Thursday, 30 December 2010

Tim ‘Garuda’ Vs Politisi

Indonesia menjadi unggulan untuk meraih kesuksesan di AFF Cup 2010. Namun, setelah laga final leg pertama di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur Malaysia, status itu memudar. meskipun pada leg kedua Indonesia mampu unggul 2-1 atas Malaysia, tetapi tetap saja tim ‘Garuda’ gagal membawa trofi AFF Cup pulang karena kalah agregat gol 2-4.

Banyak yang mengatakan bahwa penyebab terjadinya kekalahan tersebut adalah persoalan nonteknis yang dianggap kurang penting yang dilakukan PSSI dan beberapa pihak lainnya kepada Tim Garuda. Salah satunya, yang paling sering menjadi topik hangat di media-media adalah politisasi terhadap Timnas dan PSSI yang dilakukan oleh beberapa politisi Negara kita. Politisasi terhadap tim ‘Garuda’ mulai nampak setelah timnas menundukkan Filipina di semifinal dengan agregat 2-0. Sejak saat itu, banyak politisi yang mencoba mencari popularitas dengan cara dan kadar yang berbeda-beda. Mulai dari mengajak sarapan bersama, memberikan bantuan, hingga mengundang istigotsah bersama.

Politisasi timnas Indonesia tak hanya terjadi di dalam negeri saja. Namun ketika tim ‘Garuda’ melakoni laga tandang leg pertama di Bukit Jalil pun politisasi itu masih terus berlanjut. Sejumlah spanduk besar bergambar beberapa beberapa tokoh politik terpasang di salah satu sudut stadion.

Di antara beberapa spanduk yang dipasang, tampak empat spanduk bergambar tokoh politik populer. Antranya, Presiden SBY, Ketum PSSI sekaligus kader Golkar Nurdin Halid dan Ketum Golkar Aburizal Bakrie serta Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Rajasa.

Spanduk-spanduk tersebut di buat dengan besar yang sama. Dengan latar warna yang berbeda dan diberi lambang Garuda Pancasila. Bahkan spanduk Hatta sampai jelas memasang lambang partainya menjadi background (Harian Bangsa, Jawa Pos Group, Selasa, 28 Desember 2010).

Banyak tokoh yang menyayangkan ulah para politisi tersebut. Salah satunya adalah Burhanuddin Muhtadi, pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI). Dia berpendapat bahwa kesibukan dengan persoalan nonteknis yang dialami oleh para punggawa tim ‘Garuda’ bersama para politisi hingga beberapa jam sebelum keberangkatan ke Kuala Lumpur, mengakibatkan berkurangnya konsentrasi para pemain. Akibatnya, saatnya berlaga di Bukit Jalil tim ‘Garuda’ tidak bermain bagus, sering kehilangan bola dan kemudian menelan kekalahan 0-3 dari Malaysia (Detik News, Minggu 26 Desember 2010, 21:56 WIB).

Tidak hanya Burhanuddin saja yang merasakan seperti itu. Mantan Presiden RI, Megawati Soekarno Putri pun sangat kecewa terhadap sikap para politisi yang ‘mencuri kesempatan dalam kesempitan’ politik di timnas. Megawati menilai bahwa tindakan para politisi tersebut secara tidak langsung ingin mengklaim prestasi Timnas yang belakangan ini mulai menanjak.

Dia juga mengatakan bahwa olahraga memang salah satu lahan untuk berpolitik. Namun politik dalam berolahraga harus dimaknai sebagai sarana untuk membangkitkan nasionalisme dalam berbangsa dan bernegara (Detik News, Minggu 28 Desember 2010, 18:27 WIB).

Memang, apa yang telah dilakukan para politisi itu merupakan salah satu bentuk dukungan kepada Timnas. Tapi bukankah dukungan yang seperti itu merupakan dukungan yang overdosis dan  berakibat hilangnya konsentrasi para pemain dan staf Timnas dalam menghadapi final. Seperti yang dikatakan oleh pelatih Timnas, Alfred Riedl. Dia mengatakan kepada wartawan saat jumpa pers setelah laga leg pertama final di Bukit Jalil bahwa dia merasa terganggu terhadap beberapa sikap dan agenda para politisi terhadap tim ‘Garuda’.

