisa tiba-tiba dekat dan lebih dekat denganku. Atau bahkan seorang yang aku anggap sahabat bisa menjadi pengganti Dua untuk selamanya, seperti kisah antara Riani dan Zafran dalam novel 5 cm. atau bahkan seseorang yang saat ini aku tak mengenalnya. Aku harus menerima semuanya kerena kita tak pernah tau apa yang Allah rencanakan untuk kita di masa depan.
Dan bagiku, seperti yang aku tulis di awal tulisan, perempuan mempunyai tempat tersendiri bagiku baik itu sebagai seorang yang sangat spesial, ibu, kakak, atau sahabat tetap aku berikan tempat spesial.
Nah, karena tulisan ini aku awali dengan bait pertama dari puisi dari film Ada Apa Dengan Cinta, maka aku akan menutupnya dengan bait terakhir dari puisi yang sama. ^_^
ada apa dengan cinta
tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya.
bukan untuknya, bukan untuk siapa
tapi untukku
karena aku ingin kamu,itu saja.”


Friday, 28 October 2011

OBROLAN PENDEK SEPUTAR KULTUR HEGIMONIK

Kemarin sore ada pemandangan sangat berbeda terjadi di kampus IAIN Sunan Ampel tempat saya belajar. Pemandangan berbeda tersebut adalah apel akbar dari salah satu organisasi kampus yang memang sangat mendominasi di IAIN Sunan Ampel. Ampel akbar tersebut dilakasanakan untuk menandai pembarakatan dan dimulainya acara orientasi anggota baru mereka yang kebetulan pada tahun ini dilaksanakan secara serempak oleh setiap Fakultas di IAIN Sunan Ampel.
Menyaksikan acara apel tersebut membuat saya teringat dengan perbincangan saya dengan beberapa sahabat saya suatu malam beberapa bulan lalu di sebuah tongkrongan warung kopi. Saat itu kami membicarakan budaya senior-junior di kampus kami yang bisa dikatakan sudah masuk ke dalam ranah pembodohan atau Kultur Hegimonik.
Saat itu kami sepakat bahwa budaya senior-junior sudah terlampau parah dan melampaui batas ruang individu. Karena kami melihat sampai saat ini senior yang sudah ‘menguasai’ organisasi bisa dengan bebas mengatur dan menyuruh juniornya dalam semua hal termasuk masalah kehidupan pribadi si junior tersebut.
Di tengah-tengah obrolan tersebut, Roni, salah satu sahabat saya yang saat itu ikutan nimbrung dalam obrolan kami, menunjukkan tulisan salah satu dosennya, Chabib Mustofa yang membahas tema seputar Kultur Hegimonik. Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa ada dua hal yang menurut Pak Habib—begitu Roni sering memanggil Chabib Mustofa—salah karena seharusnya tidak terjadi pada hubungan antara senior-junior. Pertama, senior dan junior dalam konteks organisasi pengkaderan memiliki wilayah perjuangan berbeda, walaupun tidak ada demarkasi tegas antara keduanya. Ungkapan “tiap zaman memiliki orang, dan tiap orang memiliki zamannya”, agaknya tepat untuk memahami “pembagian tugas” antara hubungan senior-junior.
Kurang tepat, jika senior masuk pada otoritas junior, terutama dalam hal “menentukan” pilihan politik kampus yang ‘hanya’ menjadi bagian dari hasil interpretasi perjuangan sebuah ideologi atau hubungan asmara antara lawan jenisnya. Karena hal tersebut sudah memasuki ruang pribadi yang tak seharusnya orang lain ikut campur untuk memutuskannya.
Jika junior meminta saran pada senior, maka senior wajib memberikan saran pada sang junior tanpa pretensi dan kepentingan atau ‘pemaksaaan’ bahwa junior harus seperti senior. Senior yang masih ‘cawe-cawe’ pada urusan junior semacam ini, maka dia salah tempat dan perlu untuk dibuang ke laut saja.
Kedua, perlunya rumusan relasi senior-junior. Selama ini, kita belum punya rumusan jelas dan pasti tentang apa yang menjadi kewajiban senior dan junior dalam wilayah organisasi. Senior ‘membantu’ secara moril atau materiil pada juniornya, saya pikir adalah sebuah kewajiban yang tidak perlu dibahas lagi. Alasannya, senior adalah kelompok yang sudah pada level kehidupan relatif lebih mapan dari junior. Maka wajar jika mereka (senior) membantu juniornya. Sekali lagi bantuan senior bukanlah prestasi, namun kewajaran dalam hubungan relasional yang muncul tidak secara serta-merta.
Seharusnya menurut saya, senior lebih tepat menjadikan dirinya sebagai cermin dari kehidupan masa lalu yang dibaca dari kehidupan masa kini. Dari cermin inilah junior dapat belajar sebuah proses panjang tiada akhir untuk hidup dan menghidupi orang. Maka, pertanyaan besarnya pada tiap senior adalah “Apakah anda sudah mampu menjadi cermin yang baik bagi juniornya?”. Jangan-jangan kita (senior) selama ini melakukan ‘hegemoni’ pada mereka (junior).
Tidak hanya itu, saat ini banyak mahasiswa semester atas atau senior yang merasa lebih pintar dari juniornya dalam bidang keilmuan tertentu. Sehingga terkadang jika dalam suatu forum diskusi sang senior salah menggunakan sebuah atau kalah dalam penguatan pendapat dari juniornya, ia tidak mau untuk disalahkan dan terus merasa dirinya paling benar dengan alasan agar kharismanya tak berkurang di mata juniornya. Padahal justru dengan tidak mau disalahkan seperti itu dia secara tidak langsung menunjukkan betapa bodohnya dirinya. Astagfirullah.
Dalam perjalanan pulang ke kos dari tongkrongan dan obrolan dengan sahabat-sahabat saya itu, saya teringat kata-kata tokoh idola saya, Soe Hok Gie. Dia berkata, “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.” Saya merasa teman-teman kampus saya atau mungkin saya sendiri termasuk dari kategori mahasiswa yang disebutkan Gie tersebut.
Tapi, saya tetap opitimis dan berharap adik-adik saya di kampus IAIN Sunan Ampel termasuk yang sore kemarin berangkat ke salah satu daerah wisata di Jawa Timur dalam rangka orientasi anggota baru salah satu organisasi ekstra kampus tidak menjadi mahasiswa yang hanya bisa menindas dan memerintah kaum lema saja, tidak hanya bisa membodohi adik-adik atau juniornya. Semoga mereka bisa lebih baik dari senior mereka yang sudah sepantasnya dibuang ke laut saja.
Bagi senior-senior saya yang membaca tulisan ini, saya minta maaf. Memang ini yang rasakan saat ada di kampus kita. Meski pun belum berarti sampean yang membaca tulisan ini termasuk dari senior-senior yang membodohi dan menghegimoni juniornya.
Wallahu A’lam