Kini, hasil ‘ulah’ para politisi berbuah. Indonesia untuk kesekian kalinya menjadi Runner Up di AFF Cup. Sekali lagi, ini merupakan akibat dari sikap berlebihan yang dilakukan oleh beberapa pihak terutama para politisi yang cukup mengganggu kosentrasi para pemain untuk fokus meraih gelar di Asia Tenggara.

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya para politisi Negara ini masih kurang sadar dan menyadari tentang porsi politik yang mereka jalankan. Dimana mereka bisa menjalannkannya dan untuk apa. Memang di olahraga juga harus ada politik. Tapi apakah yang mereka lakukan itu tidak berlebihan? Yang jelas sesuatu yang berlebihan akan berakibat buruk.

Lagi pula, jika memang kita ingin meniru kesuksesan Brazil, Italia, Inggris, Spanyol, dan Negara Eropa lainnya di bidang Sepak Bola setidaknya kita tidak mencampurkan urusan partai politik ke dalam Faderasi dan tim sepak bola. Karena faderasi sepak bola Negara yang sukses seperti CBF (Brazil), FIGC (Italia), RFEF (Spanyol), dan FA (Inggris) tidak pernah mencampuradukkan antara politik dan olahraga. Tentu saja kita tidak pernah mendengar salah satu pemicu utama Faderasi-faderasi tersebut gagal merengkuh juara karena campur tangan para politisi.

Mereka para politisi dan olahragawan Eropa tahu porsi dan tugas masing-masing. Politik dan olahraga ada tempat dan waktu masing-masing. Hal inilah yang perlu dicontoh oleh kita dan  para politisi. Mengingat bahwa potensi tim ‘Garuda’ untuk meraih sukses dalam dunia sepak bola dunia sangat besar.


Friday, 24 December 2010

Menjadi Pemenang Kehidupan, Siapa Takut?


Judul Buku                : Menjadi Pemenang Kehidupan

Penulis                       : Dhony Firmansyah dan Istikumayati

Penerbit                     : Leutika, Yogyakarta

Cetakan                     : Pertama, September 2010

Tebal                          : xviii + 204 halaman

Peresensi                    : Akhmad Matin

 

Pernahkah terbersit di pikiran kita untuk menjadi seorang pecundang? Saya yakin tidak. Setiap diri manusia tidak akan pernah mau jadi pecundang. Semuanya pasti ingin menjadi seorang pemenang. Baik menang dalam banyak hal atau pun dalam hal-hal tertentu yang dianggap penting.

Namun meskipun begitu, banyak di antara kita hanya sebatas berkeinginan atau bermimpi saja. Akan tetapi tak pernah berusaha untuk mengejarnya. Banyak di antara kita yang hanya mengatakan bahwa aku ingin menjadi insinyur, ingin menjadi seorang politikus, ingin menjadi seorang wartawan atau lain sebagainya. Tetapi, tak sedikitpun berusaha untuk mengejarnya, merealisasikan keinginan tersebut. Karena tidak ingin menghadapi kesulitan dan rintangan dalam proses untuk mendapatkannya. Hal itu sama saja dengan kita lapar, ingin makan tapi tidak mau masak atau membeli makanan.

Nah, dari sekian banyak keinginan tersebut, yang paling inti dari keinginan adalah menjadi pemenang kehidupan. Baik kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat yang kekal. Karena hal tersebut sudah mencakup secara keseluruhan keinginan kita. Tetapi, seperti halnya keinginan yang lain, keinginan yang satu ini harus kita kejar dengan sekuat tenaga, tanpa mempedulikan rintangan dan rasa lelah yang mengganggu.

Yang dimaksud dengan pemenang kehidupan di sini adalah bagaimana kita mencoba untuk tabah dan kuat dalam menghadapi segala rintangan yang kita hadapi. Konsep pemenang kehidupan ini untuk mempermudah kita memahami tentang kehidupan, apa saja rintangannya, di mana posisi kita saat ini, dan bagaimana melewatinya dan memenanginya. Juga, konsep pemenang kehidupan ini mengajarkan kepada kita bahwa kekurangan yang melekat pada diri kita bukanlah penghalang untuk meraih sukses, melainkan menggunakannya sebagai jalan menuju sukses.

Buku yang dikarang oleh sepasang suami-istri ini mengajak kita untuk lebih dalam lagi memahami tentang hidup, tentang semua yang kita hadapi dunia hingga kelak bisa menjadi pemenangnya. Pemenang dari semuanya. Baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.

Ada tiga poin pokok yang menjadi bahasan utama dari buku ini. Pertama, untuk menjadi pemenang kehidupan kita harus terlebih dahulu mengenal diri kita sendiri. Dengan mengenal siapa kita maka kita akan lebih objektif dalam menjalani kehidupan. Apabila kita mengalami kegagalan, kita akan cepat bangkit dan tidak mudah putus asa. Dengan konsep diri yang jelas, keberhasilan akan kita sambut dengan rasa syukur dan berbagi. Kita akan menghapus rasa sombong, ujub dan takabur dalam diri kita.

Kedua, arti dan peran keluarga dalam kemajuan diri kita. Kita dan keluarga adalah sebuah kesatuan yang tak terpisahkan. Keluarga di sini diartikan secara luas. Pertama, keluarga dalam arti ayah, ibu, dan anak. Kita ada karena kedua orang tua kita rela dnegan sekuat tenaga membersarkan dan mendidik kita. Yang kedua, keluarga dalam arti tatanan masyarakat. Kita bisa hidup hingga sekarang karena kita dan orang-orang di sekitar kita saling membutuhkan. Artinya, keluarga adalah orang-orang di sekeliling kita yang saling take and give.

Poin ketiga adalah langkah-langkah kongkret dan kunci untuk menjadi pemenang kehidupan. Dengan mulai menuliskan atau merencanakan apa impian kita yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu. Juga mengatur waktu kita sedemikian rupa agar kita bisa membaginya untuk bekerja, mencari ilmu, berkumpul dengan keluarga, dan beristirahat sehingga kita bisa melangkah menuju kemenangan dengan maksimal. Serta tidak lupa untuk selalu bersyukur dan bersabar dalam menghadapi semua yang ada di depan kita.

Namun, kunci yang paling utama untuk menjadi seorang pemenang kehidupan ada pada diri kita sendiri. Kita harus membuang bermacam pikiran negatif yang bisa saja menghampiri optimisme yang coba kita bangun. Pemikiran tentang kesulitan, kesibukan yang makin banyak, target yang merepotkan dan lain sebagainya, bisa muncul simultan. Untuk itu, buku ini mengajak kita untuk mengubah pemikiran tersebut (hal. 194).

Selain itu, didalam buku ini dijelaskan untuk bisa menjadi seorang pemenang, kita harus mampu menghadapi lingkungan yang mungki saja tidak mensupport kita untuk kemajuan diri kita. Misalnya komunitas, jika saat ini kita berada di komunitas yang tidak mendukung tujuan kita, maka setidaknya kita mencari komunitas lain yang sekiranya bisa mendukung kemajuan kita namun tidak serta merta meninggalkan komunitas yang lama.

Dengan dilengkapi kisah-kisah inspiratif di setiap bab dan sub babnya, buku ini akan membuka pemikiran kita untuk lebih luas melihat dan memahami tentang arti dan tujuan hidup yang sesungguhnya. Sehingga kita bisa dengan lapang dada bisa menghadapi segala cobaan dan rintangan yang menghadang kita dalam perjalanan hidup kita yang cukup panjang ini.

Hemat saya, buku ini merupakan buku yang sangat cocok sekali bagi anda yang saat ini tengah mengalami degradasi semangat karena terlalu banyak hal yang sedang anda hadapi, yang membuat anda sedikit agak menyerah. Dengan membaca buku ini, saya yakin semangat anda akan kembali on fire untuk menghadapi semuanya. Sehingga kita tidak takut lagi untuk menjadi pemenang kehidupan. Selamat Membaca!


Friday, 10 December 2010

Mencari Hidup Sukses dari Surat Al Insyirah


Judul Buku         : Sukses & Bahagia dengan Aurat Al Insyirah

Penulis                : Taufiqurrahman Al Azizy

Penerbit              : Sakanta, Yogyakarta

Cetakan              : Pertama, Nopember 2010

Tebal                  : 208 halaman

Peresensi            : Akhmad Matin

 

Dulu saat saya masih belajar di Pondok Pesantren di Madura, salah satu guru saya di sana pernah mengatakan bahwa di setiap isi Al Quran, baik surat, ayat dan hurufnya tidak hanya mempunyai makna dan bahasa yang indah tapi juga mempunyai banyak kandungan yang berupa kekuatan, khasiat dan tips-tips untuk hal-hal tertentu. Tips-tips tersebut jika kita mengamalkan atau mengaplikasikannya di kehidupan kita secara rutin. Baik diamalkan secara bacaan di setiap selesai shalat atau waktu tertentu ataupun diaplikasikan secara prilaku kita akan mendapatkan kebahagian.

Di sisi lain, jika ayat Al Quran dibaca dengan jumlah dan waktu tertentu akan mempunyai khasiat dan keutamaan tertentu. Seperti halnya Ayat Kursi yang jika dibaca tiga kali sebelum tidur, maka kita akan terbebas dari gangguan setan saat kita tertidur. Atau surat Al Waqiah dan Al Mulk jika kita baca dengan rutin menjelang maghrib maka kita akan dipermudah dalam mendapatkan rejeki dan keinginan kita.

Seperti itu juga Surat Al Insyirah. Di dalam surat ke-94 tersebut terdapat banyak kandungan dan khasiat termasuk tentang konsep kehidupan yang bisa membuat kita sukses dan bahagia menjalani hidup kita di dunia ini. Dan juga jika dibaca dalam jumlah tertentu surat Al Insyirah bisa menyembuhkan beberapa macam penyakit.

Salah satu contohnya jika Surat Al Insyirah dibaca 33 kali pada air, lalu air tersebut diminumkan sebanyak 2 kali sehari, maka penyakit polip, sinusitis, dan batuk akibat asap rokok akan sembuh (hal. 15). Atau, jika kita membacanya 7 kali setiap kita selesai shalat fardhu maka kita akan dijauhkan dari kesusahan dan dipermudah dalam mendapatkan rejeki; atau pula jika dibaca 40 kali setelah shalat lima waktu selama tujuh hari berturut-turut maka kita akan dilimpahkan kekayaan oleh Allah (hal. 14).

Sedangkan kandungan dari surat Al Insyirah ini, atau yang disebutkan oleh penulis buku ini sebagai Aurat Al Insyirah atau dalam bahasa Indonesia rahasia terdalam dari surat Al Insyirah yaitu ada lima hal. Yang pertama, surat ini menerangkan kepada tentang lapang dada. Yang dimaksud dengan lapang dada di sini bukan dalam arti fisik melainkan sebuah ungkapan bagi seseorang yang berjiwa besar. Atau lebih singkatnya dikatakan lapang dada untuk menerima kebenaran-kebenaran yang diberikan Allah seperti yang telah diterangkan di ayat pertama Surat Al Insyirah.

Yang kedua adalah tentang hilangnya beban. Artinya, setelah kita mampu berlapang dada terhadap segala hal yang terjadi pada diri kita, maka beban yang terasa akan hilang secara bersamaan. Karena keberadaan kesulitan, halangan, dan rintangan inilah yang merupakan beban hidup yang harus kita alami. Dengan demikan, mampu menghadapi kesulitan, halangan, dan rintangan sama halnya dengan mampu menghilangkan beban. Dengan kata lain, ketiadaan beban dalam hidup berarti hilangnya kesulitan, halangan, dan rintangan hingga tercapai apa yang menjadi tujuan (hal. 89).

Setelah kita mampu berlapang dada yang kemudian dilanjutan dengan hilangnya beban pada diri kita, maka kita akan mendapatkan sebuah citra yang baik, baik di hadapan Allah ataupun sesama manusia. Dan pencitraan atau tingginya nama kita inilah yang menjadi Aurat Al Insyirah yang ketiga. Artinya, surat yang terdiri dari delapan ayat tersebut mengajarkan kita bahwa sesuatu yang dilalui dengan lapang dada atau ikhlas akan berakibat baik pada diri kita dan citra kita di mata Allah dan sesama.

 Selanjutnya, Aurat Al Insyirah yang keempat, yaitu setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Ayat kelima dan keenam dalam syurat ini menerangkan bahwa setiap kesulitan ada kemudahan, artinya seberapa sulit hal yang kita hadapi pasti dibalik itu pasti ada kemudahan ataupun kegembiraan. Lebih singkatnya semua pasti ada hikmahnya. Di ayat yang kelima ini, secara tidak langsung mengajarkan kinta tentang konsep kehidupan Yassiru wa La Tuassiru (mempermudah suatu kesulitn bukan mempersulit).

Sedangkan Aurat yang kelima adalah Prinsip Istiqomah. Setelah empat Aurat di atas kita pun dituntut untuk Istiqomah dalam menjelankan keempatnya. Prinsip istiqomah ini juga mengajarkan kita untuk tidak menunda-nunda suatu pekerjaan untuk menjadi lebih baik. Prinsip istiqomah ini tidak hanya diterapkan untuk Aurat Al Insyirah saja. Melainkan pada setiap langkah hidup kita, terutama dalam hal kebaikan.

Dengan buku ini, sang penulis Taufiqurrahman Al Azizy sebenarnya ingin mengajak kita untuk mempelajari dan membaca Al Quran lebih mendalam, lebih mendatail untuk mendapatkan kandungan dan khasiat dari Al Quran. Terutama Surat Al Insyirah. Karena Al Quran merupakan panduan hidup umat Islam di seluruh dunia.

Hemat saya, buku ini sangat baik sekali bagi anda yang sangat menyukai hal-hal yang bersifat religius atau tentang amalan-amalan dan wiritan-wiritan. Karena di dalam buku juga dijelaskan tentang khasiat Surat Al Insyirah jika dalam jumlah tertentu. Sedangkan anda yang belum begitu mengenal kandungan surat Al Insyirah, maka buku ini sangat cocok untuk mempelajari tentang Al Insyirah secara mendetail. Selamat Membaca!


"Dimuat di Duta Masyarakat, Minggu, 19 Desember 2010


Saturday, 4 December 2010

Kampusku Lautan


Hujan yang mengguyur kota Surabaya selama hampir 24 jam sejak Kamis (2/12) sore hingga Jumat (3/12) malam membuat hampir seluruh kota Surabaya seperti lautan. Tak terkecual kampus tercinta IAIN Sunan Ampel. Kampusku tercinta pun ikutan banjir, meski tidak secara keseluruhan tapi banjir ini cukup mengganggu terutama bagi para penghuni bascamp yang terletak di Perumahan Dosen. Karena di sanalah daerah yang paring parah tergenang air di IAIN Sunan Ampel.


Tuesday, 23 November 2010

Memberantas ‘Buaya-Buaya’ di Indonesia

Masih ingatkah anda dengan julukan ‘buaya’ yang digunakan oleh KPK dan beberapa pihak lainnya setahun yang lalu untuk menunjukkan betapa bejatnya para koruptor dan mafia hukum di Negara kita ini? Tentunya masih ingat. Benar, julukan ini memang sudah jarang dipakai dan didengar lagi oleh kita. Tapi bukan berarti ‘buaya-buaya’ di Negara kita sudah punah. Tidak. ‘Buaya-buaya’ itu masih hidup dan berkembang biak dengan pesat.

Setahun lalu, julukan buaya diberikan kepada Anggodo Widjojo yang diduga menyuap petinggi KPK, Bibit Samat Riyanto dan Chandra M. Hamzah, anggota KPK. Dan sekarang ini, setelah beberapa waktu lalu kita mendengar dan membaca kabar bahwa Gayus Haloman Tambunan tersangka kasus mafia pajak yang saat ini tengah berstatus sebagai tahanan di Rutan Mako Brimob Depok masih sempat plesir bersama istrinya ke Bali dan menyaksikan pertandingan tenis Commonwealth Bank Tournament of Champions 2010 di Hotel Westin, tidak salah jika julukan ‘buaya’ kita sandangkan kepadanya.

Saat dikonfirmasi kebenaran tentang plesirannya ke Bali, ia mengakui bahwa itu dirinya dengan alasan dia sangat rindu kepada anak dan istrinya. Dia juga mengaku bahwa tahanan Rutan Mako Brimob tidak hanya dirinya saja yang bebas keluar masuk Rutan, tetapi juga ada lima orang lainnya yang lebih sering dan lebih dulu darinya. Dia juga mengaku tidak ada suap-menyuap antara dirinya dengan petugas Rutan (Radar Surabaya, 16 November 2010).

Lalu mari kita pikirkan, bisakah seorang tersangka mafia pajak yang ditahan di Rutan Mako Birimob bisa dengan bebas dan sesuka hati keluar masuk rutan jika memang tidak ada transaksi suap-menyuap. Saya yakin tidak. Karena tidak mungkin Rutan sekelas Rutan Mako Brimob yang dilengkapi dengan pengamanan berlapis bisa dengan mudah dikelabuhi oleh seorang Gayus yang notabene bukan seorang teroris atau anggota gengster.

Untuk kesekian kalinya penegakan hukum di Indonesia terbukti sangat lemah dan hanya berlaku untuk sebagian orang saja. Pembuktian bahwa hukum di Indonesia masih bisa ditukar dengan uang. Orang yang mempunyai banyak uang akan terbebas dari jeretan hukum.

‘Jual-Beli’ Hukum

Banyak orang menilai, terutama mereka kaum intelektual dan mahasiswa bahwa hukum Negara kita saat ini tak lebih dari sebuah barang saja. Siapa yang mampu membelinya maka dia akan memiliki dan menguasainya. Siapa yang mempunyai banyak uang untuk membeli hukum, maka orang itu akan bebas dari jeratan hukum.

Kasus jual-beli hukum ini tidak hanya terjadi pada Gayus saja. Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa banyak petinggi-petinggi Negara kita yang dengan leluasa bermain dengan hukum.

Satu bukti lagi yaitu pembebesan tersangka kasus korupsi penyelewengan dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) sebesar Rp 100 miliar pada 2003 yang melibatkan mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Aulia Tantowi Pohan. Aulia Pohan yang dinyatakan bebas sejak 18 Agustus 2010 menjadi topik panas di beberapa media.

Menurut anggota Komisi III bidang hukum DPR Bambang Soesatyo pembebesan seperti yang terjadi pada Aulia Pohan akan menyebabkan setback dalam pemberantasan korupsi (vivanews.com, 20 Agustus 2010). Karena dalam proses pembebasan tersebut ada peran Presidan SBY yang merupakan besan dari Aulia Pohan. Dan ketika sudah ada campur tangan Presiden SBY sudah barang tentu di dalamnya ada ‘transaksi jual-beli’ hukum meskipun hal itu tidak terang-terangan.

Transaksi seperti ini tidak hanya dilakukan oleh orang-orang atas atau pemerintah elit negeri ini saja. Tapi sering juga dilaksanakan oleh para pemerintah dan penegak hukum daerah juga. Hal ini pun semakin menguatkan bahwa hukum di negeri ini masih bisa ditukar dengan uang.

Nah, sampai saat ini ‘buaya-buaya’ di negeri ini belum bisa diberantas dan dibasmi sampai ke akar-akarnya. Para aparat penegak hukum dan KPK pun tidak mampu mengembang tugas ‘mulia’ itu dengan baik. Karena memang sebagian dari mereka termasuk dari ‘buaya-buaya’.

Menurut saya, melihat banyaknya para aparat hukum yang terlibat dalam kasus ini maka untuk menumpas dan mengungkapnya, seharusnya pemerintah tidak lagi membentuk tim penyelidik dari kalangan pemerintah sendiri atau pun aparat hukum yang ada. Melainkan pemerintah perlu mengimpor agen-agen FBI (Faderal Bareau of Investigation) dari Amerika yang memang sudah terbukti mampu menyelesaikan kasus-kasus besar.

Karena FBI merupakan agen intelejensi terbaik dunia yang sampai saat ini belum terbukti dalam menyelesaikan kasus-kasus, mereka tidak mementingkan diri mereka sendiri. Apalagi sebagian besar dari mereka merupakan orang-orang kaya yang mustahil melakukan tindakan korupsi dan transaksi suap-menyuap. Namun konsekuensinya, Negara harus mengeluarkan banyak uang untuk mendatangkan mereka dan ini lebih baik ketimbang uang rakyat masuk ke kantong pribadi pemerintah.

Akan tetapi semua itu kembali kepada Presiden, maukah beliau mengambil resiko itu. Mengingat seorang pemimpin tidak jauh beda dengan kepala manusia, jika kepala atau otaknya masih jernih dan baik, maka anggota tubuh yang lain juga ikut baik.


Sunday, 7 November 2010

Fragmen Kereta Kematian

Akhirnya aku kembali ke stasiun tua ini
Setelah satu abad lalu
Satu malam penuh aku di sini
Menungunggu kereta dari negeri antah berantah
Yang kan membawaku ke rumah Jibril

Dulu, saat aku duduk di sini sendiri
Bersama nyanyian sendu para pelacur
Kau datang padaku
Dan menarikku keluar dari gerbong kereta kematian
Yang sempat ingin ku naiki
Karena kereta yang kutunggu tak kunjung datang

Sambil mengajakku meninggalkan stasiun kumuh ini
Kau menceritakan banyak sekali kisah tentang
Detektif-detektif pintar dari negeri sakura
Juga tentang para pendaki semeru yang menyukai angka lima

Setelah mendengar semua itu
Kaupun melukiskan seribu awan merah jambu
Di langit imajiku
;begitu indah
Tak terlupakan

Namun, sejak dua purnama yang lalu
Kau pergi tanpa jejak
Tak ada selembar kabarpun tentangmu
Yang biasa kau kirimkan padaku lewat burung-burung
Pun tentang detektif pintar itu, tak pernah lagi
Kau kisahkan hidupnya padaku

Malam ini, di stasiun pertama kita bertemu
Aku duduk sendiri seperti dulu
Bersama secangkir kopi tinggal ampas
Ditemani para pengamen yang mulai terlelap
Dan para wanita pedagang dengan parfum menyengat

Di peron reot ini,
Tempat pertama kali kau memegang tanganku
Aku menanti sebuah kereta
Kereta warna hitam dengan bau kemenyan menyengat
Yang akan memebawaku ke tempat paling sunyi dan tenang

Tapi, jika kau datang padaku
Dan kembali mengajakku pulang
Aku akan ikut denganmu
Karena sebenarnya, aku ingin selalu di dekatmu
Mendengarkanmu bercerita
Melihatmu bermain tongkat dan bendera bergambar tunas kelapa

Malam ini, aku benar-benar mengharapkanmu
Datang ke tempat ini
Mencegahku masuk ke kereta
Menyeramkan itu

Pesma IAIN Sunan Ampel, Nopember 2010


Monday, 1 November 2010

REMBULAN DAN CAHAYA

Masih terngiang dengan jelas kata-katamu
Tentang rembulan yang ada di langit mimpimu
Dan selalu terangi gelap hatimu

Pernah ku bacakan syair surga untukmu
Yang ku dapatkan dari jibril sewindu yang lalu
Saat aku bertemu dengannya

;syair tentang majnun dan laila

Saat itu aku lihat sebuah cahaya merah muda
Di matamu
Begitu terang

Lalu saat kau tahu aku melihat
Cahaya itu
Kau menyembunyikannya di balik
Gunung nuranimu

Ku tanyakan padamu untuk siapa
Cahaya itu
“Ini untuk Rembulan”
Katamu sambil tersenyum padaku

Ah… betapa kau tak pernah melihat
Cahaya itu juga ada di mataku
Yang selalu ku peruntukkan padamu

LPM Solidaritas, Nopember 2010